Senjakala Puisi (Senja)

 

mood-night-sunset-park-sun-grass-bench-seats-shops-light-fence-heat-summer-june-july-august-beautiful-wallpapers

Orang menyukai senja pertama-tama karena efek langit. Langit senja memang indah dipandang, selama tidak mendung pekat menggelayut atau tidak hujan deras. Lalu orang terinspirasi untuk membuat puisi tentang senja – apa saja dikaitkan dengan senja. Namun senja yang indah itu menimbulkan suasana syahdu  dan cenderung murung, sehingga banyak puisi senja bernada melankolis; misalnya, tentang kepergian, tentang perpisahan dan kerinduan atau kasih tak sampai.

Menurut analisis ahli sastra pekok, di satu sisi, sifat puisi senja yang indah namun cenderung muram nan mendayu-dayu itu disebabkan oleh pemahaman bawah sadar seseorang. Senja adalah masa-masa usainya terang siang, mendekati surup, yang dalam kosmologi Jawa, surup adalah wayah wingit, ketika setan-setan mulai keluar, sehingga anak-anak kecil sering dilarang keluar pada waktu surup atau maghrib, karena dikahwatirkan akan kesurupan oleh demit bekakrakan.  Di sisi lain, senja melambangkan usia tua. Kita sering mendengar ungkapan “orang berusia senja,” yang berarti perjalanan hidupnya sudah mendekati rumah masa depan alias kuburan.

Mengingat simbolisme usia tua ini, puisi senja dalam satu pengertian adalah puisi orang tua, atau sajak yang diciptakan oleh jiwa-jiwa yang sudah tua, yang secara simbolik berarti sajak-sajak dari jiwa yang kadang merindukan sesuatu yang sudah lewat, sesuatu yang luput dari cengkeraman di masa lalu. Ini bisa kita lihat dari puisi-puisi senja yang beredar di timeline twitter yang mengandung beberapa ciri seperti ini (NB: contoh kutipan sajak sebagian adalah kreasi sendiri dan sebagian di-copy paste dari tweet-tweet puisi senja yang beredar di twitter):

  • Banyak bicara soal rindu. Tentu saja, sebab orang tua itu tak jarang rindu pada masa muda yang sudah lewat, masa-masa ketika tidak gampang masuk angin, gigi belum mrithili, kulit masih mulus dan seterusnya. Misalnya bait sajak, “apalah arti jarak selain melahirkan kerinduan-kerinduan yang menggetarkan. Kita mungkin kehilangan hujan, namun tak ada yang lebih gigil dari sepasang rindu yang tak lagi bersahut.”

  • Mengandung ungkapan tanya, misalnya bait “duhai ke mana rindu kan berlabuh ..” Sebab orang tua ada yang sudah pikun, banyak bertanya.

  • Sering merujuk pada keadaan ingin pulang. Demikian itu wajar sebab orang tua memang sudah dekat dengan masa-masa “pulang” ke liang kubur. Mereka sadar akan pergi. Karenanya kadang-kadang dalam sajak-sajak senja itu terkandung nada-nada ingin pergi, semisal bait “Senja telah pergi, menyisakan wangi tubuhmu yang berjingkat di udara dingin.” Metafora pun disangkutkan dengan kuburan, seperti dalam bait “Kan kumakamkan senja di dadamu yang puisi.”

  • Terkadang penggemar puisi senja atau penyair senja, katakanlah begitu, senang dekat dengan alam, karena sudah merasa akan kembali ke alam (dikubur). Mereka biasanya menjadi suka berkebun, suka menanam bunga, atau suka melihat pemandangan dan terkadang perasaannya menjadi lebay: melihat angin berkesiur pada senja yang remang, hati mereka gemetar lalu air matanya bercucuran mengingat masa-masa muda yang indah atau mengenang kekasih yang telah pergi.

  • Ciri lain puisi senja adalah berkisah tentang cinta yang tak sampai-sampai yang melahirkan rindu yang nestapa. Sebab, senja itu pendek, dan ketika kita asik menikmati kesyahduan senja tiada terasa mendadak sudah gelap saja. Demikianlah metafora dari cinta tak sampai: saat terbit cinta, lalu timbul bayang-bayang segala rupa tentang keindahan kekasih, namun belum sempat menyatakan cintanya, pujaan hati keburu dinikahin orang lain.

