Review Buku : Pengantar Memahami Tasawuf

akulah debu cover mockup

Ulasan buku saya dari Malaysia
Oleh : Nazmi Yakuub | Novelis, cerpenis dan editor sastra untuk koran Berita Harian

⬇️⬇️⬇️

Judul buku ini mungkin menyebabkan saya terlepas pandang terhadap kewujudannya di rak buku gerai atau reruai Pelima Media di Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur (PBAKL), Serdang, Mei lalu. Mujurlah pemiliknya, Ustaz Muhammad Hafiz Mat Tajudin al-Fandani menyarankan buku ini sebagai koleksi wajib ada khususnya dalam kategori pengantar tasawuf atau sufisme. Continue reading “Review Buku : Pengantar Memahami Tasawuf”

Advertisements

Iman | Perspektif Sufi

26221198_963203020499318_4004431438477087526_o

 

Dalam sebuah hadis Rasulullah berbicara tentang makna kata Iman. Menurut Rasulullah, iman itu “mengakui dengan hati, mengucapkan dengan lidah dan beramal atau berbuat dengan anggota tubuh.” Hadis ini secara tersirat juga bermakna menunjukkan bahwa manusia memiliki tiga bagian yang diurutkan dengan jelas, yaitu “hati” yang adalah kesadaran paling dalam, “lidah” atau ucapan yang bersumber dari pemahaman, dan anggota badan. Ketiganya berbeda namun saling terkait. Karena berbeda, sering ketiganya dikaji oleh disiplin ilmu yang berbeda dengan standar yang berbeda pula.

Continue reading “Iman | Perspektif Sufi”

Hadis Jibril 

#1 — Seri Kenalan Dengan Tasawuf —

 

ISLAM mengandung tiga elemen dasar sebagaimana dapat dibaca dalam riwayat yang dikenal sebagai “Hadis Jibril.” Ringkasnya, dalam hadis itu, Rasulullah sedang duduk bersama sahabat, lalu datang orang asing yang tampan dan bersih, yang mengajukan beberapa pertanyaan. Setelah semua pertanyaan dijawab, orang itu pergi. Kemudian Rasulullah memberi tahu kepada para sahabatnya bahwa yang datang itu adalah Malaikat Jibril.

 

Dalam tanya jawab itu, dapat dilihat bahwa ajaran Rasulullah memiliki tiga dimensi dasar, yakni Islam, Iman, dan Ihsan. Rasulullah mendefinisikan Islam sebagai “bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan-Nya, shalat, zakat, puasa dan haji. Kemudian iman adalah percaya pada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, utusan-Nya, hari kiamat serta qadha dan qadar.” Sedangkan ihsan adalah “menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

 

Dua dimensi pertama pasti dikenal semua penganut Islam sebagai rukun Islam dan rukun Iman dan mendapat porsi besar dalam kajian-kajian agama hingga ke detailnya. Namun dimensi “Ihsan” yang juga penting lebih sedikit yang membahasnya. Ahli fiqh (fuqaha), ahli ilmu kalam (mutakkalimun), tidak membahas dimensi Ihsan hingga ke detail. Kalaupun dibahas, ihsan hanya dipelajari sebagai sebuah definisi dan dijabarkan dalam rincian pedoman akhlak secara umum. Dalam bagian Ihsan inilah para sufi, yakni pengamal Tasawuf, mencurahkan perhatiannya.

 

Islam adalah agama yang meminta umatnya bertakwa: mengikuti perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Apa yang boleh dan tidak boleh dikodifikasikan oleh Syariat berdasarkan Qur’an dan sunnah Nabi – melahirkan disiplin fiqh dengan segala derivasi nya. Pada level kedua, yang lebih dalam, Islam mengajarkan orang untuk memahami dunia (nyata dan goib) dan dirinya sendiri. Ini adalah wilayah iman, “keyakinan,” sebab ia merujuk pada objek-objek yang menjadi sasaran keimanan – Tuhan, malaikat, kitab suci, nabi dan rasul, dan seterusnya. Pengkajian iman menjadi bidang berbagai macam ilmu, seperti ilmu kalam (teologi), filsafat, dan wacana-wacana religi dan keruhanian lainnya. Di level selanjutnya yang lebih dalam lagi, Islam mengajarkan cara orang memperbaiki diri atau mengubah diri menjadi lebih baik agar hidupnya selaras dengan semua ciptaan-Nya di alam raya sekaligus selaras dengan Kehendak-Nya dengan cara “mengalami, merasakan dan menyaksikan” semua hal yang ditekankan dalam dimensi Islam dan iman. Pemikiran dan analisis kognitif tidak cukup untuk tugas ini, sebab ini berurusan dengan hakikat terdalam diri manusia (fitrah) – yakni manusia yang diciptakan menurut “citra Ilahiah.”

