Ajining Diri

KATA-KATA memiliki kekuatan ketika orang mampu menyusunnya dengan cara yang menarik perhatian pikiran dan menyentuh perasaan. Karenanya orang-orang arif sering menasihati agar kita berhati-hati dengan kata. Nabi bahkan bersabda, “berkata baik, atau diam.”

Continue reading “Ajining Diri”

Advertisements

Keruntuhan Akhlak

20181119_055258_0001

RENUNGAN habis ngangsu kawruh Ihya’ ke mas Ulil Abshar Abdalla.

Saya sebenarnya takut jika mengaji Ihya’. Karena, kalau kita mengaji teks Ihya ke orang yang sudah memahami dan mengamalkannya, itu membuat kita serasa menghadapi diri sendiri dengan cara blak-blakan dan jujur. Imam al-Ghazali selalu berhasil menunjukkan bagaimana keruntuhan akhlak itu justru datang dari dalam diri sendiri — implosion kalau istilah enggres dari mas Ulil.

Ketika mas Ulil menjelaskan keruntuhan akhlak, saya teringat pada dua hal. Sebuah hadis yang kerap dikutip Sufi dan penjelasan guru saya. Dikatakan secara garis besar dunia dan seisinya terlaknat kecuali orang mengisinya dengan, salah satunya, zikrullah.

Saya tahu artinya tapi tidak paham maknanya. Ketika ngaji ke guru saya, perlahan-lahan saya mulai sedikit paham, walau tentu saja boleh jadi pemahaman saya masih salah mengenai terlaknatnya dunia. Lalu apa hubungannya dengan keruntuhan akhlak.

Kalau dijelaskan mungkin panjang. Tetapi guru saya pernah memberi contoh hipotetik yang ekstrem. Saya diingatkan contoh ini oleh teman seperjalaman saya  denmas Picuz

Idealnya, orang beriman selalu ingat Allah dalam apapun kegiatan sehari-hari di dunia. Mau makan baca bismillah, duduk baca bismillah dan seterusnya. Bahkan saat terbetik keinginan dalam diri kita, seharusnya kita langsung ingat Allah. Contoh guru saya menarik sekali. Misal saya sedang santai dengerin lagu. Tiba-tiba saya ingin ke dapur. Munculnya “keinginan pertama” ke dapur ini dan ingatan kita ke Allah boleh jadi akan menentukan apakah akhlak kita akan rusak atau tidak pada momen temporer di seputar keinginan.

Kembali ke contoh saya ingin ke dapur. Saat muncul keinginan itu saya lalai atau tidak ingat Allah. Begitu saya ke dapur saya mendapati kompor menyala dengan panci air yang hampir gosong. Rupanya istri saya tadi masak air lalu lupa dan tertidur. Maka saya matikan lalu jengkel. Saya bangunkan istri dan sambil jengkel saya mengomeli istri. “Kalau masak itu jangan ditinggal. Tuh pancinya gosong. Gimana kalo terbakar? Gimana kalau kompor meledak? Bla bla bla …” dengan nada menyalahkan istri.

Dalam skenario hipotetis alternatif— saat terbetik keinginan ke dapur saya langsung ingat Allah, lalu dalam hati berdoa, “Ya Allah saya ingin ke dapur, jagalah langkahku dan hatiku agar tidak berpaling dariMu dan beri hamba hikmah dari keinginanku ini jika keinginan itu datang dariMu. Jika datang dari nafsuku maka ampunilah aku dan jagalah hatiku agar tidak masuk dalam golongan orang yang lalai kepadaMu.” Lalu saya masuk dapur dan mendapati kompor menyala dengan panci gosong. Saat itulah saya langsung bersyukur bahwa Allah telah munculkan keinginan di hati dan memperjalankan saya ke dapur untuk menyelamatkan saya sekeluarga dari bahaya kebakaran.

Dalam kasus pertama, saat saya khawatir lalu jengkel dan mengomeli istri, apa yang sesungguhnya terjadi pada batin saya? Saya mengkhawatirkan dunia: kalo kompor rusak gimana? Panci gosong kudu beli lagi. Kalo kebakaran rumah gimana? Jadi saya ngomel dengan membicarakan segala hal tentang dunia saja. Allah saya lupakan. Itu berarti hati saya memandang dunia sehingga yang naik pada saat itu adalah amarah, sifat tamak karena khawatir barang rusak, dan seterusnya.

