PAMER

349925_M

Pujian itu menyenangkan, sehingga orang kadang tidak sadar rela mengorbankan atau melakukan apa saja agar dipuji orang — misal mengejar kekayaan, mobil mewah, dandanan aduhai, dan seterusnya. Continue reading “PAMER”

Advertisements

“Barokah” Kiai

3257101_M

Kita suka cerita karena yang namanya “kisah atau cerita” entah fiksi atau nyata itu amat dekat dengan diri kita, sebab kita sendiri adalah bagian dari cerita yang digelar oleh Tuhan. Itulah sebabnya sejak anak-anak, kita telah akrab dengan cerita. Continue reading ““Barokah” Kiai”

‘Krenteg’ Elek: Desir Nafsu di Batin

2709638_M

Mendengarkan wejangan ulama yang mendalami tazkiyatun nafs dan akhlak (tasawuf) itu seperti menampar diri sendiri. Apalagi jika berguru dan berhadapan langsung dalam ruang-ruang privat, di bilik-bilik suluk, di mana orang diajar untuk memeriksa kejelekan diri hingga ke lapisan-lapisan yang paling halus dan amat dalam. Belajar kepada mereka itu seperti belajar membongkar topeng-topeng kepalsuan yang hanya kita sendiri dan Allah yang mengetahuinya. Di bawah bimbingan mereka kita akan diajari untuk berani jujur pada diri sendiri. Continue reading “‘Krenteg’ Elek: Desir Nafsu di Batin”

NGALAH

2241050_M

Fafirru ilallaah! “Bersegeralah menuju ke Allah.” Dalam bahasa jawa, menuju ke kulon (barat) dikatakan ngulon, ke kidul disebut ngidul. Konon, ngalah dulunya bukan bermakna memilih kalah, namun diartikan menuju ke Allah. Maka ada ungkapan wong ngalah luhur wekasane yang maknanya kurang lebih: orang yang menuju Allah atau tujuan hidupnya hanya karena Allah akan mulia pada akhirnya (husnul khatimah). Continue reading “NGALAH”

Ramaparasu: Behind the Writing

IMG_20180227_184351_405

Pada awalnya menulis dongeng ini adalah untuk mengisi hari libur Sabtu dan Minggu. Hingga kemudian, seseorang yang sangat kuhormati selama 5 tahun terakhir — semacam mursyid, katakanlah begitu — menyarankan untuk menuangkan pemahaman dan penafsiranku atas ajaran beliau kepadaku dalam bentuk tulisan.

Kerangka dan karakter tokoh wayang yang sedang kutulis ulang itu entah mengapa cocok untuk membingkai pelajaran beliau. Akhirnya kurombak lagi tulisanku dengan melakukan sedikit modifikasi cerita dan karakter yang kubutuhkan untuk menuangkan pelajaran itu. Karenanya setahun lebih baru selesai karena hanya menulis di hari libur dan harus berpikir lebih mendalam untuk menuangkan pesan beliau dalam kata-kata yang terbatas.

Tentu teks tidak mewakili 100% pelajaran yang dimaksud beliau. Bagaimanapun mungkin ada kekeliruan dalam pemahaman sebab segala muatan pelajaran di balik kata-kata jauh lebih “mengerikan” ketimbang yang bisa aku tuliskan. Bagaimana, misalnya, harus memaparkan perjalanan “membangun” ilmu yang kokoh lalu meruntuhkannya lagi tanpa kehilangan esensi ilmu itu dengan cara yang nyaris sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, agar sampai pada pemahaman yang amat jelas tentang Realitas tanpa dihijab oleh ilmu itu sendiri?

Untunglah karakter mitologis dan surealis dalam kisah pewayangan banyak membantu untuk menuangkan secara simbolis beragam penghayatan selama perjalanan batin — tentu dengan risiko multitafsir.

Kini ketika teks sudah tercetak dan dibaca orang, penulis tak kuasa lagi memonopoli pemahaman atau mengendalikan penafsiran pembaca. Tetapi, bagaimana pembaca akan memahami pesannya, sudah tidak jadi soal. Pembaca punya kecerdasan sendiri, punya kondisi batin dan maqam sendiri-sendiri di hadapan Tuhan dalam mengarungi hidup sebelum meninggalkan dunia fana, dan punya kebebasan untuk mengambil atau membuang hal-hal yang ada di dongeng ini.

Apapun itu, terima kasih kepada siapa saja yang sudi membaca kisah wayang ini.

#book #buku #novel #wayang #spirituality