Dzalim 

Manusia modern sebagian tanpa sadar gagal “mendirikan dirinya sendiri.” Orang mendefinisikan diri berdasar atribut eksternal dan pandangan orang lain. Orang semacam ini, meski tahu bahwa Tuhan tidak peduli pada atribut artifisial — kekayaan, ketampanan, penampilan, dan semacamnya — namun mereka tetap gelisah ketika diri merasa tidak diterima dalam pandangan orang lain. Kita lantas berusaha tampil baik hanya agar orang lain terpesona atau memuji kita.

Dalam domain religi, mereka justru bisa bertambah resah dan bahkan mudah marah ketika apa yang diyakininya tidak disepakati apalagi ditentang oleh orang lain. Dalam kasus yang agak lebay, seorang yang religius setiap hari menyalahkan orang lain untuk menunjukkan dirinyalah yang benar. Misal terbaru yang baru saja ramai :  Saking kepinginnya untuk merasa diri benar, bahkan sosok parodi yang fokusnya bikin meme sindiran dan nyinyiran dan memang bukan ustadz pun dia salah-salahkan dan goblok-goblokkan, seolah-olah sosok-sosok parodi itu adalah teladan umat sehingga pengaruhnya bisa menghancurkan alam seisinya. Kalau orang mau berpikir sedikit saja, dan menengok fanspagenya, jelas dia memang bukan ulama, isinya hanya sindiran dan nyinyiran, sering kasar, dan yang ikut komentarpun cuma nambahin adu nyinyiran, olok-olok, atau yang lucu-lucu.

Hidup orang yang mudah merasa  terancam oleh apapun yang tidak berkenan di hatinya akan  jadi terlalu waspada, serius, mudah marah. Saat dia marah-marah, objek yang dimarahi mungkin sedang tertawa geli ketika sebagian orang percaya bahwa dirinya adalah ustadz atau ahli agama. Mereka dipermainkan oleh pikirannya sendiri yang selalu menengok keluar, sehingga jarang menengok ke dalam diri, untuk melihat bahwa sudah begitu lama diri dipermainkan oleh pikiran, prasangka, kebencian, dan muslihat-muslihat nafsu yang sangat sulit dilihat kecuali orang mau selalu muhasabah atau mawas diri. Jika jumlah diri yang mudah dipermainkan oleh dirinya sendiri begitu banyak, maka lahirlah perpecahan dan saling olok dan maki. Yang kaum A menggoblokkan kaum B. Yang kaum B menggoblokkan kaum A. Tidak ada yang mau kalah atau setidaknya menahan diri.

Jadi orang dengan diri yang ditipu diri menyebabkan orang itu hidup gampang marah, gampang curiga, gampang tersinggung. Bukankah rasa marah itu tidak enak? Bukankah dicaci maki itu tidak enak, tetapi mengapa tetap saling adu cacian dan adu goblok-goblokan jika itu hanya menguatkan nafs amarah dan lawwamah? Jadi siapa yang menganiaya hati kita sehingga mudah terluka hanya oleh perbedaan dan provokasi?

… inni kuntu minaddzalimin…
Allah tidak menganiaya, kita sendirilah yang asik bermain dengan nafs rendah kita yang memang menjadi alat ego dan setan untuk menganiaya diri. Kitalah yang menganiaya diri sendiri.

Maulana telah mengingatkan fenomena ini hampir 900 tahun lalu:  Leave this play, you have play enough.

Tetapi manusia enggan belajar mengambil hikmah sejarah. Maka manusia harus mengulang apa yang telah terjadi di masa lalu. Sejak zaman fitnah kubro, kita terus bertikai, bahkan sampai sekarang. Mengapa tidak  mau mengambil pelajaran dari sejarah, dari bisikan nurani, dan dari pelajaran tentang kelembutan dan kasih sayang  dari Tuhan yang diejawantahkan dalam kelahiran bayi-bayi yang indah dipandang, anak-anak kecil yang polos dan riang, ibu-ibu dan bapak-bapak yang berjuang dan susah payah demi  nafkah keluarga, orang tua yang khusyuk dalam menanti panggilan ilahi.

Kita mencaci maki dan menggoblokkan hari ini, dan barangkali hidup kita tetap  baik-baik saja. Namun benih telah ditanam. Boleh jadi kita bukan yang memetik karena kita keburu mati: anak cucu kita yang akan merasakan buah dari kebencian yang kita tanam hari ini. Apakah kita tega jika anak anak.kita yang sama-sama beriman saling bunuh karena memanen pertikaian yang kita tanam dan tumbuhsuburkan hari ini?

