Yang Engkau Dengar …

music-vintage-wallpaper-5

MENDENGAR DAN MEMBACA | Ini adalah zaman ketika orang semakin lebih ingin didengar, ingin menunjukkan bahwa gagasannya, mulai dari yang serius sampai yang ngawur, adalah lebih benar dan lebih layak didengar.

Lalu orang berbondong-bondong menulis ekspresi gagasan, berdasar informasi yang sepotong-sepotong, informasi yang telah dibingkai dengan kepentingan dan ambisi mulai dari yang halus sampai blak-blakan. Jejaring sosial memfasilitasi kehendak ini: orang-orang ramai mengekspresikan diri lewat tulisan — bahkan mereka tak sungkan mengomentari hal-hal yang tidak mereka pahami sepenuhnya. Masing-masing ingin didengar dan tak jarang ingin dibenarkan pendapatnya. Jika ada orang lain, atau bahkan tokoh besar atau terkenal, berbeda dengan pendapatnya sendiri, yang muncul adalah kecaman bukan berbasis argumentasi, namun prasangka. Dengan dalih “ingin berdiskusi,” mereka melontarkan kecaman berdasarkan pengetahuan yang terbatas yang, tentu saja, akan dibalas oleh komentar orang lain yang tak sepaham dan juga berdasarkan informasi yang sepenggal, dengan cara ad hominem – bukan gagasannya yang diserang, namun orangnyalah yang diserang. Ujungnya, caci-maki dan mencela pribadi orang lain. Mereka mendengar dan membaca hanya ingin untuk “memberi pelajaran” kepada orang lain hingga lupa mengamalkan pelajaran itu pada dirinya sendiri. Kita terkadang mendengar atau membaca bukan untuk mengambil pelajaran, tetapi untuk mengambil sesuatu yang kemudian dipakai untuk menghantam orang lain.

Banyak orang ingin didengar, tetapi banyak yang ingin didengar berdasarkan nafsunya: ketidakpuasannya ingin didengar, kejengkeleannya ingin didengar, kemarahannya ingin didengar. Mereka mencatut ucapan dari tokoh-tokoh yang dihormati yang lalu ditafsirkannya dan dibingkai sesuai keinginan dan gagasannya sendiri. Mereka memperalat nama-nama besar, ucapan-ucapan tokoh penting, untuk menjustifikasi ambisi atau hawa nafsunya. Sampai di sini saya ingat kutipan kalimat – saya lupa siapa yang menulisnya – yang kira-kira berbunyi semacam ini:

Bagaimana kita mendengar dan membaca? Kita membaca dan mendengar dengan lensa prasangka, melalui ambisi, keinginan, ketakutan, kecemasan, keinginan dibenarkan, ingin menang sendiri. Kita mendengar hanya apa yang ingin kita dengar, hanya apa yang akan memuaskan ego kita, yang memberi kesenangan diri kita, yang hanya akan meringankan kekecewaan kita sendiri. Kalau kita mendengar melalui layar keinginan nafsu kita, maka kita jelas hanya mendengarkan diri kita sendiri: mendengar dan membaca keinginan nafsu kita sendiri.

People love to talk but hate to listen. Listening is not merely not talking, though even that is beyond most of our powers; it means taking a vigorous, human interest in what is being told us. You can listen like a blank wall or like a splendid auditorium where every sound comes back fuller and richer.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s