 

Jadi dimensi pertama adalah tata-aturan perilaku yang harus dilakukan dalam kerangka relasi seseorang dengan Tuhan dan sesama manusia; dimensi kedua adalah pemahaman tentang diri sendiri dan orang lain, dan yang ketiga adalah masalah bagaimana seseorang sampai ke hadirat-Nya. Apa dan bagaimana yang dimaksud dengan tujuan “beribadah kepada Allah” adalah fokus utama dalam dimensi Ihsan ini. Basis Qur’annya adalah pernyataan bahwa Tuhan menciptakan jin dan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya.

 

Orang memuja dan patuh biasanya karena kenal dan kagum, hormat atau cinta. Dalam keseharian, seseorang bisa mencintai orang lain karena kenal, lalu kagum dan hormat lantaran sasaran cintanya memiliki kualitas kebaikan, keindahan dan keagungan yang dia anggap paripurna. Jika rasa cinta itu diperbaiki, disempurnakan dan diperindah dengan ketulusan, maka cintanya akan murni dan ia akan rela berkorban agar bisa bersatu dengan kekasihnya dalam mahligai pernikahan.

 

Demikian pula dalam beribadah. Agar kita paham benar apa tujuan ibadah, maka kita harus mengenali aspek keagungan, keindahan dan kebaikan dari Zat yang menjadi sasaran ibadah kita. Pengenalan ini akan membuahkan cinta. Namun karena manusia dan Tuhan itu berbeda, dan selama di dunia masih tersekat oleh ruang dan waktu, hamba yang mencintai Allah akan rindu untuk bertemu dengan-Nya.
Karena cinta, maka hamba akan melakukan apapun yang dimaui oleh kekasihnya. Agar sampai ke tahapan beribadah dalam dimensi ihsan sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah, maka seseorang harus menyatukan ketiga dimensi itu dalam kehidupannya. Ia harus pasrah (Islam), tunduk pada perintah dan larangan-Nya, percaya penuh (iman) kepada semua yang dikabarkan oleh-Nya dan beribadah dengan kesadaran bahwa Dia selalu hadir dalam setiap tarikan napas kita (Ihsan). Itu juga berarti Sufi harus memberdayakan, memanfaatkan serta menata tiga karunia yang dilimpahkan kepada setiap manusia, yang masing-masing berkorelasi dengan ketiga dimensi itu: yakni akal, jiwa (nafs) dan hati.

 

Jadi dalam kerangka tiga dimensi dien Islam itulah  sebagian sufi mengatakan bahwa “Tasawuf itu akhlak –   akhlak pada Tuhan, akhlak pada sesama manusia dan semua ciptaan, dan akhlak pada diri sendiri. Karenanya Tasawuf berkorelasi dengan misi kenabian: “untuk menyempurnakan akhlak.”

 
— bersambung

eMbahNyutz, 5 Januari 2018

Pudarnya Empati di Medsos 

 

| Kadang netizen lupa bahwa di balik sebuah akun medsos ada manusia. Dalam berinteraksi terkadang netizen seakan merasa berhadapan dengan semacam robot media sehingga seringkali netizen, terutama yang hobi  mempertengkarkan sembarang kalir, mudah menulis sesuatu yang menyakiti hati. Mereka mampu menuliskan cemoohan yang tidak akan berani mereka lontarkan di dunia nyata atau saat berhadapan langsung — sebab mulutnya bisa disampluk wajan. 

Algoritma FB memungkinkan orang hidup dalam imajinasi merasa selalu benar. Sistem FB menghadirkan tulisan akun² yang sering berinteraksi dengan kita di beranda. Sialnya, dalam pertengkaran politik dan agama, kita cenderung hanya mau berkomentar dan saling memuji atau ikut dalam bandwagon of hatespeech yang sepaham dengan kita karena kita hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengar. 
Kalau ada komentar berbeda di status kita, kita akan marah. Dalam kasus ekstrem kita menghapus komentarnya atau memblokir, walaupun komentar itu ada benarnya atau cuma bertanya. Polarisasi jadinya makin mengeras.
Salah satu akibatnya adalah rasa empati makin susut. Misal, kalau kita menulis komentar yang kasar dan mengejek atau menghina dengan tujuan sengaja menyakiti, atau tak sengaja menyakiti, lalu orang yang jadi sasaran komentar kita marah, kita bukannya minta maaf namun malah menyalahkan atau mencibir: “Makanya jadi orang jangan baper!” “Kalo ga mau dikomentarin gausah main medsos. Goblok jangan dipelihara!” Dan cibiran² yang semacam itu.
Perlahan tapi pasti, kita semakin tak peka terhadap perasaan liyan, karena kita selalu dalam posisi merasa pendapatku lebih benar, hingga lupa sudah berapa banyak hati yang chellalu quchakity, berapa banyak fitnah, hoax dan kabar sumir yang hasud yang telah kita sebar yang menyebabkan perpecahan. Kita suka dan menikmati perpecahan akibat  banyak hati yang t3rchakitty chellalu oleh apa yang kita bagikan. Kita puas jika orang lain merasa marah dan malu. Dan kita tetap tak merasa bersalah apalagi menyesali diri karena kita selalu muncul di medsos dalam bandwagon yang sama. 
Lama-lama kita mirip humandroid, manusia android. Seperti yang diisyaratkan dalam film Blade Runer, android tak punya dan tak kan pernah punya elemen yang membuat hidup manusia itu sakral dan berharga: empati.
Tanpa empati, akhlak akan mudah menguap. Kurasa kita makin mengerti dawuh kanjeng nabi yang, sialnya, kerap hilang dari ingatan saat kita masuk medsos untuk berkelahi, saling nyinyir dan memaki: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

