Falsafah Erotisme*

widescreen wallpaper

Sebelum pembaca terlanjur menghayal akan membaca tulisan tentang hal-hal erotis karena judulnya, maka perlu segera kunyatakan secara tegas bahwa ini adalah analisis filosofis serius tentang salah satu akar problem mengapa semakin banyak anak muda yang sulit mendapatkan pasangan. Harapannya adalah dengan membongkar akar falsafahnya, jomblo dapat melakukan introspeksi/renungan filsafat yang mendalam dan mendapat solusi. Bukankah Socrates pernah mengatakan, “hidup yang tak direnungkan tak layak untuk dijalani?” Jadi, tulisan ini mengajak anak muda mau merenung agar hidupnya tetap layak dijalani meski dari hari ke hari mengalami tekanan psikologis.

Erotisme adalah falsafah hidup kontemporer yang berakar dari seni modifikasi alat bercinta yang dilakukan oleh Mak Erot. Pada mulanya ini adalah ilmu yang eksotik, dan mengandung unsur goib. Namun karena tercium oleh hasrat kapitalis dan tekanan dari neoliberal dan ekonomi pasar bebas, metode ini melahirkan derivasi fungsi sebagai kegiatan seni transaksional, yang secara ringkas dapat dipadatkan dalam semboyan “anumu rezekiku.” Jadi selama hidup dan sesudah wafatnya Mak Erot, kita bisa melihat promosi modifikasi alat bercinta oleh “anak/cucu Mak Erot” atau “ahli waris Mak Erot.”

 Lalu apa yang dimaksud dengan falsafah (erot-isme) yang berakar dari teknik modifikasi alat vital ini?

Pada dasarnya, metode Mak Erot adalah memanjangkan suatu benda lentur dengan sasaran mencapai panjang yang melebihi batas normalnya. Jadi falsafah dasarnya adalah “melebih-lebihkan sesuatu.” Popularitas ide “melebih-lebihkan” menyebabkan konsep ini tertanam di alam bawah sadar, lalu mengalami pembatinan dan pada akhirnya memunculkan gaya hidup yang bersifat suka memanjang-manjangkan dan/atau melebih-lebihkan berbagai isu, yang menimbulkan sikap hiperbolis terhadap banyak hal. Sebagai ilustrasi, misalnya, sering terjadi khotbah Jum’at yang panjang dan lama tanpa peduli kondisi jamaah.

Di abad 21, dampak signifikan dari budaya melebih-lebihkan adalah pada munculnya inflasi saran atau motivasi kebijaksanaan hidup. Erotisme memengaruhi cara memahami pesan bijak menjadi terlalu idealis, berlebihan secara imajinatif sehingga melupakan hal-hal riil. Misalnya, seperti ditulis pakdhe Puthut dalam salah satu artikel di mojok, bagaimana orang melebih-lebihkan aspek “balasan berlipat ganda dari Tuhan” ketika menjalankan bisnis, sehingga kehilangan daya rasionalnya.

Hal ini menyebabkan kebijaksanaan dan religi yang sebenarnya penting untuk kebahagiaan dan kesejahteraan manusia, justru menjadi sesuatu yang remeh dan ilusif dan menjadi semacam “industri motivasi.” Dulu orang mengemukakan pepatah bijak sesudah mengalami dan mempraktikkan kebijakan itu sendiri, dan gunanya adalah untuk mengajarkan hikmah-kebijaksanaan pada generasi selanjutnya agar dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Sekarang, di bawah pengaruh erotisme bawah sadar, pepatah-bijak sering digunakan secara massif atau berlebihan dalam balutan bisnis, atau digunakan secara anggun oleh orang yang belum  bijak secara hakiki, sehingga terkesan seolah-olah makin sering orang mengemukakan/menulis kata bijak, makin bijaklah ia. Dan pembacanya merasa menemukan pencerahan agung sesudah sekadar banyak membaca tanpa tahu bagaimana mempraktikkannya. Bahkan orang terkadang menulis kata bijak secara berlebihan, hingga berduyun-duyun di jejaring sosial semacam twitter, hanya untuk menarik follower. Pada akhirnya, saking sibuknya menulis atau membaca kata bijak, orang lupa mempraktikkannya atau tak tahu cara untuk mengamalkannya dalam kehidupan riilnya.

Karena motivator tahu bahwa orang galau butuh saran, maka banyak saran motivator menekankan pada hal yang mulia sebagai semacam obat anti nyeri bagi hati yang tersakiti atau tersandera kesendirian. Misalnya, dalam rangka menghibur orang jomblo yang sedang  krisis finansial, atau yang mendadak jomblo karena tercampakkan, atau orang berpacaran yang bokek, sering dikatakan bahwa dalam relasi asmara, termasuk dalam pernikahan nanti yang entah kapan,  yang penting itu cinta dan kasih sayang, atau bahwa saat masih sendiri dengan hati terluka atau sendiri tanpa uang itu tidak apa-apa – sebab pada akhirnya cinta akan membuat segalanya akan indah pada waktunya. Erotisme menyebabkan para penggalau kehilangan nalar kritisnya terhadap saran yang sundul langit ini sehingga menerima saran ini begitu saja lalu mendadak ikut seminar berbiaya mahal, atau rajin membaca dan menulis motivasi, padahal sesungguhnya itu hanya untuk meyakinkan diri sendiri secara semu bahwa dirinya rapopo walau sendiri berkepanjangan.

Seandainya mau berpikir sedikit saja tentu tak gampang terbuai dalam bius industri motivasi. Misalnya, dalam contoh di atas, jika cinta dan kasih saja bisa mengatasi segala persoalan, bisakah kalian membayar rekening listrik atau servis motor/mobil hanya dengan ungkapan cinta atau memberi pelukan kasih sayang pada petugas PLN atau montir? Kalau engkau cewek cakep nan seksi, mungkin pelukanmu bisa menunda penagihan biaya, tetapi bagaimana jika engkau cowok dan petugas PLN atau montirnya cowok juga?

Dalam dosis ekstrim, erotisme melahirkan eskapisme, lari dari kenyataan, yang dalam konteks kejombloan adalah berarti orang berusaha melupakan tetapi tidak ikhtiar menyelesaikan problem kesendirian, dengan cara memindahkan perhatian pada hal-hal lain yang membuat dirinya merasa tak sendiri. Dan kadang eskapisme ini dipertahankan dalam jangka panjang hingga timbul upaya-upaya aneh untuk menentramkan diri. Misal, sebagai upaya justifikasi kesendirian, banyak yang berdalih bahwa sendiri itu bagus, sebab bukankah Tuhan juga Maha Esa, yang berarti sendirian? Tetapi ini gagasan riskan, sebab berpotensi menyekutukan Tuhan karena secara tersirat menunjukkan keinginan menjadi seperti Tuhan dengan menjadi pribadi yang esa terus-terusan. Bagi jomblo beriman, dalih justifikasi ini mengancam akidah mereka dan berpotensi menjerumuskan mereka ke dalam siksa kubur dan neraka.

In the final analysis, erotisme menghambat upaya move-on, yang pada gilirannya berfungsi seperti formalin bagi status jomblo. Maka dari itu, para filsuf dan pemikir sosial dan terutama sekali jomblowan-jomblowati perlu melakukan upaya dekonstruksi atas falsafah erotisme agar populasi jomblo bisa direduksi.

*Pernah dimuat di situs mojok.co

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s