Futuwwah : Sikap Ksatria dalam Ibadah

1328342-bigthumbnail

Siang itu kami sowan kepada seorang kyai untuk menyerahkan uang yang memang seharusnya kami serahkan sebagai penambah dana untuk acara istighosah dan maulid yang kami adakan di pesantren beliau. Uang telah diletakkan di hadapan beliau. Sang kyai membuka pecinya, garuk-garuk kepala, lalu mengenakannya lagi sambil tersenyum dan berkata, “Ini uang sah, halal dan thoyib, tetapi jika saya menerimanya, maka saya berdosa.” Kami tercengang, dan mencoba menjelaskan bahwa itu memang sudah hak beliau, dan para penyumbang sudah ikhlas. Beliau melanjutkan, “Ya berdasar itu saya tidak salah jika menerimanya, namun saya berdosa. Sebab, sejak awal saya sudah niatkan kepada Allah, dan Allah Maha Tahu niat hambanya, bahwa saya sudah mengikhlaskan untuk menutupi berapapun kekurangan dana untuk maulid…” Maka kami pun tak bisa membantah lagi. Akhirnya beliau memberi jalan keluar, “Saya memang berdosa jika menerima, maka jangan serahkan pada saya. Serahkan pada yang membutuhkan, para santri yang memang butuh, misalnya…

Barangkali kita menganggap beliau “berlebihan” dalam menyikapinya. Tetapi orang seperti beliau, yang sudah dikaruniai pengetahuan dan pengalaman tertentu, sikapnya menunjukkan salah satu aspek penting dalam perjalanan menuju Allah: al-futuwwah, sikap kekesatriaan ruhani, kedermawanan dan keteguhan menyatukan niat dan amal.

Futuwwah adalah kedermawanan dan kekesatriaan spiritual yang memuat pengetahuan tinggi tentang penghambaan. Futuwwah, berasal dari kata Fata, yang berarti “muda, pemuda.” Dalam Qur’an istilah ini mengacu pada pemuda gua Kahfi, “Mereka orang muda yang beriman kepada Tuhan dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” Dalam bagian lain, surat al-Anbiya, ada ayat yang menyebut ‘pemuda’ yang merujuk pada Nabi Ibrahim. Dalam kisah nabi Musa, beliau dikatakan diiringi seorang pemuda yang menemaninya mencari “pertemuan dua samudera.”

Dari ketiganya kita bisa menarik hikmah. Pemuda Kahfi memiliki iman yang kokoh, dan karenanya mereka ditambahi petunjuk di jalan Allah. Nabi Ibrahim sudah menghancurkan semua berhala kecuali satu yang paling besar. Dan ketika beliau ditangkap dan ditanya apakah beliau yang merusak patung-patung itu, Nabi Ibrahim tidak menjawab “Aku yang menghancurkannya,” melainkan “Patung paling besar itu yang menghancurkannya.” Pada poin inilah Nabi Ibrahim menunjukkan kekeliruan manusia dan menciptakan kesadaran baru — bahwa manusia pada hakikatnya tak memiliki kekuatan apapun. Secara spiritual, kisah ini menunjukkan efek “Fata,” “Orang muda yang memiliki kapasitas ruhani,” yakni mengubah situasi penghambaan yang palsu. Dan kepada anak muda pula Musa mengajarkan agar ia mengikuti jejaknya untuk terus berjalan sampai ke pertemuan dua samudera. Syaikh Ibn Athaillah menafsirkan bahwa pertemuan dua samudera adalah pertemuan antara syariat dan haqiqah, semacam sintesis pengetahuan yang menyatukan yang didasari oleh pengetahuan tentang Tauhid. Bagi orang yang telah sampai ke titik pertemuan itu, maka syariat tak memisahkan dirinya dari haqiqah, dan haqiqah tak memisahkan dirinya dari Syariat. Manusia semacam ini meletakkan sesuatu tepat pada posisi sebagaimana dikehendaki Allah berdasarkan pengetahuan yang ma’rifat yang dianugerahkan kepadanya. Dan orang semacam ini pengetahuannya selalu bermanfaat (ilman nafi’an) karena sumbernya dari al-Haqq.

