Gandrung : Refleksi Atas Sajak Cinta Gus Mus 

Aku bersaksi / Tiada kekasih /
Kecuali kau

Para pecinta Tuhan menempatkan keindahan dan kebaikan ciptan-Nya dalam Jamaliyah-Nya. Bahkan Jalaliyah-Nya juga dilihat dan dirasakan dalam keindahan yang menggetarkan. Oleh karenanya Nabi pernah berkata “man nazhara ila syai’in wa lam yarallaha fihi fahuwa bathilun” (Siapa yang memandang sesuatu namun ia tak ‘melihat’ Allah di dalamnya, maka dia sia-sia).

Muhyiddin Ibn Arabi menyatakan bahwa manifestasi Jamaliyah-Nya yang lengkap ada pada wanita. Karenanya ketika pecinta Tuhan merasakan kerinduan dan cinta, ungkapannya selalu dihubungkan dengan kualitas feminin: wanita, kelembutan, kasih sayang, kecantikan, keibuan, dan seterusnya.

Sajak-sajak cinta Gus Mus dalam konteks tertentu bisa ditafsirkan tak sekadar berhenti pada asmara wanita dan pria. Sajak cinta religi memang untaian kata. Tetapi sajak biasanya bersifat simbolik. Ada “rasa” (dzauq), rasa-pangrasa, yang tak bisa dibagikan begitu saja melalui teks. Karenanya sajak religi menjadi ekspresi simbolik atas rasa yang hakikatnya tak tertampung kata-kata, sebab rasa itu berkaitan dengan keindahan dan kelembutan Ilahiyah.

Sebagai kyai yang telah belajar dan mengamalkan ajaran Islam sejak kecil di bawah bimbingan kyai-kyai sepuh dan para kekasih Allah, dan bahkan tak pernah berhenti belajar mencintai hingga kini, beliau menyampaikan pesan cinta sufistik yang halus dengan bahasa sederhana namun elok. Abdul Wachid secara metaforis  menyebutkan bahwa contoh paling jelas tentang tenggelamnya  sang kyai  dalam keindahan dan keagungan ilahiah, adalah saat ia melihat “wanita yang cantik sekali di Multazam.”

Sajak-sajak cinta Gus Mus memang mengharukan. Kita bisa merasakan bagaimana sajak cintanya kepada (alm) istrinya, yang menggetarkan hati itu bisa kita rasakan ada makna yang melampaui kata-kata — sebuah cinta kepada Tuhan yang dimanifestasikan dalam cinta tulus kepada kekasih yang dicintainya hingga akhir hayat: Bu Nyai Fatma.

— aku adalah wangi bungamu / Luka berdarahdarah durimu / Semilir sampai badai anginmu

Dengan sajak cinta dan kesetiaannya kepada kemanusiaan, juga kesetiaan kepada pendamping hidupnya, Gus Mus mengajarkan apa makna mencintai Tuhan bagi kehidupan. Beliau seolah mengatakan idealnya manusia mencintai Tuhan sebab dari rasa cinta semacam ini akan lahir cinta yang melimpah ke ciptaan-Nya. Sufi mengatakan dunia seisinya diciptakan dan digerakkan oleh Cinta. Karenanya tugas manusia sebenarnya bukan mencari cinta sebab itu sudah ada dalam sifat-sifat-Nya yang tajalli-Nya ada di mana-mana — tugas manusia, menurut Rumi, adalah menghilangkan penghalang yang menabiri kita dengan Tuhan, agar kita bisa memandang segala sesuatu dari penglihatan belas kasih sayang. Bukankah Nabi sendiri dipuji oleh Allah karena beliau “teramat besar belas-kasih sayangnya kepada umatnya.”

Membaca Gus Mus membuatku ingin meminjam bait-bait sajak beliau tentang perasaanku kepada beliau:

— Perkenan aku mencintaimu, sebisaku.

 

Gandrung: Hadiah dari Gus Mus 

Tutuk dan Tutug

mulut

Orang Jawa menyebut mulut dengan bahasa krama madya sebagai tutuk. Sebab ada harapan bahwa apa yang disampaikan oleh tutuk itu tutug, yang bermakna sampai ke ujung tujuan akhir dan tepat sasaran. Tutug dibedakan dari “tekan” (yang juga berarti sampai) karena tekan tidak mesti tutug, yakni belum sampai ke ujung tujuan. Bahasa Jawa memang begitu, “ngemu rasa,” memuat intensitas rasa dan perasaan, yang kadang sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Continue reading “Tutuk dan Tutug”

Pelajaran Secara Misterius

Kadang-kadang ada masa aneh bagi sebagian orang dalam mempelajari agama dari segi keruhaniannya, yakni saat seseorang lancar berbicara sesuatu yang belum pernah terpikirkannya secara penuh. Si pembicara bahkan belakangan agak bingung dan bertanya-tanya: mengapa aku tadi bisa berbicara seperti itu?
Dalam perbincangan dari hati ke hati antar dua orang, misalnya, terkadang tercipta semacam ‘chemistry’ yang aneh. Tanpa ada rencana, mendadak salah satu pihak bisa berbicara panjang lebar tentang suatu topik yang sangat mengena di hati pendengarnya. Tentu umumnya kita akan berpikir bahwa si pembicara ini lebih paham ketimbang pendengar dalam masalah yang dibicarakan itu. Tetapi tidak jarang kasusnya tidak begitu. Yang terjadi sebaliknya: si pendengar justru sudah lebih dahulu memahami topik tersebut, namun ia belum menyadarinya. Maka Tuhan menjernihkan pemahaman si pendengar ke dalam kesadaran dan akal-pikirannya melalui lidah si pembicara. Ini berarti pula bahwa si pendengar itu juga mengajari si pembicara secara tidak langsung. Nah sekarang, pertanyaannya: siapa mengajari siapa? Pembicara mengajari pendengar, atau pendengar yang mengajari pembicara? Continue reading “Pelajaran Secara Misterius”

Husnul Khatimah

417645_10150652098494174_302981420_n

Belakangan kita makin sering membaca posting di medsos yang mencaci-maki atau menghina orang yang sudah meninggal dunia, hanya karena yang meninggal itu tidak kita sukai kelakuannya, beda pendapat dengan kita, atau bahkan karena merasa sok tahu bahwa pasti yang meninggal itu su’ul khatimah. Padahal Nabi mengajarkan dalam salah satu pesannya agar kita hanya menyebutkan kebaikan almarhum dan mendoakan agar husnul khatimah dan/atau diampuni oleh Allah.

