Kisah Dukun Jamu Suwuk 

Orang Islam percaya bahwa Tuhan punya cara tak terbatas untuk memaksa hamba-Nya masuk ke dalam sebuah situasi — apapun itu — karena Dia memiliki nama al-Jabbar (Yang Mahamemaksa).. Yang dirasa menjadi persoalan adalah jika seseorang ditempatkan dalam kondisi yang sulit atau membingungkan dan tak sesuai dengan keinginannya sendiri. Tetapi di sinilah ujiannya, sebab orang harus menjaga prasangka baik bahwa Tuhan memaksa hamba-Nya itu agar ia bergerak ke arah kebaikan. Ini ada contoh bagaimana seseorang yang kuper bin katrok, yang dulu cuma tahu wilayah Karas, Sedan, dan sekitarnya, dipaksa Tuhan untuk menjadi gaul dan metropolis.  Continue reading “Kisah Dukun Jamu Suwuk “

Advertisements

Tafakur Alam

Saat kita memandang gunung yang menjulang membisu, apa yang ada dipikiran? Bukit, gunung, lembah, semuanya membisu. Hanya desis angin malam terdengar Barangkali gunung ini telah diam istirahat berabad-abad, mengumpulkan kekuatan untuk suatu saat nanti meledakkan diri, menghambur laksana bulu-bulu beterbangan di tiup angin. Entahlah. Tapi aku merasa yakin itu pasti akan terjadi. Mungkin nanti kalau kiamat.  Continue reading “Tafakur Alam”

Demi Masa | Perspektif Sufistik

Sebagian manusia memandang waktu sebagai “komoditas” yang menguntungkan. Mereka membagi-bagi waktu menjadi momen-momen untuk dijual. Setiap segmen waktu dinisbahkan pada peristiwa tertentu yang dapat dieksploitasi untuk menghasilkan uang atau kapital. Komodifikasi-kapitalistik atas waktu ini bahkan mampu mengeksploitasi waktu yang dalam pengertian aslinya adalah waktu untuk kepentingan non-dunia: bulan Ramadhan, misalnya, adalah waktu untuk memproses diri dan menyiapkan wadah ruhani guna memperoleh limpahan rahmat, ampunan dan kebebasan dari penderitaan (api neraka). Namun di tangan industri, Ramadhan diubah menjadi event industri: Bulan ramadhan adalah seperti “layar-waktu” yang dipenuhi baliho iklan konsumtif yang bertentangan dengan hakikat puasa itu sendiri.

Continue reading “Demi Masa | Perspektif Sufistik”

TIGA MIMPI

Syekh Ibn ‘Arabi memandang mimpi sebagai “khayal,” atau gambaran mental (imagining). Ibn ‘Arabi juga menafsirkan khayal sebagai segala sesuatu yang menyediakan simbol, lambang, isyarah dari realitas atau makna tersembunyi. Dalam pengertian khusus ini, seluruh dunia fenomenal, dunia kita yang terlihat ini, dapat dipandang sebagai “khayal.” Jadi baik itu dunia ini maupun mimpi dipandang sebagai simbol/isyarat dari realitas-realitas yang tersembunyi, realitas goib atau batin. Continue reading “TIGA MIMPI”

Dzalim 

Manusia modern sebagian tanpa sadar gagal “mendirikan dirinya sendiri.” Orang mendefinisikan diri berdasar atribut eksternal dan pandangan orang lain. Orang semacam ini, meski tahu bahwa Tuhan tidak peduli pada atribut artifisial — kekayaan, ketampanan, penampilan, dan semacamnya — namun mereka tetap gelisah ketika diri merasa tidak diterima dalam pandangan orang lain. Kita lantas berusaha tampil baik hanya agar orang lain terpesona atau memuji kita.

Dalam domain religi, mereka justru bisa bertambah resah dan bahkan mudah marah ketika apa yang diyakininya tidak disepakati apalagi ditentang oleh orang lain. Dalam kasus yang agak lebay, seorang yang religius setiap hari menyalahkan orang lain untuk menunjukkan dirinyalah yang benar. Misal terbaru yang baru saja ramai :  Saking kepinginnya untuk merasa diri benar, bahkan sosok parodi yang fokusnya bikin meme sindiran dan nyinyiran dan memang bukan ustadz pun dia salah-salahkan dan goblok-goblokkan, seolah-olah sosok-sosok parodi itu adalah teladan umat sehingga pengaruhnya bisa menghancurkan alam seisinya. Kalau orang mau berpikir sedikit saja, dan menengok fanspagenya, jelas dia memang bukan ulama, isinya hanya sindiran dan nyinyiran, sering kasar, dan yang ikut komentarpun cuma nambahin adu nyinyiran, olok-olok, atau yang lucu-lucu.