Maka kita paham mengapa doa ashabul kahfi berbunyi “Rabbana atina min ladunka rahmah, wa hayyi’ lana min amrina rasyada” — arti min ladunka adalah “langsung dari-Mu,” yakni pencerahan atau penyaksian dan pengetahuan atas tajalli dari Rahmat yang tiada terbatas. “Min amrina rasyada” adalah “pedoman, petunjuk, bimbingan, yang tepat dan benar” dalam segala urusan. In the final analysis, futuwwah memiliki relasi yang lembut dengan petunjuk yang benar.

Meniatkan sesuatu karena Allah ta’ala, dengan kesadaran penuh niatnya itu diketahui Allah, adalah seperti berjanji kepada Allah. Dan sikap ksatria adalah menepati janji. Seperti contoh di atas, pak kyai telah berjanji kepada Allah untuk membantu pendanaan dengan ikhlas, lillahi ta’ala, dan ia tak boleh mengingkari janji, sebab ingkar janji adalah ciri orang munafik. Meski niatnya hanya disimpan, namun Allah berkehendak lain: beliau “terpaksa” membuka janji rahasianya dengan Allah itu karena situasi mengharuskan demikian, dan beliau membuka pun bukan karena ingin pamer, tetapi karena beliau tahu Allah berkehendak membukakan janji ini sebagai pelajaran ruhani.  Beliau berusaha menempatkan diri dalam posisi yang seimbang dan kokoh; maka paduan pengetahuan ini menjadi pengetahuan yang sekaligus tindakan. Futuwwah, kata Syaikh Imam Abu Hafs, adalah “engkau melakukan sesuatu dengan adil, yakni berdasarkan petunjuk yang benar dari ilahi (rasyada), tanpa disertai oleh keinginan sendiri,” yakni melakukan sesuatu karena Allah, bukan karena hasrat diri. Puncak futuwwah adalah efek atau akibat tertinggi dari petunjuk yang benar (menurut Allah).

Adab [dalam al-futuwwah] berarti hidup di dunia di dalam kehadiran Tuhan. Tetapi kita mungkin sedang berada di tengah-tengah situasi yang terus-menerus menarik perhatian kita ke hal-hal yang membuat kita melupakan-Nya. Itulah mengapa kita perlu teman perjalanan, dan rutin bersilaturahim dengan orang-orang yang membuat kita ingat kembali kepada-Nya.

Kini, sudahkah kita bersikap ksatria dengan menepati janji kita pada Allah yang tersirat dalam niat-niat kita, baik dalam beribadah ritual maupun sosial? Apakah kita telah jujur pada diri sendiri dan kepada Allah tentang perbuatan yang kita lakukan? Futuwwah dalam hal ini menjadi upaya menelisik hasrat-hasrat nafsu duniawi tersembunyi di dalam amal ibadah kita, bermuhasabah untuk mengetahui apakah ada “perompak di jalan Tuhan” dalam diri kita sendiri. Jika kita tak jujur pada diri sendiri, itu sama artinya dengan tidak jujur pada ALlah Yang Mengetahui dan Melihat segala niat dan perbuatan yang kita sembunyikan rapat-rapat sekalipun. Tak jujur, dan berusaha menyangkal hasrat dan nafsu duniawi kita dengan bungkus agama sama artinya seolah-olah kita hendak melakukan tipu-daya (makar) kepada Allah, seolah-olah kita menyangka Dia tak mengetahui niat kita tersembunyi kita. Jika ini terus kita lakukan, kita tak bersikap ksatria pada diri kita sendiri, dan kita terus berusaha melakukan “makar” kepada Allah, hingga lupa bahwa innallaaha khairun maakirin, Allah adalah sebaik-baik pembuat tipu daya. Kita hendak menipu Tuhan, tetapi tipuan itu cepat atau lambat berbalik menipu diri kita sendiri dan merugikan kesehatan jiwa dan ruh kita.

Astaghfirullah al-adzim. Rabbana atina min ladunka rahmah, wa hayyi’lana min amrina rasyada. Allahumma inni as aluka ilman nafi’an, wa amalan mutaqabbalan, wa rizqan wasi’an, wa taubatan nasuha

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s