SUBHANAKA INNI KUNTU MINADDZALIMIN
Mahasuci Engkau ya Allah. Sesungguhnya kami adalah orang-orang dzalim, mendzalimi orang lain, diri sendiri, dan bahkan mendzalimi anak cucu kami melalui tingkah laku kami. 

🙏

Advertisements

Cara Ngrusak Amal

​Ada banyak cara untuk merusak atau minimal menciderai amal kebaikan. Orang beriman biasanya sudah tahu apa saja hal-hal yang merusak amal itu menurut beberapa dawuh kanjeng nabi. Namun mungkin banyak yang kurang memperhatikan bahwa hal-hal yang membahayakan amal saleh itu justru kebanyakan berada dalam wilayah yang amat sulit dilihat.
Contoh paling gampang adalah ujub dan sum’ah. Orang tentu cenderung malu jika pamer solat tahajud, misalnya. Malu ini bisa karena takut ibadah tidak diterima Allah karena riya’; atau karena takut citranya sebagai orang saleh di mata orang menjadi rusak. Godaan ujub dan sum’ah amat kuat di antara kedua kondisi ini. Kondisi batin kita yang akan menentukan ke mana pergerakan rasa dan perasaan di hati itu bergerak. Tipuan ini halus sekali dan tidak tampak parameternya. Oleh sebab itu orang yang awas pada pergerakan nafs nya tidak akan berani mengklaim bisa memastikan ibadahnya diterima. 
Itu baru satu contoh. Banyak muslihat nafs yang jauh lebih sublim yang merusak atau menurunkan kualitas amal. 
Nafs dan iblis mengganggu kemurnian amal ini dalam wilayah batin itu, sehingga banyak yang tak menyadarinya. Iblis tak perlu mendorong orang tidak sholat misalnya. Ia cukup menanamkan sifat dan sikap yang merusak.amal — misal sombong, merasa sudah lebih suci, benci, dusta, dan terutama lalai. Lalai ini semacam benih  kerusakan. Jangan heran jika ada yang rajin solat.misalnya, tapi juga rajin mencaci maki, marah-marah, menghina orang lain yang tidak mau ikut pendapatnya atau bahkan berdusta. Orang yang lalai selalu punya justifikasi  untuk membenarkan tindakannya yang bertentangan  dengan ajaran akhlak lahir maupun batin. Bayangkan begini: seseorang yang paham agama selalu mengajak istighfar, namun pada saat yang sama ia mengawetkan kebencian dan amarahnya dan menggunakan ilmu agamanya untuk menjustifikasi kebencian itu yang ia wujudkan dalam bentuk umpatan, hinaan, dusta bahkan fitnah. Karena justifikasinya didasarkan pada ilmu, ia menjadi tak merasa bersalah atau berdosa saat menganggap diri lebih suci dan merasa berhak memaki dan membenci setiap hari. Jadinya ia menggunakan pengetahuannya tentang dalil ancaman  perbuatan buruk lahir-batin untuk “ditamparkan” ke orang lain dan dalil kebaikan untuk diri dan kelompoknya demi menjaga rasa bangga bahwa golongan mereka sajalah yang benar. 
Jadi semua itu bermula dari wilayah yang tak kasat mata: hati, akal pikiran, nafsu. Orang yang lalai menjaga wilayah itu akan mudah tertipu oleh dirinya sendiri dan berpotensi jatuh ke dalam  kesalahan atau lebih sibuk mencari atau melihat cacat dan kekurangan liyan ketimbang dirinya sendiri. Itu sebabnya mawas diri itu penting; dan mawas diri adalah efek dari muhasabah, muraqabah dan tafakur. Orang yang bisa begitu akan menjadi seperti yang dikatakan kanjeng nabi sebagai orang yang beruntung.
Sayangnya, media sosial menggoda orang untuk lebih mawas ke orang lain ketimbang mawas diri. 

Wa Allahu a’lam

Pudarnya Empati di Medsos 

 

| Kadang netizen lupa bahwa di balik sebuah akun medsos ada manusia. Dalam berinteraksi terkadang netizen seakan merasa berhadapan dengan semacam robot media sehingga seringkali netizen, terutama yang hobi  mempertengkarkan sembarang kalir, mudah menulis sesuatu yang menyakiti hati. Mereka mampu menuliskan cemoohan yang tidak akan berani mereka lontarkan di dunia nyata atau saat berhadapan langsung — sebab mulutnya bisa disampluk wajan. 