Gandrung : Refleksi Atas Sajak Cinta Gus Mus 

Aku bersaksi / Tiada kekasih /
Kecuali kau

Para pecinta Tuhan menempatkan keindahan dan kebaikan ciptan-Nya dalam Jamaliyah-Nya. Bahkan Jalaliyah-Nya juga dilihat dan dirasakan dalam keindahan yang menggetarkan. Oleh karenanya Nabi pernah berkata “man nazhara ila syai’in wa lam yarallaha fihi fahuwa bathilun” (Siapa yang memandang sesuatu namun ia tak ‘melihat’ Allah di dalamnya, maka dia sia-sia).

Muhyiddin Ibn Arabi menyatakan bahwa manifestasi Jamaliyah-Nya yang lengkap ada pada wanita. Karenanya ketika pecinta Tuhan merasakan kerinduan dan cinta, ungkapannya selalu dihubungkan dengan kualitas feminin: wanita, kelembutan, kasih sayang, kecantikan, keibuan, dan seterusnya.

Sajak-sajak cinta Gus Mus dalam konteks tertentu bisa ditafsirkan tak sekadar berhenti pada asmara wanita dan pria. Sajak cinta religi memang untaian kata. Tetapi sajak biasanya bersifat simbolik. Ada “rasa” (dzauq), rasa-pangrasa, yang tak bisa dibagikan begitu saja melalui teks. Karenanya sajak religi menjadi ekspresi simbolik atas rasa yang hakikatnya tak tertampung kata-kata, sebab rasa itu berkaitan dengan keindahan dan kelembutan Ilahiyah.

Sebagai kyai yang telah belajar dan mengamalkan ajaran Islam sejak kecil di bawah bimbingan kyai-kyai sepuh dan para kekasih Allah, dan bahkan tak pernah berhenti belajar mencintai hingga kini, beliau menyampaikan pesan cinta sufistik yang halus dengan bahasa sederhana namun elok. Abdul Wachid secara metaforis  menyebutkan bahwa contoh paling jelas tentang tenggelamnya  sang kyai  dalam keindahan dan keagungan ilahiah, adalah saat ia melihat “wanita yang cantik sekali di Multazam.”

Sajak-sajak cinta Gus Mus memang mengharukan. Kita bisa merasakan bagaimana sajak cintanya kepada (alm) istrinya, yang menggetarkan hati itu bisa kita rasakan ada makna yang melampaui kata-kata — sebuah cinta kepada Tuhan yang dimanifestasikan dalam cinta tulus kepada kekasih yang dicintainya hingga akhir hayat: Bu Nyai Fatma.

— aku adalah wangi bungamu / Luka berdarahdarah durimu / Semilir sampai badai anginmu

Dengan sajak cinta dan kesetiaannya kepada kemanusiaan, juga kesetiaan kepada pendamping hidupnya, Gus Mus mengajarkan apa makna mencintai Tuhan bagi kehidupan. Beliau seolah mengatakan idealnya manusia mencintai Tuhan sebab dari rasa cinta semacam ini akan lahir cinta yang melimpah ke ciptaan-Nya. Sufi mengatakan dunia seisinya diciptakan dan digerakkan oleh Cinta. Karenanya tugas manusia sebenarnya bukan mencari cinta sebab itu sudah ada dalam sifat-sifat-Nya yang tajalli-Nya ada di mana-mana — tugas manusia, menurut Rumi, adalah menghilangkan penghalang yang menabiri kita dengan Tuhan, agar kita bisa memandang segala sesuatu dari penglihatan belas kasih sayang. Bukankah Nabi sendiri dipuji oleh Allah karena beliau “teramat besar belas-kasih sayangnya kepada umatnya.”

Membaca Gus Mus membuatku ingin meminjam bait-bait sajak beliau tentang perasaanku kepada beliau:

— Perkenan aku mencintaimu, sebisaku.

 

Gandrung: Hadiah dari Gus Mus 

Tutuk dan Tutug

mulut

Orang Jawa menyebut mulut dengan bahasa krama madya sebagai tutuk. Sebab ada harapan bahwa apa yang disampaikan oleh tutuk itu tutug, yang bermakna sampai ke ujung tujuan akhir dan tepat sasaran. Tutug dibedakan dari “tekan” (yang juga berarti sampai) karena tekan tidak mesti tutug, yakni belum sampai ke ujung tujuan. Bahasa Jawa memang begitu, “ngemu rasa,” memuat intensitas rasa dan perasaan, yang kadang sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Continue reading “Tutuk dan Tutug”