Imam al-Ghazali

ghazali

Abu Hamid al-Ghazali lahir di Thus, Iran sebelah utara, pada 1058. Beliau mempelajari fiqh dibawah asuhan Syekh Ahmad ibn Muhammad ar-Radhkani al-Tusi dan kemudian meneruskan belajarnya kepada Imam Abu Nasr al-Ismaili al-Jurjani. Pada tahun 1077-1078 Imam al-Ghazali pergi ke Nishapur untuk berguru kepada Imam Abu al-Ma’ali al-Juwayni, yang dikenal sebagai “Imam Haramayn.” Al-Ghazali berguru kepadanya untuk mempelajari ilmu kalam (teologi), psikologi, logika, dialektika dan ilmu-ilmu alam. Diduga pada masa ini Al-Ghazali mulai berkenalan lebih akrab dengan ajaran Sufi, sebab Imam Juwayni ini adalah murid dari Sufi terkenal, Abu Nu’aym al-Isfahani.

Karena prestasi dan kecerdasannya pada 1091 beliau diangkat menjadi profesor di Madrasah Nizamiyyah yang bergengsi di Baghdad. Selama periode ini beliau menulis beberapa karya tentang filsafat, teologi (ilmu kalam), dan beberapa tulisan yang membela kekhalifahan Abbasiyyah dari kecaman lawannya, Kelompok Isma’iliyyah. Krisis emosional dan spiritualnya terjadi pada 1095, yang menyebabkannya meninggalkan jabatannya dan masuk ke jalur pendidikan Sufi.

Menurut beberapa Hagiografi, krisis emosional dan peralihan ke jalan Sufi ini sebagian besar dipengaruhi oleh adiknya, Ahmad al-Ghazali, yang lebih dahulu hidup sebagai Sufi. Menurut kisah yang masyhur, suatu ketika Imam al-Ghazali menjadi imam di masjidnya, sementara Syekh Ahmad al-Ghazali tidak mau menjadi makmumnya. Karenanya Imam al-Ghazali meminta kepada ibunya agar menyuruh sang adik itu mau menjadi makmum agar Imam al-Ghazali tidak terkena tuduhan buruk dari masyarakat. Setelah mendapat perintah dari ibunya, maka Syekh Ahmad al-Ghazali pun bersedia menjadi makmum. Namun di tengah-tengah shalat Syekh Ahmad al-Ghazali memisahkan diri dan melakukan shalat sendirian (munfarid). Selesai shalat Imam al-Ghazali bertanya kepada adiknya mengapa ia memisahkan diri. Syekh Ahmad al-Ghazali menjawab bahwa beliau melihat perut Imam al-Ghazali penuh darah. Imam al-Ghazali pun mengaku bahwa saat shalat, dirinya berpikir tentang penulisan persoalan darah haid.

“Teguran mistis” dari Ahmad al-Ghazali inilah yang menurut sebagian penulis hagiografi menyebabkan Imam  Abu Hamid al-Ghazali bertekad bulat menempuh suluk dengan mengembara ke padang  pasir dan berbagai negeri untuk mempelajari Tasawuf. Melalui teguran itu beliau  menyadari satu hal penting, seperti yang ditulisnya sendiri dalam karya biografisnya, Munqidh min al-Dalal:

“Pengetahuan lebih mudah ketimbang amal. Aku mengawali dengan banyak membaca buku dan mendapatkan pemahaman intelektual yang menyeluruh tentang prinsip-prinsip ilmu. Namun kemudian aku menyadari bahwa yang paling penting dan utama dari prinsip-prinsip itu hanya bisa direngkuh melalui pengalaman, zawq dan perubahan watak (tazkiyatun nafs).”

Pada 1096 beliau pergi ke Damaskus, dengan mengenakan baju kumal. Beliau mampir di Khanaqah Samisatiyya, dan bekerja sebagai pelayan dan tukang bersih-bersih di pondok itu. Konon beliau pernah berguru kepada seorang sufi yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu. Gurunya ini yang membantu Imam al-Ghazali belajar menanggalkan keegoan dirinya dan menjadi sosok yang tawadhu dalam arti yang sebenarnya.

Imam al-Ghazali juga sering menyepi di menara masjid Umayyah (kelak menara ini dikenal sebagai Menara al-Ghazali). Di ruangan ini beliau mengurung diri, menutup pintu sehingga bebas dari gangguan orang-orang, dan melakukan banyak ibadah. Selama mengasingkan diri inilah beliau menulis kitab monumentalnya, Ihya Ulumuddin(Membangkitkan Ilmu-ilmu Agama), dan beberapa kitab tasawuf lain, terutama Misykat al-Anwar (Ceruk Cahaya).  Dari Damaskus, Imam Ghazali berkelana lagi ke Yerusalem, Hebron, Hijaz, dan kemudian ke Mesir (ke Kairo dan Alexandria). Beliau sempat mengajar sebentar, lalu mengembara lagi, memperdalam latihan ruhani, hingga, seperti disebutkan dalam hagiografi tradisional,  beliau mencapai, maqam Qutb al-Wujud (Kutub Eksistensi). Pada 1106 beliau pindah ke Nishapur untuk mengajar. Tak lama kemudian Imam al-Ghazali menulis karya otobiografinya, Munqidh min al-Dalal (Menghindari Kesalahan), beberapa kitab fiqh dan filsafat. Tak lama sesudah pensiun dari mengajar beliau meninggal di Thus pada tahun 18/19 Desember 1111. Dalam tradisi hirarki kewalian, sebagian besar Sufi menyatakan bahwa Imam al-Ghazali berkedudukan sebagai Qutb al-Awliya (Wali Kutub) pada zamannya.