Hidup orang yang mudah merasa  terancam oleh apapun yang tidak berkenan di hatinya akan  jadi terlalu waspada, serius, mudah marah. Saat dia marah-marah, objek yang dimarahi mungkin sedang tertawa geli ketika sebagian orang percaya bahwa dirinya adalah ustadz atau ahli agama. Mereka dipermainkan oleh pikirannya sendiri yang selalu menengok keluar, sehingga jarang menengok ke dalam diri, untuk melihat bahwa sudah begitu lama diri dipermainkan oleh pikiran, prasangka, kebencian, dan muslihat-muslihat nafsu yang sangat sulit dilihat kecuali orang mau selalu muhasabah atau mawas diri. Jika jumlah diri yang mudah dipermainkan oleh dirinya sendiri begitu banyak, maka lahirlah perpecahan dan saling olok dan maki. Yang kaum A menggoblokkan kaum B. Yang kaum B menggoblokkan kaum A. Tidak ada yang mau kalah atau setidaknya menahan diri.

Jadi orang dengan diri yang ditipu diri menyebabkan orang itu hidup gampang marah, gampang curiga, gampang tersinggung. Bukankah rasa marah itu tidak enak? Bukankah dicaci maki itu tidak enak, tetapi mengapa tetap saling adu cacian dan adu goblok-goblokan jika itu hanya menguatkan nafs amarah dan lawwamah? Jadi siapa yang menganiaya hati kita sehingga mudah terluka hanya oleh perbedaan dan provokasi?

… inni kuntu minaddzalimin…
Allah tidak menganiaya, kita sendirilah yang asik bermain dengan nafs rendah kita yang memang menjadi alat ego dan setan untuk menganiaya diri. Kitalah yang menganiaya diri sendiri.

Maulana telah mengingatkan fenomena ini hampir 900 tahun lalu:  Leave this play, you have play enough.

Tetapi manusia enggan belajar mengambil hikmah sejarah. Maka manusia harus mengulang apa yang telah terjadi di masa lalu. Sejak zaman fitnah kubro, kita terus bertikai, bahkan sampai sekarang. Mengapa tidak  mau mengambil pelajaran dari sejarah, dari bisikan nurani, dan dari pelajaran tentang kelembutan dan kasih sayang  dari Tuhan yang diejawantahkan dalam kelahiran bayi-bayi yang indah dipandang, anak-anak kecil yang polos dan riang, ibu-ibu dan bapak-bapak yang berjuang dan susah payah demi  nafkah keluarga, orang tua yang khusyuk dalam menanti panggilan ilahi.

Kita mencaci maki dan menggoblokkan hari ini, dan barangkali hidup kita tetap  baik-baik saja. Namun benih telah ditanam. Boleh jadi kita bukan yang memetik karena kita keburu mati: anak cucu kita yang akan merasakan buah dari kebencian yang kita tanam hari ini. Apakah kita tega jika anak anak.kita yang sama-sama beriman saling bunuh karena memanen pertikaian yang kita tanam dan tumbuhsuburkan hari ini?

SUBHANAKA INNI KUNTU MINADDZALIMIN
Mahasuci Engkau ya Allah. Sesungguhnya kami adalah orang-orang dzalim, mendzalimi orang lain, diri sendiri, dan bahkan mendzalimi anak cucu kami melalui tingkah laku kami. 

