Takbir

dandelion-flowers-wallpapers-01

Kebesaran-Nya tak dapat dibandingkan, dan tak pantas dibanding-bandingkan. Adakah sesuatu yang dapat dibandingkan dengan Allah jika segala sesuatu pada hakikatnya tiada? “Segala sesuatu itu binasa,”demikian dikatakan dalam surat ar-Rahman. Menurut para sufi, ‘kebinasaan’ ciptaan, termasuk manusia, bukan terjadi dalam suatu momen atau waktu. Tetapi manusia itu sudah binasa, fana’, karena secara hakikat “Tiada Wujud Selain Allah.” Ini persoalan dzauq, olah-rasa ruhani, sehingga ketika Sufi bicara tentang fana, lidah mereka kelu tak bisa berkata apa-apa lagi. 

Kita shalat diawali dengan takbiratul ihram. Allahu akbar. Meskipun pada hakikatnya Allah tak bisa dibandingkan, namun dalam korelasinya dengan ciptaan-Nya sebagai refleksi dari Wujud-Nya (tajalli-Nya), maka Allah dikatakan “jauh lebih besar” dari ciptaan, jauh  lebih besar dari apa-apa yang kita sangkakan atas-Nya. Membandingkan Allah sebagai “lebih besar” dari segala sesuatu ini adalah untuk wilayah akal, bukan dzauq, sebab akal tak punya sarana untuk “merasakan” kebesaran Allah tanpa ada pembanding. Allah adalah tanzih (transenden, maha tak terbandingkan) sekaligus tasybih (imanen, maha meliputi segala sesuatu). Dalam pemahaman akal, yang meliputi adalah lebih besar daripada yang diliputi sehingga dalam level akal ini Allah dipahami sebagai lebih besar dari segalanya. Dalam level dzauq, ruhani, kebesaran-Nya berarti maha takterbandingkan, karena kebesaran-Nya menghancurkan segala sesuatu, seperti tercantum dalam surat ar-Rahman, “hanya wajah-Nya yang Agung dan Mulia (jalali wal ikram) kekal selamanya.” Semuanya musnah dalam lautan Ke-MahaBesar-Nya.

Dengan yang demikian,  seorang Sufi atau Wali Allah tidak perlu menunggu Hari Kebangkitan untuk mendengar firman Allah ta’ala:  “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?.  Milik Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa,”   sebab firman Tuhan ini sentiasa kekal dalam pendengarannya. Maka dari itu, begitu sufi atau Wali Allah bertakbir dalam shalat, ia “fana” atau musnah dalam Kebesaran-Nya. Karena ia terserap dalam Kebesaran-Nya, maka ia bergerak sesuai dengan perintah-Nya tanpa campur tangan dari kehendaknya sendiri. Kehendak dirinya lebur dalam kehendak Allah.

Maka takbiratul ihram adalah “pintu” yang membawa Wali Allah masuk ke dalam samudera Kebesaran dan Kehendak Allah. Dengan cara ini ia lalu diperjalankan oleh Allah menapaki jalan-jalan ruhani melalui shalat. Shalat adalah mi’raj, perjalanan mendaki, di mana seseorang diperjalankan menuju perjumpaan dan dialog dengan Allah. Maka begitu diucapkan “Allahu akbar,” semestinya hilang segala bayangan tentang dunia, dan fokusnya pada Allah, yang dilambangkan dengan pernyataan Nabi tentang  shalat: “seolah-olah engkau melihat-Nya (dalam sholat).” Jadinya ‘takbirat al-ihram” adalah takbir, menyebut Kebesaran Allah dan mengharamkan segala sesuatu selain-Nya ikut campur dalam prosesi kita “menghadap” Allah; takbir menjadi semacam pernyataan berpisah dari “alam al-mulk,” berpisah dari segala sesuatu selain Allah. Segala aspek kebutuhan dan pemenuhan keduniawian telah “haram” karena segalanya telah diorientasikan guna menghadap/ tawajjuh kepada Allah sepenuhnya.

Jadi, jika kita sudah terbiasa sholat dan beribadah, namun masih ada sombong dan selalu menganggap orang lain lebih rendah dari kita, maka mungkin kita perlu merenungkan kembali ibadah yang kita lakukan. Mungkin kita perlu bertafakkur, jangan-jangan teriakan ‘Allahu akbar” yang pada hakikatnya untuk memisahkan kita dari kepentingan duniawi justru kita jadikan alat justifikasi untuk memenuhi ambisi duniawi dan hawa nafsu;  jangan-jangan kita memperalat ibadah kita demi tujuan duniawi; jangan-jangan kita berteriak Allahu akbar sebagai dalih bahwa kitalah yang paling benar dan paling paham ajaran Allah di muka bumi sehingga berhak berbuat sesuka hati dan menghalalkan segala cara; atau, jangan-jangan kita termasuk golongan orang yang bertakbir, membesar-besarkan Asma Allah sambil membesar-besarkan ego dan kesombongan kita sendiri?

Jadi idealnya ucapan Allahu akbar adalah pernyataan pengakuan lahir-batin akan kekerdilan kita, kelemahan kita, dan kesaksian kita bahwa kita senantiasa bergantung pada Allah dalam segala hal, karena tanpa Dia kehendaki, kita tidak akan pernah ada. Takbir membawa kita beralih dari tempat yang ramai ke tempat-tempat hening, di mana kita bisa berjumpa dengan diri sendiri yang sejati. Seandainya kita sampai ke taraf ini, maka akan tiba suatu masa ketika Allahu akbar diucapkan tanpa nafs al-amarah namun dengan gemetar takjub; ketika Allahu akbar diucapkan dengan hening dan khidmat namun meluluhlantakkan segala bentuk keangkuhan iman; ketika Allahu akbar menjadi pernyataan final akan kesunyian dan ketiadaan diri kita. Dan takbiratul ihram, “takbir yang mengharamkan,” adalah sebentuk perpisahan kita pada alam al-mulk. Dan jika engkau semakin bertambah usia, perpisahan ini barangkali akan makin terasa. — banyak tempat yang dulu ramai, pelan-pelan menjadi sunyi dan hening saat orang-orang berpisah dengannya. Sebagaimana rumah orang tuaku, tempat bermainku, atau bahkan dinding-dinding media sosial termasuk facebook-ku ini dahulu adalah tiada dan sunyi, maka semua itu pun, termasuk aku, pelan-pelan akan kembali sunyi dan tiada — Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Allaahu Akbar. Wa lillahi al-hamd.

 

Advertisements

2 thoughts on “Takbir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s