Algoritma FB memungkinkan orang hidup dalam imajinasi merasa selalu benar. Sistem FB menghadirkan tulisan akun² yang sering berinteraksi dengan kita di beranda. Sialnya, dalam pertengkaran politik dan agama, kita cenderung hanya mau berkomentar dan saling memuji atau ikut dalam bandwagon of hatespeech yang sepaham dengan kita karena kita hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengar. 
Kalau ada komentar berbeda di status kita, kita akan marah. Dalam kasus ekstrem kita menghapus komentarnya atau memblokir, walaupun komentar itu ada benarnya atau cuma bertanya. Polarisasi jadinya makin mengeras.
Salah satu akibatnya adalah rasa empati makin susut. Misal, kalau kita menulis komentar yang kasar dan mengejek atau menghina dengan tujuan sengaja menyakiti, atau tak sengaja menyakiti, lalu orang yang jadi sasaran komentar kita marah, kita bukannya minta maaf namun malah menyalahkan atau mencibir: “Makanya jadi orang jangan baper!” “Kalo ga mau dikomentarin gausah main medsos. Goblok jangan dipelihara!” Dan cibiran² yang semacam itu.
Perlahan tapi pasti, kita semakin tak peka terhadap perasaan liyan, karena kita selalu dalam posisi merasa pendapatku lebih benar, hingga lupa sudah berapa banyak hati yang chellalu quchakity, berapa banyak fitnah, hoax dan kabar sumir yang hasud yang telah kita sebar yang menyebabkan perpecahan. Kita suka dan menikmati perpecahan akibat  banyak hati yang t3rchakitty chellalu oleh apa yang kita bagikan. Kita puas jika orang lain merasa marah dan malu. Dan kita tetap tak merasa bersalah apalagi menyesali diri karena kita selalu muncul di medsos dalam bandwagon yang sama. 
Lama-lama kita mirip humandroid, manusia android. Seperti yang diisyaratkan dalam film Blade Runer, android tak punya dan tak kan pernah punya elemen yang membuat hidup manusia itu sakral dan berharga: empati.
Tanpa empati, akhlak akan mudah menguap. Kurasa kita makin mengerti dawuh kanjeng nabi yang, sialnya, kerap hilang dari ingatan saat kita masuk medsos untuk berkelahi, saling nyinyir dan memaki: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

Santri Medsos


Hari Santri Nasional. Konon disertai dengan  semilyar shalawat.  Orang yang biasa bershalawat akan adem jiwanya, jernih pikirannya, tidak lekas marah, lembut hati dan perkataannya, hatinya welas asih karena cenderung pada keinginan berbagi keberkahan dan rahmat yang dirasakannya, bukan berbagi laknat. Kalau pun marah, amarahnya telah disaring sehingga yang keluar bukan umpatan, hinaan, caci-maki, ejekan. Kalau pun berbeda pendapat, akal dan pikirannya akan melihat dengan jernih perbedaan itu, hatinya mengawasi nafsu amarah dan sombong yang bisa ikut campur dan menyebabkan munculnya rasa  sok tahu  dan sok paling benar  —  sehingga perkataan yang muncul adalah hasil pemikiran yang ditujukan pada membantah  pendapat, bukan menyerang orangnya dengan kata kasar, caci maki, prasangka buruk, dan tuduhan  keji tanpa dasar dan bukti yang kuat

Santri yang rajin bershalawat demi mendapat syafaat dan, syukur-syukur,  dicintai Rasul, pasti tahu faedah dan berkah bershalawat seperti itu. Mereka juga tahu bahwa walau sudah rajin bershalawat, mereka tidak bisa menjamin  pengakuan cintanya pada kanjeng Nabi akan diterima; mereka yang rendah hati tahu bahwa klaim cintanya belum tentu dibalas. Bagaimana jadinya bila mengaku cinta namun melakukan tindakan yang tidak disukai kanjeng nabi, seperti caci maki dan berkata kasar menghina orang lain dengan brutal, memfitnah, dusta? Apakah dijamin diterima cinta kita?

 Santri tentu paham prinsip di atas karena mereka kemungkinan besar telah diajari bagaimana  menempatkan perbuatan, ucapan, pikiran, dan hati dihadapan sesama manusia sekaligus di hadapan Tuhan Yang Maha Melihat dan Maha Adil dan Maha Teliti dalam menimbang amal hambaNya.

