Perahu Nuh Era Kiwari

perahu

EMPAN PAPAN, istilah ini sederhananya berarti saran untuk tahu diri, membatasi diri pada hal-hal yang memang dimengerti benar dan tidak melampaui batas. Jika tak tahu, atau hanya tahu sedikit, lebih baik bertanya sebelum berkomentar, atau diam dan mengamati untuk mengambil hikmah demi keselamatan dan kemaslahatan diri sendiri.

Hal-hal yang tak dimengerti bisa manfaat, bisa mudharat. Tidak tahu bisa jadi manfaat jika ketidaktahuan itu dimanfaatkan untuk belajar. Orang yang tidak tahu akan belajar untuk tahu. Belajar agar tahu berarti harus mengakui diri tidak tahu, belum paham, yang pada gilirannya secara perlahan membawa pada sikap rendah hati, sabar dalam belajar, menunda penghakiman. Jika tak kunjung juga menemukan jawaban, maka diam adalah lebih baik daripada memberi pendapat berdasarkan pengetahuan yang hampa atau sepotong-sepotong.

Yang disayangkan adalah tidak tahu namun memberi pendapat karena merasa tahu padahal informasi yang diterimanya hanya sepotong dan bercampur dusta atau fitnah. Ketidaktahuan menjadi mudharat dengan cara demikian, karena jika tidak tahu tetapi merasa tahu segala hal, ini akan membawa seseorang pada keadaan, yang digambarkan oleh Imam al-Ghazali sebagai tidak tahu bahwa dirinya sesungguhnya tidak tahu. Semacam waham yang diyakini sebagai kebenaran hanya karena sesuai dengan hawa-nafsu atau egonya sendiri yang selalu ingin dibenarkan.

Agama memperingatkan agar kita tak bersikap demikian sebab ada bahaya kita akan jatuh ke dalam penghakiman atas hal-hal yang tidak ketahui, menuduh dan menghakimi hal-hal yang hakikatnya hanya diketahui oleh Tuhan. Orang yang suka menghakimi segala hal yang tak sesuai dengan apa yang diketahuinya, apalagi diimbuhi rasa suka dan tak suka, maka ia menganggap dirinya seolah menjadi pusat kebenaran di alam semesta. Ia akan sulit menahan diri untuk mengomentari segala bidang.

Dalam agama, ada banyak pelajaran untuk menahan-diri: zuhud, puasa, tawadhu, tidak serakah, sabar, menahan marah, tidak mencela/mengumpat, tidak menyakiti hati orang lain, dan sebagainya – semuanya butuh ikhtiar untuk menahan diri. Sebab hidup tidak selamanya nge-gas terus. Hidup juga perlu rem. Ketidaktahuan adalah pertanda bahwa kita harus berhenti sejenak, atau setidaknya mengurangi kecepatan, sebab selalu ada kemungkinan bahwa ada orang lain lebih tahu daripada yang kita tahu, selalu ada orang lain yang mengetahui hal-hal yang belum kita ketahui. Ketidaktahuan mengajarkan kita agar tidak buru-buru, agar kita terus belajar, agar kita rendah hati, sekaligus mengingatkan bahwa kita adalah manusia biasa, yang pengetahuannya sebatas apa-apa yang diizinkan oleh Allah untuk kita ketahui, yang pemahaman kita tidak selalu benar dan selalu ada yang luput dari jaring-jaring akal kita.

Sayyidina Ali karamallahu wajhah pernah dawuh yang kurang lebih maknanya adalah: “jika orang-orang yang tidak tahu itu berhenti berkomentar, maka niscaya pertengkaran akan berkurang.” Maka sebagian orang lebih memilih menjauhi pertengkaran atas sesuatu yang tidak dia pahami benar, karena tiada manfaat dalam pertengkaran atas hal-hal yang hanya didasarkan dari sumber “katanya dan katanya si fulan dan media fulan” yang penuh muatan kepentingan dan ambisi.

Mereka yang ‘arif billah mengajarkan agar kita menahan diri dalam berkata, bertindak dan menilai, menuduh atau menghakimi orang lain, sebab kita mestinya tahu bahwa kelak kita tak akan ditanya apa yang dikatakan orang lain tentang diri kita, kita tak ditanya tentang amal orang lain, kita tak ditanya apakah orang lain harus masuk neraka atau surga; tetapi kita akan ditanya apa yang telah kita perbuat, ucapkan, apa yang kita tuduhkan, dan apa-apa yang tersimpan atau disembunyikan dalam hati kita sendiri.

Di era sosmed yang penuh pertengkaran orang beriman ini, doa Nabi Nuh ini menjadi amat penting agar kita ditolong Allah agar bisa naik ke “perahu empan papan” agar selamat dari “banjir bandang” tengkar, dusta (hoax), umpatan dan fitnah:

Rabbi inni a’udzubika an as’alaka ma laisa li bihi ’ilmun wa illa taghfirli wa tarhamni akun minal khasirin .

Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari sesuatu yang tidak aku ketahui. Jika Engkau tidak memberi maaf dan tidak memberikan rahmat kepadaku, pasti aku termasuk orang yang rugi. (QS. Hud (11) : 47

Wa Allahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s