PUNCAK KERAMAIAN

SONY DSC
SONY DSC

Semestinya ia tak boleh merapal mantra itu di bawah cahaya matahari. Namun Dewi Kunti yang belum menikah itu membacanya pada siang hari sehingga Batara Surya muncul di hadapannya, dan membuatnya hamil tanpa berhubungan badan. Sang Dewa Matahari membantunya agar tetap perawan: Kunti mampu melahirkan putranya melalui telinga. Jabang bayi itupun diberi nama Karna. Kunti lalu melarung putranya itu di sungai. Bayi Karna ditemukan dan dasuh dan dibesarkan oleh keluarga kusir kereta, Radea.

Karna adalah pria berjiwa ksatria, sakti dan setia pada kawan, juga sangat dermawan. Namun sebagai anak buangan, hidupnya terlunta-lunta. Hidupnya mengalami banyak hinaan — bahkan dari saudara-saudaranya sendiri, Pandawa Lima, yang tak mengetahui dia adalah kakak tertua mereka dari ibu yang sama. Resi Durna pun enggan menerimanya sebagai murid. Tetapi hidup selalu memiliki tikungan tajam yang ganjil: Karna justru dihargai dan diangkat martabatnya oleh raja yang penuh angkara murka, Prabu Duryudana. Maka Karna pun menjadi senapati perang di pihak Kurawa dalam Bharata Yudha.

Menjelang Bharata Yudha, Dewi Kunti menemui Adipati Karna, mencoba membujuknya agar beralih membela Pandawa. Demikian pula Sri Kresna, titisan Wisnu, juga mencoba membujuknya. Namun Karna tak goyah pendiriannya, meski ia tahu siapa yang dibelanya. Ia mengatakan kepada Kresna bahwa ia sudah tahu takdirnya akan kalah, entah bagaimana caranya.

Dalam peperangan Karna kehilangan senjata saktinya, Kunta Shakti pemberian Dewa Perang, Batara Indra, yang hanya boleh dipakai sekali. Karna terpaksa keluarkan senjata untuk membunuh Raden Gatotkaca setelah sebelumnya Karna mampu menewaskan Abimanyu, Putra Arjuna. Abimanyu tewas mengenaskan, sehingga membuat ayahnya sangat sedih dan marah.

Pada hari ke-17, Karna berhadapan dengan Arjuna. Dalam pertempuran, Karna mengendarai kereta dengan kusir Prabu Salya, sedangkan Arjuna dengan kusir Sri Kresna. Arjuna sempat terdesak. Dalam suatu kesempatan, Karna melakukan trik cerdik dengan keahliannya. Ia membuat Arjuna lumpuh sejenak dengan memanah dada Arjuna. Ketika Arjuna belum pulih dari serangan pertama, Karna melepaskan panah ke arah kepala Arjuna untuk membunuhnya. Khrisna menyelamatkan Arjuna dengan menekan kereta mereka sampai amblas ke tanahi, sehingga panah Karna meleset dari kepala Arjuna.

Tetapi jauh hari sebelum perang, Karna pernah berbuat kesalahan dengan menzalimi seorang brahmana, Parashurama namanya, yang mengutuknya bahwa kelak ia akan tak berdaya dalam perang. Kutukan itu telah tiba, ketika kemudian kereta Salya terperosok dalam lubang dan tak bisa bergerak. Akhirnya Arjuna pun melepaskan panah sakti Anjalika yang menembus dada Karna. Namun Karna tak segera mati.

Senja telah tiba, perang dihentikan sementara. Karna terbaring kesakitan dalam sunyi. Tetapi ujian untuknya belumlah berakhir. Krisna diam-diam datang dengan menjelma sebagai seorang pertapa dan meminta sedekah kepadanya. Karna yang terluka parah tidak memiliki apa pun untuk diberikan,namun lalu ia ingat masih memiliki satu gigi emas. Dengan penuh kesakitan Karna mencabut gigi emasnya, membersihkannya kemudian memberikannya kepada Krisna dalam wujud pertapa sederhana. Dengan demikian Karna menjadi satu-satunya manusia yang telah memberikan sedekah langsung kepada Dewa Wisnu sendiri. Krisna memberikan kesempatan kepada Karna untuk mengajukan satu permintaan terakhir kepadanya. Karna meminta agar jenasahnya diperabukan di tempat yang paling suci di dunia. Sebagai Wisnu, dalam kesunyian Sang Dewa memperabukan jenasah Karna di tempat khusus: di telapak tangannya Dewa Wisnu sendiri.

Karna adalah telinga. Kita sesungguhnya memiliki “telinga ruhani” yang menjelma dari cahaya kebenaran seterang cahaya matahari pada siang hari. Namun seringkali kita mengikuti suara-suara di luar telinga ruhani kita sendiri. Hidup kita menjadi seperti kereta yang dikusiri oleh suara-suara ramai dari luar, suara-suara yang mengabarkan martabat dan kehormatan yang tak abadi sehingga bahkan suara nurani yang adalah “ibunda” kita sendiri dan suara Tuhan sekalipun kita tolak dengan begitu banyak alasan. Maka kita suka pada keramaian-keramaian: pesta, puja-puji manusia, peperangan demi kekuasaan atas nama apa saja, kebencian demi membenarkan ego sendiri, dan seterusnya. Namun pada akhirnya, yang fana akan selalu ada batasnya. Ketika keramaian sudah pada titik tertingginya, ia akan tak terdengar lagi.

Puncak dari segala keramaian adalah sunyi

Dalam kesunyian, kita mendengar kembali suara-suara yang terlalu lama kita abaikan. Kita mendengar kembali melalui telinga ruhani. Kita mendengar kembali apa pelajaran hidup yang pernah disampaikan sebelum kita diwujudkan dalam bentuk manusia. Karenanya, orang-orang arif, seperti kanjeng Nabi, mengajarkan agar “matilah sebelum mati.” Masukilah ruang sunyi-hening sebelum masuk ruang sunyi di dalam bumi.

Dalam kesunyian, Karna mendengar kembali suara itu. Ia pun kembali ke tangan Wisnu.

Selamat Tahun Baru
2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s