Amal Kuota Internet

3129487_M.jpg

Berapa banyak kuota yang kita habiskan untuk memviralkan fitnah dan, hoax? Berapa ratus ribu rupiah per bulan kita habiskan untuk kuota guna mencaci-maki dan menghakimi apa-apa yang tersimpan dalam hati orang lain?

Continue reading “Amal Kuota Internet”

Advertisements

Pudarnya Empati di Medsos 

 

| Kadang netizen lupa bahwa di balik sebuah akun medsos ada manusia. Dalam berinteraksi terkadang netizen seakan merasa berhadapan dengan semacam robot media sehingga seringkali netizen, terutama yang hobi  mempertengkarkan sembarang kalir, mudah menulis sesuatu yang menyakiti hati. Mereka mampu menuliskan cemoohan yang tidak akan berani mereka lontarkan di dunia nyata atau saat berhadapan langsung — sebab mulutnya bisa disampluk wajan. 

Algoritma FB memungkinkan orang hidup dalam imajinasi merasa selalu benar. Sistem FB menghadirkan tulisan akun² yang sering berinteraksi dengan kita di beranda. Sialnya, dalam pertengkaran politik dan agama, kita cenderung hanya mau berkomentar dan saling memuji atau ikut dalam bandwagon of hatespeech yang sepaham dengan kita karena kita hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengar. 
Kalau ada komentar berbeda di status kita, kita akan marah. Dalam kasus ekstrem kita menghapus komentarnya atau memblokir, walaupun komentar itu ada benarnya atau cuma bertanya. Polarisasi jadinya makin mengeras.
Salah satu akibatnya adalah rasa empati makin susut. Misal, kalau kita menulis komentar yang kasar dan mengejek atau menghina dengan tujuan sengaja menyakiti, atau tak sengaja menyakiti, lalu orang yang jadi sasaran komentar kita marah, kita bukannya minta maaf namun malah menyalahkan atau mencibir: “Makanya jadi orang jangan baper!” “Kalo ga mau dikomentarin gausah main medsos. Goblok jangan dipelihara!” Dan cibiran² yang semacam itu.
Perlahan tapi pasti, kita semakin tak peka terhadap perasaan liyan, karena kita selalu dalam posisi merasa pendapatku lebih benar, hingga lupa sudah berapa banyak hati yang chellalu quchakity, berapa banyak fitnah, hoax dan kabar sumir yang hasud yang telah kita sebar yang menyebabkan perpecahan. Kita suka dan menikmati perpecahan akibat  banyak hati yang t3rchakitty chellalu oleh apa yang kita bagikan. Kita puas jika orang lain merasa marah dan malu. Dan kita tetap tak merasa bersalah apalagi menyesali diri karena kita selalu muncul di medsos dalam bandwagon yang sama. 
Lama-lama kita mirip humandroid, manusia android. Seperti yang diisyaratkan dalam film Blade Runer, android tak punya dan tak kan pernah punya elemen yang membuat hidup manusia itu sakral dan berharga: empati.
Tanpa empati, akhlak akan mudah menguap. Kurasa kita makin mengerti dawuh kanjeng nabi yang, sialnya, kerap hilang dari ingatan saat kita masuk medsos untuk berkelahi, saling nyinyir dan memaki: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

Jika …


Jika aku diberi panjang usia, apa yang aku lakukan? Aku tak tahu sebab aku juga tak tahu apakah kesehatanku kelak akan mampu menopang angan-angan yang ingin kuwujudkan di dunia saat aku sudah menua.

Dunia semakin pudar kelezatannya di hatiku. Jikalau saat ini aku bergerak dalam arus keseharian, itu hanya karena memang aku harus bergerak, sekadar bertahan hidup, terkadang dengan rasa terpaksa karena hawa nafsuku tak mau tunduk juga sampai sekarang.

Kalau pun ada keinginan yang tersisa, itu tak lagi banyak dan tak muluk-muluk.

Jika aku diizinkan menua, aku ingin menyelesaikan umur yang terus menghitung mundur menuju penghabisan usia bersama orang-orang kucintai dan mencintaiku. 

 Aku bahkan tak punya cita-cita menjadi orang yang rajin beribadah. Ibadahku sederhana saja, sekadar memenuhi kewajibanku sebagai makhluk yang lemah, mengingat Tuhan semampuku, juga berbuat baik kepada sesama, setidaknya tak ingin mengganggu atau menyakiti. Itu saja. 

