Pudarnya Empati di Medsos 

 

| Kadang netizen lupa bahwa di balik sebuah akun medsos ada manusia. Dalam berinteraksi terkadang netizen seakan merasa berhadapan dengan semacam robot media sehingga seringkali netizen, terutama yang hobi  mempertengkarkan sembarang kalir, mudah menulis sesuatu yang menyakiti hati. Mereka mampu menuliskan cemoohan yang tidak akan berani mereka lontarkan di dunia nyata atau saat berhadapan langsung — sebab mulutnya bisa disampluk wajan. 

Algoritma FB memungkinkan orang hidup dalam imajinasi merasa selalu benar. Sistem FB menghadirkan tulisan akun² yang sering berinteraksi dengan kita di beranda. Sialnya, dalam pertengkaran politik dan agama, kita cenderung hanya mau berkomentar dan saling memuji atau ikut dalam bandwagon of hatespeech yang sepaham dengan kita karena kita hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengar. 
Kalau ada komentar berbeda di status kita, kita akan marah. Dalam kasus ekstrem kita menghapus komentarnya atau memblokir, walaupun komentar itu ada benarnya atau cuma bertanya. Polarisasi jadinya makin mengeras.
Salah satu akibatnya adalah rasa empati makin susut. Misal, kalau kita menulis komentar yang kasar dan mengejek atau menghina dengan tujuan sengaja menyakiti, atau tak sengaja menyakiti, lalu orang yang jadi sasaran komentar kita marah, kita bukannya minta maaf namun malah menyalahkan atau mencibir: “Makanya jadi orang jangan baper!” “Kalo ga mau dikomentarin gausah main medsos. Goblok jangan dipelihara!” Dan cibiran² yang semacam itu.
Perlahan tapi pasti, kita semakin tak peka terhadap perasaan liyan, karena kita selalu dalam posisi merasa pendapatku lebih benar, hingga lupa sudah berapa banyak hati yang chellalu quchakity, berapa banyak fitnah, hoax dan kabar sumir yang hasud yang telah kita sebar yang menyebabkan perpecahan. Kita suka dan menikmati perpecahan akibat  banyak hati yang t3rchakitty chellalu oleh apa yang kita bagikan. Kita puas jika orang lain merasa marah dan malu. Dan kita tetap tak merasa bersalah apalagi menyesali diri karena kita selalu muncul di medsos dalam bandwagon yang sama. 
Lama-lama kita mirip humandroid, manusia android. Seperti yang diisyaratkan dalam film Blade Runer, android tak punya dan tak kan pernah punya elemen yang membuat hidup manusia itu sakral dan berharga: empati.
Tanpa empati, akhlak akan mudah menguap. Kurasa kita makin mengerti dawuh kanjeng nabi yang, sialnya, kerap hilang dari ingatan saat kita masuk medsos untuk berkelahi, saling nyinyir dan memaki: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s