Berbuat Baik

gelasbening

Ia pernah berkata kepadaku :

Kau lihat bintang-bintang itu? Kau tahu, tak semuanya yang kau lihat itu seperti yang kau bayangkan. Boleh jadi cahaya berkelip itu adalah cahaya bintang yang telah pergi jutaan yang lalu, dan cahayanya baru tiba ke retina matamu sekarang karena ia menempuh jarak jutaan tahun cahaya untuk sampai ke sini. Yang kau lihat adalah semacam jejak cahayanya saja, dan kau mengira dari bintang yang masih hidup bertengger di sana.

Seperti itulah kebaikan. Engkau berbuat baik, lalu engkau meninggal dunia. Tetapi kebaikanmu akan terus menyebar, melewati kegelapan-kegelapan, hingga sampai pada tempat yang layak untuk menerimanya. Kita kadang sulit melihat kebaikan karena pandangan kita tertutup oleh kegelapan hawa nafsu kita. Itu seperti ketika engkau memejamkan mata — tak ada yang engkau lihat kecuali apa-apa yang ingin engkau lihat dalam imajinasimu. Tetapi saat engkau merem, itu bukan berarti tak ada cahaya di luar sana.

Orang-orang datang dan pergi, meninggalkan hal-hal yang sebagian kecil kita kenang, dan sebagian besar kita lupakan. Demikian pula kita. Kita akan ditinggal pergi dan pergi dari dunia ini. Sebagian orang mengenal sedikit tentang kita, dan melupakan sebagian besar tentang kita. Pada suatu waktu kelak,mungkin ratusan tahun ke depan jika bumi belum kiamat, bahkan orang tak akan mengenal lagi nama kita yang hanya orang biasa yang bukan nabi bukan rasul, sebagaimana milyaran manusia telah pergi tanpa kita mengenal mereka sama sekali. Kita ada tetapi juga tak ada.

Maka usahakanlah agar yang mereka kenang itu bukan fitnah dan dustamu,  kebencian dan dendammu, tetapi kebaikanmu, cinta dan kasih sayangmu kepada sesama, agar kelak kebaikan itu menjadi cahaya yang akan dikuatkan oleh doa-doa orang yang telah engkau beri kebaikan, sehingga kelak engkau melihat cahaya itu menerangimu di alam kegelapan dan menjadi pemandumu untuk pulang ke tempat seharusnya kita pulang. Teruslah berbuat baik, sebab, meski sudah beribadah puluhan tahun, kita tak pernah tahu, apakah kita bisa selamat atau tidak dalam menempuh perjalanan setelah jasad kita menjadi makanan belatung, setelah segala kepandaian dan kecerdasan kita musnah kala otak kita kembali menjadi tanah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s