Santai: Agar Hidup Lebih ‘Anteng’

potoh

Aku selalu suka menghabiskan waktu ngobrol atau sekadar duduk diam lama-lama, santai sambil menikmati rokok, membiarkan waktu seakan berjalan begitu lambat.

Orang bergerak cepat karena zaman mendorong begitu. Namun kecepatan menimbulkan dampak, salah satunya adalah hilangnya detail dan penghayatan atas kehidupan. Sebagaimana kita naik motor, banyak detail pemandangan tak nampak: Semut di rerumputan, atau embun yang menetes dari dedaunan, suara gemericik air, bunga warna-warni yang bergetar ditiup angin senja, dan hal-hal yang kita anggap tak penting, sebab kita merasa diburu waktu.

Demikian juga pikiran yang bergerak cepat, nyaris tanpa istirahat, menyebabkan kita lupa, tak peduli, atau abai pada banyak hal, sampai pada titik kita tak bisa lagi membedakan mana lintasan pikiran, mana suara hati dan mana suara ego, emosi, perasaan. Semuanya bercampur-baur di kepala, sehingga kita tak mengenali diri sendiri. Kita mengidentifikasi diri sebagaimana yang kita pikirkan, bukan sebagaimana apa adanya.

Jika identifikasi diri dibatasi dan ditentukan oleh pikiran, ego, emosi dan situasi, lantas bagaimana bisa mengenal Tuhan sebagaimana seharusnya Dia dikenal? Bukankah man arafa nafsahu faqod arafa rabbahu?

Dalam kesantaian laku dan pikiran, ada kesempatan untuk memasuki situasi hening, anteng. Dalam situasi ini kita bisa menangkap apa-apa yang diabaikan oleh pikiran, hingga lama-lama Tuhan menunjukkan cara belajar untuk tidak mengetahui, dalam hal-hal sebagaimana yang Dia kehendaki. Perlahan kita dapat mendengar perbedaan suara pikiran dan suara dari hati, suara ego, juga suara-suara hasrat tersembunyi yang seringkali menipu diri. Dari luar, kita tidak tampak berubah, tetapi di dalam, ada perubahan besar yang sedang berlangsung yang hanya Tuhan dan kita sendiri yang mengetahuinya. Kesadaran akan campur-tangan Tuhan dalam proses di dalam batin ini akan membawa kita mampu untuk jujur pada diri sendiri, dan ini baru permulaan untuk memasuki dunia yang lebih halus dan bermakna secara ruhani.

Bagi yang tenang dan mengingatNya dalam kesantaian dan anteng, setiap tarikan nafas akan terasa begitu bermakna. Sebagian orang ber-muhasabah setiap saat dengan cara ini, entah itu saat sendirian atau dalam keriuhan perbincangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s