Dalam kasus kedua, yang muncul adalah rasa syukur bahwa Allah masih berkenan menitipkan amanah harta berupa kompor panci dan lain-lain sehingga Dia melindungi harta yang dititipkan kepada saya dengan memunculkan keinginan di hati untuk pergi ke dapur. Dunia lalu tidak tampak atau tak jadi fokus kita — kita lebih fokus pada Allah dan kasih sayang dan pertolongan serta petunjukNya hingga kita sadar betul bahwa kita ini aslinya memang ga bisa apa-apa dan tergantung padaNya. Di sini seakan ada samar-samar tanda dari ayat “ke manapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah.” Dalam konteks ini Wajah kasih Sayang, Mahamelindungi dan Mahamemberi petunjuk.

Dua contoh hipotetik ini menunjukkan bahwar memang benar keruntuhan akhlak itu datang dari dalam. Barangkali karena kita tidak berlatih berbuat kebaikan, dalam kasus ini tidak berlatih membiasakan diri mengingat Allah sehingga hati selalu memandang dunia. Konsekuensinya kita terperangkap oleh amarah dan menyebabkan melukai perasaan istri dengan kata-kata kasar sambil menyalah-nyalahkan. Kalau hal seperti ini diulang-ulang tentu akan jadi kebiasaan buruk hati dan perbuatan.

Dalam kasus kedua, kita tidak marah namun bersyukur. Efek lanjutannya adalah kita tidak akan mengomeli dan menyalahkan istri. Maka boleh jadi kemudian kita akan mengajak istri bicara dengan lembut soal lupa masak air ini tanpa ad unsur amarah dan keinginan menyalahkan. Jadinya adalah nasihat yang baik dan kata-kata yang lebih ramah bahkan bisa dengan canda.

Bayangkan apa yang mungkin terjadi kalau kondisi batin ini kita bawa ke skala yang lebih luas — saat bekerja, berinteraksi sosial, dan seterusnya?

Apa yang berlangsung di hati memang ajaib dan bisa menimbulkan keajaiban. Kita harus selalu ingat Allah minimal karena alasan ini. Mengingat Allah akan melatih kita untuk jujur pada diri. Hingga pada titik tertentu Allah sendiri yang akan menunjukkan apakah yang bergerak atau tergerak dalam batin itu datang dari al Haq atau hawa nafsu?

Wa Allahu a’lam

Musibah

IMG_20181027_145922_585

Kematian itu pasti. Tetapi kita tak pernah tahu apa yang terjadi dengan diri kita setelah mati. Kita tidak tahu apakah betul amal kita diterima, apakah nanti kita sengsara atau tidak (bagi yang percaya Tuhan itu ada). Orang yang percaya adanya akhirat tentu akan hati-hati dalam menjalani hidup. Kita hampir tiap hari mendengar kabar orang mati, bahkan sesekali melihat kematian lewat sakit, bencana alam, perang dan sebagainya. Lalu kita kadang bertanya, kelak dengan cara bagaimana kita mati? Ke mana kita pergi? Continue reading “Musibah”

Kalimat Tauhid

1732801_304c64be-77a5-4e49-a2d0-2e2e652d0392_1191_1191

Nabi bersabda, “sebaik-baik zikir adalah Laa ilaha illa Allah.” Kalimat ini adalah bagian pertama dari dua syahadat. Kalimat yang biasa diterjemahkan “tiada Tuhan selain Allah” mengandung dua pengertian yang tampak bertentangan. Melalui kalimat ini, Muslim menolak gagasan tentang ketuhanan (menurut akal pikiran) sekaligus menolak gagasan bahwa Tuhan merupakan satu spesies atau definisi. Bagian awal, la ilaha, tidak ada ilah, adalah nafi’ – penyangkalan bahwa tidak ada ilah atau sesembahan, yakni ilah tidak bisa dimasukkan dalam kategori apapun dalam batas pengetahuan manusia karena ilah dalam konteks ssuatu yang kita sembah, menurut definisi agama, adalah sesuatu yang tiada batas. Yang terbatas (manusia) mustahil memiliki gagasan lengkap tentang Yang Tidak Ada Batasnya (Tuhan). Continue reading “Kalimat Tauhid”

Hikmah Basmalah

20181021_223109_0001

BISMILLAH AR RAHMAN AR RAHIM

Nabi meminta kita mengawali pekerjaan atau perbuatan dengan kalimat basmalah. Secara umum ahli tafsir menerjemahkan bismillah adalah “dengan menyebut nama Allah.” Jadi kita, misalnya hendak minum, kita menyatakan bahwa tindakan minum ini kita lakukan dengan mengingat Allah. Apanya yang diingat? Yaitu mengingat bahwa apapun yang kita lakukan hakikatnya selalu “beserta Allah” karena kita dipinjami kemampuan untuk bergerak mengambil segelas air, meneguknya. Ini berarti mengakui bahwa hakikatnya kita tidak mampu, tetapi Allah memampukan kita. Continue reading “Hikmah Basmalah”