Namun ada yang terasa aneh di medsos. Di platform ini kita bisa melihat akun-akun yang mengaku santri atau setidaknya mengaku orang beriman seperti lepas kendali. Mereka seperti tidak bisa menahan diri. Baca saja di kolom komentar kata-kata yang ditulis bukan dalam konteks bercanda tapi benar-benar untuk memaki dan menghina: ndhasmu! Congormu! Tai asu! Cocootmu asu! Bacot sampah! Belum lagi gambar meme meme yang penuh hinaan, fitnah dan plintiran. Dan itu disebar dengan iringan komentar  gembira karena bisa mengejek. Anehnya, yang melakukan itu juga termasuk  orang-orang yang beriman kepada rasul dan Allah.

Tampaknya  “gorengane” wis mateng. Santri dan orang beriman akan semakin sering bertengkar dengn sesama orang beriman  sebab makin malas berpikir jernih dan lebih suka marah-marah. Jika dikritik agar jangan lekas marah, mereka justru menyalahkan pihak lain yang membuat dirinya marah-marah, padahal apa yang sesungguhnya membuatnya marah belum tentu seperti yang dipikirkan atau dibayangkannya. 

Apakah karena makin malas membaca dan berpikir panjang,  dan karena di medsos tidak berhadapan langsung, maka orang-orang membuang adab sebagai orang beriman sehingga yang  tampak  di mata orang di luar  adalah semacam tindakan massal saling menghina dan mengumpat, merusak sopan santun   dan martabat kemanusiaan,  demi surga?

Seorang teman menjauhi agama karena alasan tersebut. Dia bilang,  “di medsos, aku melihat bagaimana orang yang makin tampak beriman dan bertakwa malah semakin sadis dan brutal perkataannya kepada sesama orang beriman yang tidak disukainya. Apakah agamamu membolehkan hal itu?” Tentu aku jawab tidak. Ia tersenyum, “Jika tak boleh, mengapa makin banyak yang melakukan  itu beramai-ramai, setidaknya di medsos?” Aku  mencoba membantah “Ah itu karena ada pihak luar yang ingin mengadu domba.” Dia tertawa, “Jika sudah tahu, kenapa kalian mau.saja diadu domba? Kenapa kalian malah senang saling mengumpat dan berkelahi? Saya kira, hanya orang yang malas berpikir dan mudah marah yang rela dan senang diadu domba, dipecah belah, dibuat selalu bermusuhan. Jadi sebenarnya agamamu itu mengajarkan apa?”

Saya tidak ingin menceritakan lanjutan dialog yang penuh kritik terhadap perbuatan dan perkataan orang beriman ini, karena saya khawatir nanti orang beriman akan marah-marah. Sebab seringkali orang merasa mengkritik pendapat orang dianggap sama dengan mengkritik agama. 😉

Dari dialog itu saya hanya berpikir sederhana dan mengingat lagi ajaran guru ngaji saya di zaman saya masih sekolah:

 Yang masih percaya ada akhirat dan yaumul hisaab, bagi yang percaya bahwa  laku hidup akan terus berjalan sesudah mati,  maka menahan diri adalah hal yang lebih baik. Karena kita yang beriman tahu bahwa segala pikiran, ucapan/tulisan, perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. 

Jika masih percaya Tuhan Maha Adil, hati² dengan  diri sendiri adalah lebih baik. Sesudah mati kita menghadapi setidaknya dua sidang. Sesudah mati, akan diadili pikiran, ucapan dan perbuatan yang berkaitan dgn hablum minallaah. Lalu di mahsyar, akan diadili pikiran, ucapan dan perbuatan yang berhubungan dengan hablum minannas.

 Itulah sebabnya, dawuh kanjeng nabi, akan ada orang yang bangkrut di akhirat. Amal ibadah vertikalnya bagus, tetapi kepada sesama manusia sering dusta, dengki, hasut, fitnah, umpat, mencela dll. Maka bisa habis amalnya. 

Gusti mboten sare. Bagi yang percaya, itu sudah cukup untuk menahan diri. Bagi yang tidak percaya, ia akan menghalalkan segala cara. 

Orang akan mati. Tubuhnya dimakan belatung. Apa yg tersisa? Duit? Kekuasaan? Kesenangan dunia? Bagi yang percaya, yang perlu dijaga dan diperjuangkan sekuat-kuatnya adalah yang akan dibawa mati. Maka perlu bertanya, apakah amal ibadahku bercampur dusta, fitnah, benci, menyakiti liyan dll? Itu semua akan diadili. Tuhan Maha Teliti. Bagi yang percaya, ini sudah cukup untuk berusaha menahan lisan dan perbuatan dari menghina dan menyakiti sesama. 

