Bitter Taste of Liberty

3dwallpapers7

“The bitter taste of liberty” (alangkah pahitnya kebebasan itu), kata penyair Diop. Orang menyukai kebebasan, juga kemerdekaan. Tetapi pada saat yang sama orang sering lupa bahwa apa yang dinamakan kebebasan dan kemerdekaan itu bisa menjadi penjajah bagi jiwa mereka jika hal itu diletakkan di luar proporsinya. Dalam kasus ini orang justru menjadi budak dari kebebasan –

Misal medsos ini. Engkau bisa tulis apa saja – namun teks yang kita tulis secara bebas bisa mendadak memenjarakan kita dalam situasi yang buruk. Kita tak bisa lagi mengontrol dampak dari teks, yang hakikatnya adalah perpanjangan dari lisan kita. Teknologi menyediakan kebebasan sekaligus kontrol. Bisa saja engkau menghapus tulisan hoax atau penghinaan, misalnya, namun orang telah terlanjur meng-capture tulisanmu. Engkau bebas memaki tetapi engkau lupa bahwa engkau tak bisa mengontrol tafsir dan reaksi orang lain. Tafsir dan reaksi, apalagi dalam skala masif, bisa membuatmu terpenjara dalam situasi yang menyusahkan dan merusak hati, pikiran, relasi bahkan eksistensi.

Agama dan akhlak mengajarkan kita agar mengendalikan diri, mengontrol diri kita sendiri, agar kita punya rem. Jika mobil melaju namun rem rusak di jalan raya, apa yang akan terjadi?

Sebenarnya, ada masa-masa kita punya kebebasan untuk menanggalkan kebebasan itu sendiri sebelum kebebasan itu memperbudak dan memenjarakan diri kita.

Dalam konteks kekinian, dawuh kanjeng Nabi agar kita mengendalikan lisan dapat pula dimaknai sebagai dawuh agar kita untuk berhati-hati menulis sesuatu di mediasosial, hati-hati dalam mengelola,kebebasan yang ditawarkannya. Banyak orang tak selamat karena, salah satunya, gagal menjaga lisan (dan tulisan). Kita telah banyak melihat apa penyebab kegagalan itu — salah satunya karena kita merawat kebencian dan mengajak orang untuk membenci. Kebencian bisa membuat rem kehidupan kita blong karena kita tak bisa lagi berpikir jernih, tak bisa membedakan lagi mana hawa nafsu dan mana kebenaran — lisan/tulisan kita menabrak segala macam sehingga banyak kerusakan terjadi.

Afala ta’qilun? Afala tatafakkarun? Belumkah tiba waktunya bagi manusia untuk melihat ke dalam dirinya sendiri, mawas diri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s