Santri

wp_ss_20161018_0001

Aku bukan santri, jika definisi santri adalah mereka yang mondok di ponpes. Walau lahir di keluarga yang sebagian orang NU, namun aku tak pernah dipondokkan, dan ngajiku juga ala kadarnya. Jadi jangan tanya padaku soal ilmu agama beserta alat-alat keilmuannya, lha wong Bahasa Arab saja ndak bisa. Awal kenal pondok lebih dekat justru setelah mengalami kekecewaan dengan perilaku sebagian umat. Pada saat kuliah, aku sering mendengar, melihat dan mengalami sebagian orang beriman bersikap begitu kasar dan merasa benar sendiri, mudah menghina orang yang berbeda pendapat. Namun pada masa-masa kuliah itu ada fenomena yang berwujud Gus Dur, yang pemikiran dan sepak terjangnya membuatku tertarik. Karena beliaulah, Allahu yarhamhu, aku mulai tertarik pada informasi tentang pondok pesantren.

Ponpes pertama yang kudatangi sampai menginap malah bukan di Jateng/Jatim, tetapi di Jabar, Ponpes Suryalaya, Pagerageung, Tasikmalaya, tahun 1993 atau 1994. Untuk pertama kali saya menyaksikan sendiri bentuk keislaman yang anggun, lembut dan menggetarkan dalam wujud sosok Abah Anom. Saat itulah aku mengalami puber spiritual — tanpa basis ilmu agama (syariat) yang memadai, aku menekuni ajaran Tasawuf, sehingga sering berpikir aneh-aneh tentang spiritualitas Islam. Situasi berubah sejak awal 1997 saat banyak persoalan menimpa. Lima tahun hidup tak tentu arah karena keliru memandang ajaran sufisme, hingga pada 2004 bertemu lagi dengan kyai sederhana di ujung barat pulau jawa. Pada 2005 saya ke Kanzus di Pekalongan, dan itulah pertama kali saya mengenal dunia ke-habaib-an. Dan untuk pertama kali saya melihat langsung dan mencium tangan Maulana Habib Luthfi bin Yahya, sosok yang selalu membuat saya gemetar dan tunduk walau hanya memandang fotonya saja.

Pada 2009 mulai lebih akrab dengan dunia santri, dalam arti banyak berteman dengan orang-orang pondok. Awal yang aneh, karena perkenalannya dimulai dengan “gasak-gasakan” atau saling meledek di facebook. Di dunia nyata, saya tak kenal orang-orang di FB sehingga saya berani kurang ajar kepada orang yang sebenarnya dihormati di kalangan santri. Orang pertama yang saya kurang-ajari adalah Gus Adib Machrus — saya tak kenal beliau, dan saya santai saja bersikap tak sopan di FB kepada beliau. Orang kedua adalah mbah Zainal Wong-wongan, santri yang pada awalnya saya kira dukun beneran. Tetapi rupanya gus Adib ini lebih santai daripada saya, dan saya sering kalah dalam adu-ejekan, sehingga malah akrab dan makin sering bertemu di dunia nyata. Dan karena keakraban ini lalu mulai kenal satu per satu dengan orang-orang pondok. Ternyata santri banyak yang asyik, tak mudah marah, cengengesan, banyak guyon dan “selo uripe.”

Sejak 2010 mulailah saya berkelana, tepatnya dolan-dolan, ke teman-teman yang nyantri atau bahkan punya pondok: dari Banten, Jakarta, Tasik, Bandung, Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogya, Wonosobo, Jombang, Rembang, Surabaya, Malang dan beberapa kota kecil. Namun saya tak belajar mengaji, karena saya lebih tertarik mendengar kisah-kisah para ulama. Jadi aku dolan-dolan lebih sering mendengar “manaqib” para ulama yang disampaikan langsung oleh murid-murid mereka. Misalnya, di Jombang, aku mendengar langsung keruwetan jalinan ulama dari Gus Jabbar Hubbi, kisah-kisah pendek dan menarik yang diceritakan Gus Mus kepadaku, atau kisah Mbah Mutamakkin, salah satu leluhur ulama NU, yang dikisahkan oleh gus Ubaidillah, putra Mbah Tamam, Pamotan; mendengar kisah luar biasa dari kyai-kyai “kampung” yang diceritakan mbah Zainal (S)edan [huruf ‘S” ini makruh disertakan dalam bacaan, disunnahkan diabaikan agar dapat pahala ☺]; aku juga berusaha memahami, tetapi akhirnya putus asa, jalinan silsilah kekerabatan dan sanad keilmuan para ulama NU dari keterangan Gus Adib. Sungguh mbundhet.

Tetapi entah mengapa, walau hanya mendengar kisah, manaqib, baik dari keterangan langsung maupun buku, perlahan-lahan tumbuh rasa hormat, takzim, dan lama-lama ada semacam “cinta” kepada para ulama terutama ulama tasawuf dan ulama di kalangan NU. Barangkali karena rasa takzim dan cinta ini, Allah berkenan memberi pengetahuan sedikit demi sedikit tentang kehidupan banyak kyai dan wali, baik yang mastur maupun masyhur, dengan cara-cara yang tak pernah kuduga — liwat buku, artikel, tulisan santri, keterangan langsung atau bahkan lewat mimpi.

Ada banyak cerita dari pondok yang justru terkadang susah disampaikan karena berbagai alasan; tetapi manaqib atau kisah hidup memberi begitu banyak pelajaran tentang spiritualitas, akhlak dan nilai-nilai kemanusiaan. Cerita, bagi saya, lebih ampuh menembus relung kalbu, daripada diguyur ribuan dalil tanpa menyertakan hikmah dan nilai-nilai kemanusiaan, apalagi jika dalil disampaikan hanya untuk menyerang atau mengobarkan semangat permusuhan dan kebencian.

Dalam satu pengertian, sungguh beruntung para santri yang “ngenger” pada kyai yang anggun, berakhlak mulia, dan berwawasan serta berilmu luas baik dari segi ilmu lahir dan batin — bahkan ada sebagian kawanku yang dulu suka kenthir-kenthiran bersama, sekarang “ngenger” dan mengabdi pada kyai sehingga susah kutemui lagi. Salam hormat buat kawan-kawanku itu.

Pada akhirnya, aku percaya pada salah satu adagium kuno, yang pernah disampaikan oleh seorang kyai padaku: “Besarnya barokah hidupmu adalah sebesar takzimmu kepada ulama (yang baik dan benar),” yakni ulama mewarisi bukan hanya informasi ilmu dari Nabi, tetapi juga mewarisi akhlak dan spiritualitas profetik.

Selamat Hari Santri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s