Kalo mengaku percaya Tuhan Maha Adil dan Teliti, mengapa masih berani berdusta, mencaci maki dan memfitnah? Kalo mengaku percaya pada Tuhan Yang Maha Melihat bahkan ke niat yang disembunyikan, mengapa masih berani berniat jahat dan keji? Jika mengaku yakin firmanNya benar, mengapa masih berani mengumpat kasar padahal  Dia berfirman “celakalah bagi orang yg mengumpat dan mencela?” Jika mengaku semua hanya titipan, mengapa mati-matian berebut titipan dengan cara cara yang jelas Dia larang melalui kalamNya di kitabNya dan melalui ajaran rasul?

Kini aku bertanya-tanya:  santri medsos ini percaya pada apa atau siapa?

Kebencian dan Penghinaan 

Mbak Lisa dan ayahnya, alm Gus Dur, Allahu yarhamhu, baru-baru ini  dihina di medsos dengan kasar hanya karena perbedaan sikap. Membaca komentar penghinaan terhadap beliau berdua di Instagram menurut seorang netizen bagaikan membaca tulisan “bukan manusia.” 
Saya selalu dan tiada bosan menulis keprihatinan tentang kebencian sebab efeknya sungguh berbahaya. Dari yang paling kasar sampai yang paling halus. Ada orang-orang, yang menyimpan rasa benci karena berbagai alasan selama bertahun-tahun, dan setiap hari  selalu mengabarkan kebenciannya di medsos, entah melalui tulisan, share berita hoax atau hasutan dari sumber yang juga tidak jelas, ramai-ramai ikut merayakan kebencian melalui komentar dan sebagainya. 
Mereka seperti tidak peduli bahwa apa yang dilakukannya merusak hati sendiri dan orang lain. Mereka gembira jika melihat yang dibencinya salah atau celaka, atau mencari-cari kesalahan jika yang dibencinya berbuat baik dan benar.
Tema ini terus berulang selama bertahun-tahun. Kadang ada yang sampai letih karena muak dengan sebaran kebencian yang demikian massif, seakan-akan kebencian dan amarah tak hendak berhenti sampai negeri ini bertikai sesama manusia dan sesama orang beriman hingga hancur seperti Syria  atau Rohingya atau di tempat lain yang hancur lebur kondisi fisik dan martabat kemanusiaannya. 
Tetapi kita tidak boleh berhenti berharap. Masih banyak yang melawan kebencian itu dengan berbagai cara: dengan nasihat, membongkar  berita hoax yang memprovokasi,  dengan pendidikan, dan sebagainya. Setiap orang punya peran masing-masing. Dan jika orang mengaku Islam, mestinya sadar bahwa apapun yang kita lakukan, bahkan kebencian yang disembunyikan dengan rapat dalam niat dan bahasa santun sekalipun, akan diketahui oleh Tuhan.
Kini, jika ancaman neraka pun tak membuat orang beriman takut membenci, memfitnah, mengadu domba, mencaci maki, maka tidak heran jika makin banyak yang enggan mengikuti jalan agama. Para pembenci dan pemfitnah serta pengadu domba secara tidak langsung mengajak orang-orang masuk neraka bersama-sama. Apakah itu yang diinginkan Nabi kita? 
Quran tak pernah mengajarkan kebencian membabi-buta, fitnah, dusta,  hasut dan perpecahan. Manusianyalah yang melakukannya dengan sadar. Apakah mereka sudah tak percaya lagi pada kitab suci? 
Tidak usah dijawab. Kita tanya pada diri sendiri dan jujur pada diri sendiri. Itu salah satu cara untuk muhasabah. Bertanya dan jujur pada diri sendiri berarti introspeksi dengan tiga saksi yang tak mungkin berdusta di akhirat: diri kita sendiri, malaikat pencatat, dan Allah Yang Mahamengetahui lagi Mahateliti.
Jika ketiga saksi inipun tak bisa membuat kita gentar untuk berbuat fitnah dan dusta, mengejek, mencela dan mengumpat demi lampiasan kebencian, maka dengan cara apalagi kita bisa membersihkan diri agar pantas marak sowan ke Gusti Allah Kang Mahasuci?
Wa Allahu a’lam bi muradihi.