🙏

Cara Ngrusak Amal

​Ada banyak cara untuk merusak atau minimal menciderai amal kebaikan. Orang beriman biasanya sudah tahu apa saja hal-hal yang merusak amal itu menurut beberapa dawuh kanjeng nabi. Namun mungkin banyak yang kurang memperhatikan bahwa hal-hal yang membahayakan amal saleh itu justru kebanyakan berada dalam wilayah yang amat sulit dilihat.
Contoh paling gampang adalah ujub dan sum’ah. Orang tentu cenderung malu jika pamer solat tahajud, misalnya. Malu ini bisa karena takut ibadah tidak diterima Allah karena riya’; atau karena takut citranya sebagai orang saleh di mata orang menjadi rusak. Godaan ujub dan sum’ah amat kuat di antara kedua kondisi ini. Kondisi batin kita yang akan menentukan ke mana pergerakan rasa dan perasaan di hati itu bergerak. Tipuan ini halus sekali dan tidak tampak parameternya. Oleh sebab itu orang yang awas pada pergerakan nafs nya tidak akan berani mengklaim bisa memastikan ibadahnya diterima. 
Itu baru satu contoh. Banyak muslihat nafs yang jauh lebih sublim yang merusak atau menurunkan kualitas amal. 
Nafs dan iblis mengganggu kemurnian amal ini dalam wilayah batin itu, sehingga banyak yang tak menyadarinya. Iblis tak perlu mendorong orang tidak sholat misalnya. Ia cukup menanamkan sifat dan sikap yang merusak.amal — misal sombong, merasa sudah lebih suci, benci, dusta, dan terutama lalai. Lalai ini semacam benih  kerusakan. Jangan heran jika ada yang rajin solat.misalnya, tapi juga rajin mencaci maki, marah-marah, menghina orang lain yang tidak mau ikut pendapatnya atau bahkan berdusta. Orang yang lalai selalu punya justifikasi  untuk membenarkan tindakannya yang bertentangan  dengan ajaran akhlak lahir maupun batin. Bayangkan begini: seseorang yang paham agama selalu mengajak istighfar, namun pada saat yang sama ia mengawetkan kebencian dan amarahnya dan menggunakan ilmu agamanya untuk menjustifikasi kebencian itu yang ia wujudkan dalam bentuk umpatan, hinaan, dusta bahkan fitnah. Karena justifikasinya didasarkan pada ilmu, ia menjadi tak merasa bersalah atau berdosa saat menganggap diri lebih suci dan merasa berhak memaki dan membenci setiap hari. Jadinya ia menggunakan pengetahuannya tentang dalil ancaman  perbuatan buruk lahir-batin untuk “ditamparkan” ke orang lain dan dalil kebaikan untuk diri dan kelompoknya demi menjaga rasa bangga bahwa golongan mereka sajalah yang benar. 
Jadi semua itu bermula dari wilayah yang tak kasat mata: hati, akal pikiran, nafsu. Orang yang lalai menjaga wilayah itu akan mudah tertipu oleh dirinya sendiri dan berpotensi jatuh ke dalam  kesalahan atau lebih sibuk mencari atau melihat cacat dan kekurangan liyan ketimbang dirinya sendiri. Itu sebabnya mawas diri itu penting; dan mawas diri adalah efek dari muhasabah, muraqabah dan tafakur. Orang yang bisa begitu akan menjadi seperti yang dikatakan kanjeng nabi sebagai orang yang beruntung.
Sayangnya, media sosial menggoda orang untuk lebih mawas ke orang lain ketimbang mawas diri. 

Wa Allahu a’lam

Santri Medsos


Hari Santri Nasional. Konon disertai dengan  semilyar shalawat.  Orang yang biasa bershalawat akan adem jiwanya, jernih pikirannya, tidak lekas marah, lembut hati dan perkataannya, hatinya welas asih karena cenderung pada keinginan berbagi keberkahan dan rahmat yang dirasakannya, bukan berbagi laknat. Kalau pun marah, amarahnya telah disaring sehingga yang keluar bukan umpatan, hinaan, caci-maki, ejekan. Kalau pun berbeda pendapat, akal dan pikirannya akan melihat dengan jernih perbedaan itu, hatinya mengawasi nafsu amarah dan sombong yang bisa ikut campur dan menyebabkan munculnya rasa  sok tahu  dan sok paling benar  —  sehingga perkataan yang muncul adalah hasil pemikiran yang ditujukan pada membantah  pendapat, bukan menyerang orangnya dengan kata kasar, caci maki, prasangka buruk, dan tuduhan  keji tanpa dasar dan bukti yang kuat

Santri yang rajin bershalawat demi mendapat syafaat dan, syukur-syukur,  dicintai Rasul, pasti tahu faedah dan berkah bershalawat seperti itu. Mereka juga tahu bahwa walau sudah rajin bershalawat, mereka tidak bisa menjamin  pengakuan cintanya pada kanjeng Nabi akan diterima; mereka yang rendah hati tahu bahwa klaim cintanya belum tentu dibalas. Bagaimana jadinya bila mengaku cinta namun melakukan tindakan yang tidak disukai kanjeng nabi, seperti caci maki dan berkata kasar menghina orang lain dengan brutal, memfitnah, dusta? Apakah dijamin diterima cinta kita?

 Santri tentu paham prinsip di atas karena mereka kemungkinan besar telah diajari bagaimana  menempatkan perbuatan, ucapan, pikiran, dan hati dihadapan sesama manusia sekaligus di hadapan Tuhan Yang Maha Melihat dan Maha Adil dan Maha Teliti dalam menimbang amal hambaNya.

Namun ada yang terasa aneh di medsos. Di platform ini kita bisa melihat akun-akun yang mengaku santri atau setidaknya mengaku orang beriman seperti lepas kendali. Mereka seperti tidak bisa menahan diri. Baca saja di kolom komentar kata-kata yang ditulis bukan dalam konteks bercanda tapi benar-benar untuk memaki dan menghina: ndhasmu! Congormu! Tai asu! Cocootmu asu! Bacot sampah! Belum lagi gambar meme meme yang penuh hinaan, fitnah dan plintiran. Dan itu disebar dengan iringan komentar  gembira karena bisa mengejek. Anehnya, yang melakukan itu juga termasuk  orang-orang yang beriman kepada rasul dan Allah.