Continue reading “Husnul Khatimah”

Berbuat Baik

gelasbening

Ia pernah berkata kepadaku :

Kau lihat bintang-bintang itu? Kau tahu, tak semuanya yang kau lihat itu seperti yang kau bayangkan. Boleh jadi cahaya berkelip itu adalah cahaya bintang yang telah pergi jutaan yang lalu, dan cahayanya baru tiba ke retina matamu sekarang karena ia menempuh jarak jutaan tahun cahaya untuk sampai ke sini. Yang kau lihat adalah semacam jejak cahayanya saja, dan kau mengira dari bintang yang masih hidup bertengger di sana.

Continue reading “Berbuat Baik”

Istighosah

644881-coffee-photography

KITA sering merasa lebih tahu cara masuk surga ketimbang Tuhan, atau bahkan merasa lebih memahami Tuhan ketimbang Tuhan sendiri. Semisal engkau beriman, tetapi kau memasukkan makanan dan minuman yang diharamkan Tuhan ke dalam perutmu setiap hari; atau mencuri uang rakyat setiap hari, dan kau merasa tetap tak bersalah; atau setidaknya engkau merasa lebih kasih sayang pada sesama dan menganggap Tuhan pasti begini dan begitu karena rahmat dan kasihNya. Atau jika engkau marah-marah dan menghamburkan cacian, menyakiti sesama, engkau merasa Tuhan pasti meridhoimu. Atau engkau membela kebenaran dengan fitnah dan merasa Tuhan memaklumimu.

Ringkasnya, diam-diam kita merasa Tuhan pasti mengikuti apa mau kita sehingga kita merasa berhak melakukan apapun atas namaNya. Diam-diam kita memberhalakan diri dengan mencatut Tuhan. Kita lalu seolah berdoa dan minta pertolongan namun hati kita diam-diam menuntut Tuhan untuk mengikuti dan menuruti ap mau kita, seolah-olah hanya kitalah yang pantas berdoa dan pantas dikabulkan keinginan dan ambisi kita.

Lalu, jika keinginan dan ambisi kita ternyata tak terpenuhi, kita marah-marah, mengancam orang lain, mengkafirkan dan menyesat-nyesatkan orang lain, karena kita tak bisa memaksa Tuhan untuk menuruti keinginan kita. Kita jadikan sesama sebagai pelampiasan kemarahan karena kita tak bisa marah-marah dan menyuruh Tuhan patuh pada diri kita. Maka kita bertindak seolah sebagai panitia seleksi masuk surga dengan menggunakan kriteria menurut tafsiran kita sendiri sebagai tolok ukurnya.

Barangkali, ya barangkali, kita lupa untuk memantaskan diri sebagai hamba sebelum menghakimi orang lain. Kita mungkin lupa bahwa setiap hari kita lebih sering mendengarkan hawa nafsu kita sendiri, memuji golongan kita sendiri. Kita berdoa tidak dengan kerendahan hati namun dengan keinginan memaksa, dengan perasaan pongah, dan ingin dituruti tanpa peduli bahwa ada banyak orang lain yang bisa berdoa dengan harapan berbeda dari kita dan mungkin lebih tulus dan tawadhu daripada doa dan hati kita.

Karena itu ulama yang mendalam ilmunya dulu mengajarkan cara menata hati, adab berdoa, adab memuji dan bertawadhu, dihadapan Allaah. Salah satunya dengan istighosah. Jika kita menyimak istighosah menurut para Wali Allah itu, akan terasa atsarnya. Mereka sedang dididik dan mendidik diri untuk memperbaiki akhlak kepada Tuhan dan kepada sesama. Dengan harapan kelak Allaah berkenan mengakui kehambaan, bukan memaksa Allaah menuruti keinginan. Harapan dan keinginan adalah sekunder, karena Allaah lebih tahu apa yang paling baik bagi hambaNya. Yang primer adalah bagaimana permohonan kita menjadi wasilah untuk menjadi hambaNya sesuai kehendakNya. Kita mengaku lemah sebagai manusia dan karena itu kita akan senantiasa berusaha, meminjam adagium Gus Mus, memanusiakan manusia, agar kuat bersama-sama tanpa saling merasa lebih unggul daripada yang lain. Semoga.

Lenggak-lenggok Langgam Suara *

maxresdefault

Di zaman social-media, orang gampang latah. Ada isu A, semua bahas A, ada isu B, semua mbahas B. Lha ini aji mumpung buat eksis. Saya juga mau dong eksis dengan memanfaatkan keribuan tentang gaya membaca kitab suci. Akan tetapi aku ndak akan ikut debat soal boleh-tidaknya langgam bacaan itu, karena ini urusan ulama. Mumpung ramai, bolehlah aku membajak keramaian ini untuk menulis artikel dengan topik lain yang terkait.

Continue reading “Lenggak-lenggok Langgam Suara *”