Slash(kw) Gagal Gondrong

Slash November Rain on Behance.jpg

 

November 1992 |  Tiap orang punya masa-masa menjadi pemuja mania pada idola tertentu. Jika engkau mengalami masa muda di era awal 90-an engkau pasti ingat lagu Guns n’ Roses ini: “November Rain.” Bermain gitar di bulan november tidak sahih tanpa menyertakan lagu ini. Demikian pula diriku: lebih dari 20 tahun lampau aku rela begadang selama seminggu demi menghafal lirik dan berlatih chord dan melodi November Rain. Dan apakah yang lebih keren ketimbang menyaksikan gitaris Slash di klip lagu ini: berjalan dengan membusung dada ke tengah lapangan membawa gitar, memainkan melodi dahsyat dengan rambut kriwilnya yang panjang diterpa angin dengan latar debu dan daun beterbangan, langit berwarna kelabi dengan sesekali halilintar menyambar?

Dan kau tahu, kebanyakan dari kami penggemar musik rock/metal pada masa itu ingin bisa gondrong seperti Slash, tak terkecuali aku.

Lalu terdengar kabar ada yang jual ‘shampo metal’ di Jakarta: shampo yang bisa membuat rambutmu panjang banget dalam kurun tak lebih dari sebulan. Dengan semangat metal aku ke Jakarta, mencari shampo yang konon di jual di supermarket besar. Dari pagi sampai siang aku berjuang membelah sesaknya kota Jakarta dalam udara yang panas nan pengap. Dan, seperti kata pepatah, barangsiapa bersungguh-sungguh, ia akan mencapai maksudnya – atau “sapa sing temenanan bakal tinemu” – aku berhasil menemukan shampo itu di sebuah supermarket besar.

Aku membeli dua botol shampo, dengan harapan jika rambut sudah panjang akan berfoto-foto bergaya ala Slash di lapangan penuh bunga edelweis puncak gunung lawu yang berangin kencang. Membayangkannya saja sudah bikin aku bangga dan senyum-senyum sendiri. Ah ya, sebagai remaja masya Allah pada waktu itu, aku memang rada labil untuk urusan beginian. Tak lupa kusobek sedikit-sedikit celana jeans di bagian paha dan lutut. Sepertinya sudah sempurna persiapan, tinggal menunggu rambut panjang.

Tetapi rupanya Tuhan punya rencana lain yang lebih bagus buatku. Seminggu sesudah tiap hari keramas, efeknya berkebalikan: rambutku justru berguguran. Aku berpikir, jika nekat kuteruskan, semua rambut bisa brodhol. Tentu tampangku aneh jika gundul total sebab anatomi kepalaku tidak cukup simetris dan indah untuk dilihat tanpa rambut. Tetapi, 2 botol shampo berharga mahal sudah terlanjur terbeli. Dibuang sayang. Kata guru agama: mubazir itu dosa. Maka, setelah merenung, aku mendapat ide cemerlang. Shampo ini yang malah menimbulkan efek rambut mbrodholi,  kupakai untuk bulu ketekku agar auto-brodhol, sehingga tak perlu sering-sering mencabuti atau mencukurnya. Tetapi temanku lebih cerdas: ia meminta sebotol, untuk dipakai di rambut bagian “komite sentral” yang jaraknya tak lebih dari sejengkal di bawah pusar | The Tale of The Fallen Slash Wannabe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s