Tampaknya  “gorengane” wis mateng. Santri dan orang beriman akan semakin sering bertengkar dengn sesama orang beriman  sebab makin malas berpikir jernih dan lebih suka marah-marah. Jika dikritik agar jangan lekas marah, mereka justru menyalahkan pihak lain yang membuat dirinya marah-marah, padahal apa yang sesungguhnya membuatnya marah belum tentu seperti yang dipikirkan atau dibayangkannya. 

Apakah karena makin malas membaca dan berpikir panjang,  dan karena di medsos tidak berhadapan langsung, maka orang-orang membuang adab sebagai orang beriman sehingga yang  tampak  di mata orang di luar  adalah semacam tindakan massal saling menghina dan mengumpat, merusak sopan santun   dan martabat kemanusiaan,  demi surga?

Seorang teman menjauhi agama karena alasan tersebut. Dia bilang,  “di medsos, aku melihat bagaimana orang yang makin tampak beriman dan bertakwa malah semakin sadis dan brutal perkataannya kepada sesama orang beriman yang tidak disukainya. Apakah agamamu membolehkan hal itu?” Tentu aku jawab tidak. Ia tersenyum, “Jika tak boleh, mengapa makin banyak yang melakukan  itu beramai-ramai, setidaknya di medsos?” Aku  mencoba membantah “Ah itu karena ada pihak luar yang ingin mengadu domba.” Dia tertawa, “Jika sudah tahu, kenapa kalian mau.saja diadu domba? Kenapa kalian malah senang saling mengumpat dan berkelahi? Saya kira, hanya orang yang malas berpikir dan mudah marah yang rela dan senang diadu domba, dipecah belah, dibuat selalu bermusuhan. Jadi sebenarnya agamamu itu mengajarkan apa?”

Saya tidak ingin menceritakan lanjutan dialog yang penuh kritik terhadap perbuatan dan perkataan orang beriman ini, karena saya khawatir nanti orang beriman akan marah-marah. Sebab seringkali orang merasa mengkritik pendapat orang dianggap sama dengan mengkritik agama. 😉

Dari dialog itu saya hanya berpikir sederhana dan mengingat lagi ajaran guru ngaji saya di zaman saya masih sekolah:

 Yang masih percaya ada akhirat dan yaumul hisaab, bagi yang percaya bahwa  laku hidup akan terus berjalan sesudah mati,  maka menahan diri adalah hal yang lebih baik. Karena kita yang beriman tahu bahwa segala pikiran, ucapan/tulisan, perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. 

Jika masih percaya Tuhan Maha Adil, hati² dengan  diri sendiri adalah lebih baik. Sesudah mati kita menghadapi setidaknya dua sidang. Sesudah mati, akan diadili pikiran, ucapan dan perbuatan yang berkaitan dgn hablum minallaah. Lalu di mahsyar, akan diadili pikiran, ucapan dan perbuatan yang berhubungan dengan hablum minannas.

 Itulah sebabnya, dawuh kanjeng nabi, akan ada orang yang bangkrut di akhirat. Amal ibadah vertikalnya bagus, tetapi kepada sesama manusia sering dusta, dengki, hasut, fitnah, umpat, mencela dll. Maka bisa habis amalnya. 

Gusti mboten sare. Bagi yang percaya, itu sudah cukup untuk menahan diri. Bagi yang tidak percaya, ia akan menghalalkan segala cara. 

Orang akan mati. Tubuhnya dimakan belatung. Apa yg tersisa? Duit? Kekuasaan? Kesenangan dunia? Bagi yang percaya, yang perlu dijaga dan diperjuangkan sekuat-kuatnya adalah yang akan dibawa mati. Maka perlu bertanya, apakah amal ibadahku bercampur dusta, fitnah, benci, menyakiti liyan dll? Itu semua akan diadili. Tuhan Maha Teliti. Bagi yang percaya, ini sudah cukup untuk berusaha menahan lisan dan perbuatan dari menghina dan menyakiti sesama. 

Kalo mengaku percaya Tuhan Maha Adil dan Teliti, mengapa masih berani berdusta, mencaci maki dan memfitnah? Kalo mengaku percaya pada Tuhan Yang Maha Melihat bahkan ke niat yang disembunyikan, mengapa masih berani berniat jahat dan keji? Jika mengaku yakin firmanNya benar, mengapa masih berani mengumpat kasar padahal  Dia berfirman “celakalah bagi orang yg mengumpat dan mencela?” Jika mengaku semua hanya titipan, mengapa mati-matian berebut titipan dengan cara cara yang jelas Dia larang melalui kalamNya di kitabNya dan melalui ajaran rasul?

Kini aku bertanya-tanya:  santri medsos ini percaya pada apa atau siapa?