  • Karena orang tua cenderung mudah sakit, puisi senja tak jarang menampakkan nada keluhan. Misalnya seperti bait “Kusimpan pedih tikam cintamu dalam kabut senja, agar darah asmara ini segera mengalir ke jantung malam.” Atau karena orang tua biasanya sudah rabun, maka puisi senja dikaitkan dengan mata yang tak lagi jernih, semisal bait “Matamu adalah senja yang tenggelam sayang, begitu cepat redup keindahan itu digantikan remang yang mengaburkan pandangan.”

  • Namun orang tua juga cenderung lebih santai, semisal menikmati kopi tanpa buru-buru. Kita bisa lihat ekspresi kesantaian ini dalam metafora kopi dalam puisi senja, semisal “Secangkir kopi senja, sepi di meja rapuh, di antara detak jam yang mengulang kepedihan yang sama. Hangat nafasmu telah lesap ditimang sunyi.

  • Di musim basah, hujan kerap turun pada sore hingga jelang malam. Maka puisi senja juga mengambil hujan sebagai bahannya, semisal “di bawah hujan senja, rinduku berteduh dalam puisi.”

  • Orang berusia senja biasanya mulai sadar bahwa hidup adalah titipan, dan seringkali mereka sendiri juga dititipi oleh-oleh jika bepergian. Karena itu puisi senja juga mengandung kesadaran akan titipan, seperti bait “Kutitipkan setangkup mawar rindu pada senja yang membisu.:

  • Orang tua jarang yang mampu bicara keras dan cepat. Biasanya mereka lebih cenderung bicara pelan dan lembut atau bahkan lirih nyaris tak terdengar karena fisiknya semakin lemah. Karena itu ada sajak yang semacam itu, seperti “Di antara lirih desir angin senja, kudengar bisik rindumu bergema di angkasa.”

  • Orang berusia senja, juga biasa berdoa. Maka puisi senja pun juga berdoa, bahkan mengandung unsur “doa medsos” kontemporer, semisal bait “Jikalau doa senja ini doamu jua, katakan amin dan sebarkan. Jangan berhenti di kamu.”

Pada masa-masa lalu, sekira 5-7 tahun lampau, hampir setiap sore, bahkan setiap pagi siang dan malam, timeline di medsos kita dipenuhi puisi-puisi semacam itu, termasuk puisi-puisi dadakan dari penyair dadakan, yang biasa mengekspresikan kegalauan, ratapan, kasih tak santai, petaka asmara dan penistaan cinta. Kita mungkin dulu sampai eneg membacanya, dan cenderung sebel. Namun itu dulu, sebelum negara api menyerang. Kini situasi digantikan oleh tulisan –tulisan yang jauh lebih memuakkan: perdebatan tiada henti demi sesuatu yang tak kita paham betul, tulisan fitnah, hate speech, provokasi, kebencian yang diulang-ulang hingga pembudidayaan caci-maki kepada siapapun yang tak kita setujui, bahkan kepada orang tua sekalipun.

Puisi senja, juga puisi-puisi di medsos lainnya, sepertinya sudah memasuki wayah surup, masuk ke senjakala. Kata-kata menjadi kesurupan oleh setan-setan amarah dan demit-demit kebencian. Jarang kita jumpai kelembutan dan kegalauan cinta. Kita dulu mungkin geli dan jenuh dengan puisi-puisi meratap, namun ketika hal itu digantikan oleh tulisan yang beringas dan bengis, tiba-tiba kita kehilangan banyak kelembutan, melankolia, dan ratapan, yang berbasis cinta di dunia media sosial ini.

Kini di media sosial,  paling tidak di timeline-ku, tak banyak lagi kujumpai puisi dan kelembutan cinta mulai dari yang mendayu nan nestapa sampai ke yang tegar tabah dalam penderitaan. Makin banyak account di twitter dan facebook yang seakan lupa pada kata-kata rayuan, ratapan, galau dan kembang-kembang asmara.

Wahai pujangga cinta, merataplah, merataplah, galaulah, galaulah, kabarkanlah kesedihan dan kebahagiaan cinta kalian. Aku rindu pada kata-katamu, tak soal jika kata-katamu itu berlebihan, lebay dan alay.  Puisi melembutkan hati, puisi adalah upaya mengabarkan keindahan yang manusiawi, keindahan cinta, duka, bahagia dan kasih sayang. Kabarkanlah. Kabarkanlah. Sebab, di saat sekarang, aku butuh itu sebagai penyeimbang bagi kata-kata yang jauh lebih berbahaya bagi umat manusia: hasutan kebencian.

 

Advertisements

2 thoughts on “Senjakala Puisi (Senja)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s