Tutuk dan Tutug

mulut

Orang Jawa menyebut mulut dengan bahasa krama madya sebagai tutuk. Sebab ada harapan bahwa apa yang disampaikan oleh tutuk itu tutug, yang bermakna sampai ke ujung tujuan akhir dan tepat sasaran. Tutug dibedakan dari “tekan” (yang juga berarti sampai) karena tekan tidak mesti tutug, yakni belum sampai ke ujung tujuan. Bahasa Jawa memang begitu, “ngemu rasa,” memuat intensitas rasa dan perasaan, yang kadang sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Jika tutuk mengeluarkan kata-kata bijak atau nasihat baik, maka ia dianggap tutug jika bisa sampai ke ujung dari tujuan, mengubah orang menjadi baik. Tetapi kenyataan tidak seideal yang kita pikirkan. Ratusan atau bahkan ribuan kata-kata dan nasihat baik kita baca dan dengar setiap hari, namun seringkali hanya seperti masuk telinga kanan ke luar telinga kiri. Misal, aku tahu sabar itu baik, sebab Tuhan bersama orang yang sabar. Namun aku sendiri sering tidak sabar dan mudah marah.

Kadang begitu. Kata baik dan indah dari tutuk hanya sampai ke tutuk yang lain. Tutuk aku gunakan untuk menyampaikannya ke orang lain sebelum aku sempat mencerna dan mengamalkannya dengan sepenuh hati — dengan maksud agar aku kelihatan baik dan bijak. Sekarang, jika sumber kalam yang baik itu dari kitab suci, bagaimana? Aku membaca “wailul likulli humazatil lumazah,” tetapi saat aku marah kepada seseorang aku melampiaskannya dengan kata-kata “asu bajingan!” atau “raimu asu!” dengan niat menghina karena terlampau marah. Bahkan dalam satu kalimat pendek penuh kemarahan ini, sudah begitu banyak ayat dan kata bijak yang tidak tutug ke dalam diriku dan bahkan kulanggar begitu saja (misal, larangan mengumpat dan mencela. muslim yang kuat adalah yang mampu menahan marah, jangan menghina dan menyakiti hati orang, ayat kesabaran, ayat berlakulah lemah-lembut, dan banyak lagi). Mengapa kalam ilahi dan kata-kata hikmah yang sering kubaca dan kudengar tidak tutug ke dalam diriku? Apakah kalam ilahi dan kata hikmah tidak punya daya?

Tetapi, di sisi lain, ada orang yang tutuknya membaca kalam ilahi dan tutug — para Nabi dan Rasul, serta sebagian ulama atau wali Allah dan orang-orang saleh.

Jadi persoalan sesungguhnya ada dalam diriku sendiri.

Begitulah yang sering kulakukan. Nafsu dan ego pribadi atau kelompok lebih kudahulukan ketimbang perintah dan rambu-rambu dari Tuhan. Sebab hatiku sering lalai ketimbang ingat kepada Tuhan.

Kalam ilahi tidak tutug ke dalam diri ini karena diam-diam aku mengambil hak Tuhan sebagai hakim kebenaran. Prosesnya begini. Ketika aku rajin beribadah dan mengaji, aku menikmati perasaan kedekatan. Tetapi kenikmatan “rasa dekat” ini tak aku barengi dengan muhasabah dan muraqabah yang ketat pada tipu daya nafsu. Sifat nafsu adalah mencari kesenangan. Perasaan nikmat ibadah adalah menyenangkan, dan dibolehkan. Tetapi karena aku tak awas, nafsu menumpang pada rasa nikmat ini. Nafsu menciptakan ilusi bahwa karena merasa nikmat ibadah, itu berarti “aku lebih dekat kepada Tuhan daripada orang lain.” Ini awal perkembangan kepongahan diri jika tidak hati-hati — sebab dengan cara ini nafs menanamkan benih ujub. Kalau kemudian ini tak dikoreksi, maka akhirnya ibadahku adalah demi kenikmatan itu sendiri, bukan karena lillahi ta’ala. Karena merasa lebih dekat, maka diam-diam aku merasa lebih alim daripada orang lain, yang berarti aku lebih benar dalam menjalankan perintah agama ketimbang orang lain hingga sampai pada titik aku menjadi pongah dan lupa bahwa manusia itu selalu ada kekurangan dan kesalahan. Tetapi rasa pongah itu nikmat juga karena merasa di atas angin dan merasa lebih baik itu enak.

Kalaupun aku ingat ada kesalahan, nafsuku cepat-cepat mencari justifikasi dengan cara memengaruhi pikiran untuk mereka-reka pembenaran sehingga aku tidak merasa salah. Maka aku membaca ayat-ayat Tuhan dengan filter nafsuku. Kalam suci yang seharusnya tutug ke relung batin terdalam, hanya sampai pada nafs, dan kupahami menurut kehendak nafsuku. Ini biasanya terjadi karena diri ini kurang ilmu yang dibutuhkan untuk memahami ayat-ayat suci. Tetapi karena sudah terlanjur senang karena merasa sudah paham dan benar, aku enggan menerima kenyataan bahwa ada orang lain yang pemahamannya lebih mendalam ketimbang diriku atau lebih benar dan bagus akhlaknya. Tetapi aku tidak mampu mencapai level pemahaman dan akhlak orang lain itu.

Satu-satunya cara agar ilusi yang menyenangkan ini tidak hilang adalah dengan melontarkan tuduhan negatif kepada orang lain yang aku anggap berpotensi meruntuhkan ilusiku tentang pemahamanku yang paling benar. Aku bisa menyusun banyak dalih dan pembenaran untuk menyalahkan semua orang tanpa dasar keilmuan yang seharusnya. Kata-kata mudah diplintir dan diolah dan diputar-putar untuk menyembunyikan kebodohanku, menutupi ketidakmampuanku atau kemalasanku untuk belajar lebih mendalam. Kalau terdesak, aku tinggal pake ilmu pokoke: “pokoke aku sing bener,” “pokoke kowe sesat.” Ukuran kebenaran dan akhlak adalah diriku sendiri.

Untuk memperkuat ilusi ini, aku membaca dan menghafalkan ayat suci, mendengar tutuk orang saleh menyampaikan kata bijak, untuk aku gunakan sebagai sarana menampakkan kebijakanku dengan mengutip ayat dan kata-kata bijak itu melalui tutukku, tanpa perlu repot-repot mencerna, melatih dan mengamalkan ilmu kebijaksanaan agar tutug pada jiwa ini.

Ada riwayat dari kanjeng Nabi, “Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Al Quran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka.” Tetapi aku lebih buruk dari itu. Membaca sudah berhenti di mulut, belum sampai ke tenggorokan. Tetapi tidak apa-apa, karena walau cuma sampai di tutuk, itu sudah cukup untuk menjaga ilusiku bahwa aku sudah memahami agama secara mendalam dan benar.

Demikianlah salah satu caraku untuk menutupi kebodohanku dalam memahami agama sekaligus menunjukkan aku adalah orang yang beriman dengan sangat benar. Ada banyak cara sebenarnya; lain kali aku akan tuliskan kalau makin banyak orang yang memuji diriku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s