Rebutan Benar

halahmbeel

Berebut benar di medsos menyebabkan orang saling menyalahkan atau saling bermusuhan. Si A menyalahkan si B. Si B menyalahkan si A. Tidak ada yang mau rebutan salah. Bahkan karena tak ada wasit untuk menentukan siapa yang paling benar dan siapa yang paling salah, masing-masing merasa dibela Tuhan. Tuhan diajak salah-salahan. Ayat dibaca, ditulis dan dipakai untuk menghakimi orang lain. Tidak peduli musuhnya siapa.

Continue reading “Rebutan Benar”

Advertisements

Jika …


Jika aku diberi panjang usia, apa yang aku lakukan? Aku tak tahu sebab aku juga tak tahu apakah kesehatanku kelak akan mampu menopang angan-angan yang ingin kuwujudkan di dunia saat aku sudah menua.

Dunia semakin pudar kelezatannya di hatiku. Jikalau saat ini aku bergerak dalam arus keseharian, itu hanya karena memang aku harus bergerak, sekadar bertahan hidup, terkadang dengan rasa terpaksa karena hawa nafsuku tak mau tunduk juga sampai sekarang.

Kalau pun ada keinginan yang tersisa, itu tak lagi banyak dan tak muluk-muluk.

Jika aku diizinkan menua, aku ingin menyelesaikan umur yang terus menghitung mundur menuju penghabisan usia bersama orang-orang kucintai dan mencintaiku. 

 Aku bahkan tak punya cita-cita menjadi orang yang rajin beribadah. Ibadahku sederhana saja, sekadar memenuhi kewajibanku sebagai makhluk yang lemah, mengingat Tuhan semampuku, juga berbuat baik kepada sesama, setidaknya tak ingin mengganggu atau menyakiti. Itu saja. 

Mungkin keinginan-keinginan yang kuangan-angankan itu tak terkabul sebab Tuhan lebih tahu apa yang baik. Meski begitu, aku sering enggan menerima jika yang Dia turunkan adalah masalah dan kesusahan. 

Aku tentu tak bisa sok pasrah jika hati ini mangkel kepada ketentuan Tuhan. Bisa saja aku berdusta kepada orang, tetapi apa aku manpu mendustai diriku sendiri dan Tuhan?

Jika aku diizinkan menua, aku berharap Tuhan membantuku untuk jujur pada diriku sendiri, dan menyelamatkanku dari diriku sendiri.

Aghitsna, ya arhamar rahimin.

Charger 

| Ia barangkali sudah menjadi kebutuhan pokok selain sandang, pangan dan papan. Orang-orang yang bepergian atau mengunjungi suatu tempat, tak jarang membawa powerbank atau mencari colokan. Kereta api, bahkan bis malam jarak jauh, juga menyediakan colokan. Kini kita lumrah menjumpai warung makan, kafe, ruang tamu, bahkan angkringan ada cable-roll dan colokan.

Gadget  seperti manusia. Butuh asupan rutin agar tetap hidup dan berdaya guna. Pun manusia. Lahirnya butuh charger berupa makanan, air dan udara.
Tetapi bagaimana dengan sisi ruhani? Bagaimana engkau men-charge ruh agar hidup menjadi berdaya guna? 
Ruh itu berhubungan langsung dengan Tuhan. Persoalannya adalah bagaimana menyambungkan “kabel” ruh ke sumber hidupnya, yakni Tuhan. Ada banyak teori dan banyak yang tahu caranya. Aku juga tahu: shalat, doa, zikir, amal soleh. Hanya saja, walau sudah melakukan sesuai teori, aku sering tak merasa tersambung dengan Tuhan. Sebab, aku masih berani berdusta, berbuat maksiat, mencaci-maki,  menghina, meremehkan orang lain, bangga pada diri sendiri, takut pada selain Tuhan … 

Setiap hari aku bersungguh-sungguh mengisi daya baterai HP ku agar gawai ini berfungsi sebagaimana mestinya; tetapi aku tidak bersungguh-sungguh serius menghubungkan daya ruhani ke Sumbernya agar hidupku berjalan sebagaimana mestinya, yakni selaras dengan KehendakNya; akibatnya, aku sibuk mengejar harta dan kuasa tanpa peduli batas diri.  Lalu keserakahan,  galau dan stres, salah dan dosa, tak pernah usai menghujani diri.  

Ternyata selama ini dunia kujadikan kebutuhan pokokku; kebutuhan akhirat gimana nanti sajalah.

Serba Keliru

wrong

Aku lebih 12 tahun belajar matematika, tetep goblok hitung-hitungan matematika, kecuali urusan hitung duit cash. Belajar bahasa Indonesia, masih sering bingung membedakan mana majaz, mana satir, mana idiom. Sejak lahir udah jadi wong jawa, berbahasa jawa, tapi paramasastra atau tata bahasa jawa mulai dari level ngoko sampe krama inggil tetep sering salah. Bahkan untuk misuh pakai kata “bajingan asu jancuk” aja terdengar wagu karena salah intonasi. Satu-satunya pisuhan yang fasih kupakai cuma “mbahmu kiper!” Belajar ekonomi di kampus, tetep banyak yang ga mudheng kecuali menghitung diskon harga.

Continue reading “Serba Keliru”

Kasih Tak Santai*

ieyt7pu

Massifnya intimidasi psikologis di Internet terhadap status jomblo menyebabkan sebagian jomblower yang kurang kuat mental  berusaha menanggalkan status yang nyaris menyerupai kutukan itu. Tetapi seperti kata pepatah kontemporer, “tiada jomblo yang tak retak hatinya,” sebagian dari mereka trauma sehingga enggan melakukan pendekatan langsung. Sebagai alternatif, mereka mencoba terobosan yang ditawarkan teknologi dengan long distance relationship (LDR). Popularitas istilah LDR pelan tapi pasti mendekati popularitas istilah jomblo, thanks to the internet, sehingga LDR dianggap sebagai terobosan mutakhir yang berdampak positif bagi upaya pengentasan fakir asmara. Tetapi sebenarnya keliru jika LDR dianggap fenomena kekinian dan selalu berdampak positif bagi kesehatan mental anak-anak muda yang labil mencari jati diri.

Continue reading “Kasih Tak Santai*”

Falsafah Erotisme*

widescreen wallpaper

Sebelum pembaca terlanjur menghayal akan membaca tulisan tentang hal-hal erotis karena judulnya, maka perlu segera kunyatakan secara tegas bahwa ini adalah analisis filosofis serius tentang salah satu akar problem mengapa semakin banyak anak muda yang sulit mendapatkan pasangan. Harapannya adalah dengan membongkar akar falsafahnya, jomblo dapat melakukan introspeksi/renungan filsafat yang mendalam dan mendapat solusi. Bukankah Socrates pernah mengatakan, “hidup yang tak direnungkan tak layak untuk dijalani?” Jadi, tulisan ini mengajak anak muda mau merenung agar hidupnya tetap layak dijalani meski dari hari ke hari mengalami tekanan psikologis.

Continue reading “Falsafah Erotisme*”