Dalam tulisan-tulisannya, Imam al-Ghazali menyatakan bahwa, bagi orang awam, mereka cukup mengikuti kewajiban-kewajiban yang ditentukan oleh agama. Mempelajari ilmu kalam memang ada manfaatnya bagi sebagian orang namun ilmu kalam tidak akan memuaskan bagi orang-orang yang skeptis dan kritis. Filafat, menurut Imam al-Ghazali, bisa membantu menjelaskan beberapa hal, seperti yang ditunjukkan oleh ilmu logika. Imam al-Ghazali sendiri berperan penting dalam memperkenalkan logika ke dalam ilmu kalam. Tetapi, dalam soal-soal metafisika, filsafat tidak bisa menunjukkan atau memberikan penjelasan yang kokoh dan memuaskan, dan bahkan bisa jadi menyebabkan kekufuran. Pada akhirnya, menurutnya, hanya Sufi yang memberikan jalan dan metode terbaik. Beliau menyatakan bahwa ajaran Sufi berasal dari pengalaman langsung, dzauq (rasa), bukan dari nalar saja. Namun, ekspresi ajaran Sufi harus berada dalam batasan doktrin agama (syariat) dan, sampai tingkat tertentu, dalam  batasan logika. Misalnya, menurut Imam al-Ghazali, ekspresi ekstatik seperti Ana al-Haqq dari al-Hallaj, yang sepertinya melanggar batasan agama dan logika, adalah ungkapan yang mendeskripsikan secara tak sempurna pengalaman mistis subyektif, bukan menunjukkan realitas objektif. Perhatian utama Imam al-Ghazali dalam karyanya adalah praktik moral (adab, akhlak) dan panduan spiritual, bukan akurasi atau konsistensi teoritis. Ihya Ulumuddin, yang terdiri dari 40 Bab, secara garis besar menunjukkan bahwa jika seseorang mengamalkan syariat, mengutamakan adab dan akhlak, dan sekaligus mengamalkan tasawuf yang benar, maka perjalanannya menuju Allah adalah seperti perjalanan tiada akhir sebab setiap kali salik naik ke posisi yang lebih tinggi ia akan selalu menemukan kedalaman makna syariat yang  selalu baru dan berbeda. Salah satu karya mistis al-Ghazali yang paling sulit, tetapi sangat memengaruhi tradisi filsafat-cahaya adalah Misykat al-Anwar. Tafsirnya atas ayat cahaya begitu mendalam dan pelik. Ini adalah karya metafisika cahaya yang sangat canggih.

Pengaruh Imam al-Ghazali dan ajarannya tak diragukan lagi, sehingga sebagian sufi generasi berikutnya mengaku mereka mengikuti Tarekat Ghazaliyah, meski Imam al-Ghazali sendiri tidak secara formal membentuk sebuah organisasi tarekat. Namun sebagian sejarawan berpendapat ada sisi buruk dari popularitasnya: Kebesaran Imam al-Ghazali yang luar biasa, dimana serangannya pada ilmu filsafat sangat berpengaruh pada zamannya membuat umat Islam selama beberapa puluh tahun tak mengkaji ilmu filsafat secara serius yang menyebabkan potensi kritis akal terhambat. Untungnya, sebelum akhirnya muncul sanggahan yang seimbang dari ahli filsafat Islam terbesar, Ibn Rushd, tradisi filsafat tetap dihidupkan dalam lingkaran sufi Persia, melalui “guru cahaya” Suhrawardi al-Maqtul. Ibn Rushd mengkritik pandangan-pandangan filosofis Imam al-Ghazali. Kritik lain yang cukup sengit datang dari Abu Faraj ibn al-Jawzi (w. 1200). Al-Jawzi adalah pendakwah dari mazhab Hanbali, yang mengecam keras ajaran Harits al-Muhasibi dan Imam al-Ghazali.

 Tetapi lebih banyak tokoh luar biasa yang dipengaruhi secara positif oleh kitab Ihya, salah satunya yang pantas disebut karena ikut mewarnai tradisi Tasawuf yang begitu luas ini adalah Ayn Qudhat al-Hamadzani, murid dari Ahmad al-Ghazali. Ajaran Ayn Qudhat merupakan salah satu ajaran yang kelak mewarnai perkembangan Tasawuf yang bercorak lain, di anak benua India.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s