Mungkin keinginan-keinginan yang kuangan-angankan itu tak terkabul sebab Tuhan lebih tahu apa yang baik. Meski begitu, aku sering enggan menerima jika yang Dia turunkan adalah masalah dan kesusahan. 

Aku tentu tak bisa sok pasrah jika hati ini mangkel kepada ketentuan Tuhan. Bisa saja aku berdusta kepada orang, tetapi apa aku manpu mendustai diriku sendiri dan Tuhan?

Jika aku diizinkan menua, aku berharap Tuhan membantuku untuk jujur pada diriku sendiri, dan menyelamatkanku dari diriku sendiri.

Aghitsna, ya arhamar rahimin.

Charger 

| Ia barangkali sudah menjadi kebutuhan pokok selain sandang, pangan dan papan. Orang-orang yang bepergian atau mengunjungi suatu tempat, tak jarang membawa powerbank atau mencari colokan. Kereta api, bahkan bis malam jarak jauh, juga menyediakan colokan. Kini kita lumrah menjumpai warung makan, kafe, ruang tamu, bahkan angkringan ada cable-roll dan colokan.

Gadget  seperti manusia. Butuh asupan rutin agar tetap hidup dan berdaya guna. Pun manusia. Lahirnya butuh charger berupa makanan, air dan udara.
Tetapi bagaimana dengan sisi ruhani? Bagaimana engkau men-charge ruh agar hidup menjadi berdaya guna? 
Ruh itu berhubungan langsung dengan Tuhan. Persoalannya adalah bagaimana menyambungkan “kabel” ruh ke sumber hidupnya, yakni Tuhan. Ada banyak teori dan banyak yang tahu caranya. Aku juga tahu: shalat, doa, zikir, amal soleh. Hanya saja, walau sudah melakukan sesuai teori, aku sering tak merasa tersambung dengan Tuhan. Sebab, aku masih berani berdusta, berbuat maksiat, mencaci-maki,  menghina, meremehkan orang lain, bangga pada diri sendiri, takut pada selain Tuhan … 

Setiap hari aku bersungguh-sungguh mengisi daya baterai HP ku agar gawai ini berfungsi sebagaimana mestinya; tetapi aku tidak bersungguh-sungguh serius menghubungkan daya ruhani ke Sumbernya agar hidupku berjalan sebagaimana mestinya, yakni selaras dengan KehendakNya; akibatnya, aku sibuk mengejar harta dan kuasa tanpa peduli batas diri.  Lalu keserakahan,  galau dan stres, salah dan dosa, tak pernah usai menghujani diri.  

Ternyata selama ini dunia kujadikan kebutuhan pokokku; kebutuhan akhirat gimana nanti sajalah.

Serba Keliru

wrong

Aku lebih 12 tahun belajar matematika, tetep goblok hitung-hitungan matematika, kecuali urusan hitung duit cash. Belajar bahasa Indonesia, masih sering bingung membedakan mana majaz, mana satir, mana idiom. Sejak lahir udah jadi wong jawa, berbahasa jawa, tapi paramasastra atau tata bahasa jawa mulai dari level ngoko sampe krama inggil tetep sering salah. Bahkan untuk misuh pakai kata “bajingan asu jancuk” aja terdengar wagu karena salah intonasi. Satu-satunya pisuhan yang fasih kupakai cuma “mbahmu kiper!” Belajar ekonomi di kampus, tetep banyak yang ga mudheng kecuali menghitung diskon harga.

Continue reading “Serba Keliru”

Kasih Tak Santai*

ieyt7pu

Massifnya intimidasi psikologis di Internet terhadap status jomblo menyebabkan sebagian jomblower yang kurang kuat mental  berusaha menanggalkan status yang nyaris menyerupai kutukan itu. Tetapi seperti kata pepatah kontemporer, “tiada jomblo yang tak retak hatinya,” sebagian dari mereka trauma sehingga enggan melakukan pendekatan langsung. Sebagai alternatif, mereka mencoba terobosan yang ditawarkan teknologi dengan long distance relationship (LDR). Popularitas istilah LDR pelan tapi pasti mendekati popularitas istilah jomblo, thanks to the internet, sehingga LDR dianggap sebagai terobosan mutakhir yang berdampak positif bagi upaya pengentasan fakir asmara. Tetapi sebenarnya keliru jika LDR dianggap fenomena kekinian dan selalu berdampak positif bagi kesehatan mental anak-anak muda yang labil mencari jati diri.

Continue reading “Kasih Tak Santai*”