Shalawat Fatih

fatih

Membaca shalawat dengan disertai hudhur, seakan sedang menghadap kanjeng Nabi, dengan rasa takzim, perlahan-lahan akan menumbuhkan rasa rindu. Apapun shalawat yang dibaca, dampaknya akan sama. Shalawat dari manusia adalah bentuk doa, sehingga sering kita melihat banyak shalawat yang diiringi dengan doa dan harapan, setidaknya harapan mendapatkan syafaat dari beliau.

Sebagian besar ulama membaca berbagai bentuk shalawat — dan bagi kalangan “tradisional,” redaksi shalawat itu banyak, sebagaimana dapat dilihat dalam berbagai kitab, semisal Dalail Khayrat. Salah satu dari sekian redaksi yang mempesona adalah Shalawat Fatih, yang menurut sebagian riwayat diilhamkan kepada Syaikh Musthafa al-Bakri dan menjadi salah satu shalawat yang menjadi bacaan utama Tarekat Tijaniyyah dan beberapa tarekat lainnya.

Shalawat Fatih ini layak dibaca dan dihayati dengan kehadiran rasa, sebab di dalamnya terkandung doa yang amat relevan dengan situasi saat ini. Kita melihat ada orang mengklaim sedang berusaha menegakkan kebenaran diin ilahi namun dengan cara-cara yang bertentangan prinsip kejujuran dan kasih-sayang: mengaku berdakwah namun dengan menggunakan dusta, fitnah dan amarah serta kebencian tanpa pandang bulu kepada siapapun yang tidak sejalan dengan pendapat mereka.

Sesungguhnya kanjeng Nabi adalah nashiril haqq, penolong yang haq, yang benar, dengan kebenaran, bukan dengan cara-cara penuh kepalsuan. Bagaimana mungkin menegakkan kebenaran dengan cara-cara yang didasarkan pada landasan yang palsu dan penuh ketidakjujuran? Maka kalimat “nashiril haqqi bil haqqi,” menolong kebenaran dengan kebenaran, dan “wal hadi ila sirathikal mustaqiim” adalah sebentuk doa sekaligus pengakuan: bahwa kita sebenarnya dhoif dan hina, mudah bergeser dari jalan yang lurus, terperangkap dalam hawa nafsu dan ego yang mengatasnamakan apa saja. Tak heran jika dalam shalat kita selalu berdoa minimal 17 kali dengan membaca ihdina shirat al-mustaqim, sebab setiap saat kita senantiasa rawan diselewengkan dan diperdaya oleh hawa nafsu kita sendiri. Dalam Shalawat Fatih, redaksi nashiril haqqi bil haqqi menyiratkan doa agar dalam menjalankan agama, kita bisa memilah dan melihat tipu-daya nafs, agar kita tetap di jalur sirathal mustaqiim, sebagaimana yang diajarkan oleh ALlah dan Rasul-Nya.

Shalawat apapun, jika diamalkan dengan sepenuh rasa dan hudhur, perlahan akan membuka hidayah dan yang juga penting adalah berkahnya yang tak terduga; entah bagaimana, perlahan-lahan kita menjadi tak suka dan menutup diri dari hal-hal yang berbau maksiat lahir dan batin, menjauhi kepalsuan, menjauhi nafs al-amarah, hingga pada titik tertentu pengamalnya akan merasakan kelembutan yang mengagumkan dari kehadiran ruhani kanjeng Nabi. Maka kita bisa menjumpai ada orang-orang yang menangis penuh kerinduan setiap kali nama Nabi disebut, setiap kali kisahnya diceritakan. Tidak heran jika kita melihat sebagian ulama arifbillah menjadi mabuk cinta kepada kanjeng Nabi, dan dari mereka lahirlah syair-syair kerinduan, pengagungan dan cinta kepada kanjeng Nabi al-musthofa.

Allahumma shalli wassallim wa barik ala sayyidina Muhammad al-fatihi lima ughliqa wa al-khatimi lima sabaqa, wa nashiril haqqi bil haqqi, wal hadi ila sirathikal mustaqiim. Shallaahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi haqqa qadrihi wa miqdarihi al adzim

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s