Mampir ‘Nyempil’

bfb78ec22e39ee620cb34daa2ff00f2a

“Bombongan” atau puji-pujian teman dan pendukung, keberuntungan, punya pengikut, punya harta, kuasa, dan media sosial, jika tak disikapi dengan hati-hati sering membuat orang terjebak pada sikap megalomania. Kita sering mendadak merasa penting, sehingga muncul keinginan mengajak orang mempercayai hal-hal yang kita anggap penting dan benar.

Sialnya, kita sering terbentur kenyataan bahwa apa yang kita agung-agungkan, kita anggap penting, ternyata tak dianggap apa-apa oleh orang lain. Maka kita kalap, menambah frekuensi membuat komentar, dan komentar kita merambah ke mana-mana semata-mata agar kita tetap bisa merasa gagasan kita penting dan diri kita penting. Tidak soal jika kita cuma tahu satu bagian kecil namun komentar kita sepuluh kali lipat, seakan sudah tahu semuanya. Maka yang terjadi, kita sering membaca tulisan tentang suatu isu yang lebih mirip pelajaran “mengarang bebas.” Orang tidak kapok-kapok mengarang bebas walau kemudian terbukti karangannya jauh dari kenyataan, sebab mereka merasa penting. Atau, kita tidak ingin kenyamanan kita dalam memegang pendapat yang kita anggap benar itu terganggu oleh fakta atau pendapat lain yang lebih kuat argumennya dan lebih objektif, sehingga kita berusaha mati-matian menolak kenyataan dan fakta agar nyaman hidup dalam khayalan yang memuaskan egoisme kita.

Kadang kita lupa bahwa di medsos kita hanya seperti orang teriak di pinggir jalan tol; adu kuat dalam saling mengejek dan saling nyinyir, demi mempertahankan ego atau tak ingin keyakinan diri yang dianggap penting dan benar menjadi lemah karena argumen atau nyinyiran orang lain. Pertandingan eyel-eyelan ini begitu seru sehingga tak jarang sampai muncul cacian bahkan kalau perlu berdusta. Apapun komentar dan status orang bahkan bisa kita tafsirkan sebagai serangan terhadap keyakinan kita. Ibarat kata, orang menulis kritis tentang si Mukidi, yang marah adalah si A sampai Z. Setiap hari kita waspada dan selalu siap menciptakan sindiran dan nyinyiran, atau siap membalas. Maka ada orang yang buka medsos dengan hawa tegang, waspada, sensi alias gampang merasa disindir, mudah marah, mudah menghina.

Tetapi untungnya, kehidupan tak hanya di medsos. Begitu kita tutup medsos, kita akan kembali ke kenyataan hidup kita yang begitu saja, sewajarnya. Perasaan sebagai orang penting akan pudar saat kita sakit atau ingat belum bayar cicilan. Kita ternyata cuma numpang nyempil di sela-sela kehidupan yang terus berjalan, kehidupan yang kerap tanpa mau menuruti keinginan kita walau kita mau marah atau memaki setiap hari.

Kita merasa begitu penting, sehingga ingin mengubah orang lain mengikuti dan menyetujui apapun yang kita inginkan, bahkan dengan cara paksa, sampai lupa memaksa diri untuk lebih dahulu berubah.

Apakah saya termasuk golongan sensi itu? Ya. Jika saya tak ikut komentar, bukan berarti saya tidak sok tahu. Dalam pikiran, saya sering merasa sok tahu dan kadang ingin ikut memaki juga karena sebal! Saya memaksa diri tak ikutan karena saya punya keluarga ~ saya tidak ingin jika anak saya besar nanti, ia secara tak sengaja membaca jejak digital saya yang lupa saya delete, yang isinya penuh tulisan caci maki, nyinyiran tak perlu, dan sok tahu. Saya deg-degan, kalau-kalau anak saya kelak membaca tulisan ayahnya lalu berkomentar: Membaca tulisan ayah kok jadi kezel ya….

Advertisements

2 thoughts on “Mampir ‘Nyempil’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s