Pertaruhan

lawu

Tahun 1996. Pada suatu pagi hari aku bangun tidur dengan kepala pening. Aku berjalan dengan gontai ke kamar mandi dan tepat di depan pintu kamar mandi, aku ambruk tak kuat berdiri. Lalu tiduran di atas tumpukan baju kotor. Kukira ini hanya karena darah rendah. Namun dua hari kemudian, setelah kuperiksakan, ternyata ada gangguan di liver. Hepatitis membuatku tak boleh letih sedikitpun. Penyakit liver ini membatasi gerakku. Setiap kali tubuh letih, badan panas dan demam, lalu sulit bangun  Beberapa bulan bolak-balik ke dokter spesialis hanya menghabiskan biaya.  

Kadang saat engkau putus asa pada sesuatu hal, engkau akan mencari alternatif. Demikianlah, maka aku beralih ke seorang tabib akupuntur di lereng merbabu. Dua kali tusukan pada perut dan mata kaki, dan beberapa jamu, dengan harga jauh lebih murah ketimbang periksa dokter spesialis dan obatnya, membuat liverku membaik. Satu bulan kemudian saat kembali kontrol, tabib mengatakan aku sudah sembuh.

 Tetapi sebenarnya waktu itu aku tak benar-benar percaya, karena terkadang badan rasanya masih kurang enak. Saat dalam kebimbangan, aku ingat dulu saat masih rajin mendaki gunung, aku pernah bercita-cita mati di puncak gunung pada suatu waktu nanti. Mengingat bahwa penyakit ini membuatku tak leluasa bergerak dan bekerja, maka aku membuat pertaruhan. Dengan pikiran naif dan sembrono aku menganggap tidak ada gunanya hidup jika tak bisa bergerak leluasa. Pilihannya: sembuh sama sekali, atau mati sekalian. Maka, dengan segenap kenekatan dan persiapan ala kadarnya, ransel, jaket, kaos tangan, sendal gunung, matras, dan beberapa lembar uang, aku mengajak seorang teman, Bashir namanya, untuk mendaki gunung.

 Gunung Sumbing di Wonosobo adalah tujuan kami. Malam minggu kami naik, dengan badan yang terasa segar. Aku masih kuat berjalan dengan cepat. Hanya butuh waktu 6 jam untuk sampai puncak. Lalu pada minggu sore kami sudah sampai lagi di pos menginap di kaki Sumbing. Namun setelah istirahat sejenak, badan kembali panas, seperti demam. Ah, kupikir aku belum sembuh. Tetapi Bashir memang provokator sejati. Ia malah mengajakku ke Gunung Slamet. Aku memang tak memberitahukan riwayat sakit liverku kepadanya.

 Dan malam senin itu juga kami berangkat menuju pos Bambangan. Senin pagi istirahat di rumah pak kadus, malamnya langsung mendaki. Sekira 10 jam pertama kami mendaki menembus hutan Slamet yang masih pekat dan pada pagi hari sekira jam 8 kami sudah sampai di batas vegetasi. Sekira satu setengah jam selanjutnya kami harus mendaki dengan setengah merangkak untuk sampai ke puncak. Di atas kami hanya menikmati pemandangan sejam, sebab datang badai yang menerbangkan kerikil. Kami langsung turun dan butuh 6 jam-an untuk sampai pos Bambangan lagi.

 Dari pos itu kami  langsung ke Purwokerto menginap di rumah kawan. Esok harinya pulang ke jogja, dan disambut gerombolan teman kuliah yang sedang bersiap mendaki Gunung Lawu. Aku setuju ikut meski badan sudah letih dan kaki agak gemetar. Kupikir aku masih  bisa istirahat di dalam mobil sehingga aku tak ragu mendaki lagi.

 Pulang dari Lawu, dan badanku sehat-sehat saja. Kini aku baru yakin bahwa liverku telah sembuh. Tiga hari kemudian, aku uji sekali lagi. Berangkat sendiri ke Lawu lagi pada malam Rabu. Tetapi aku terkena badai menjelang puncak pada pukul 2 pagi. Di antara rerimbun Edelweis aku meringkuk, tanpa api, karena korekku membeku, dan gas mengkristal. Aku mendengar orang berjalan di dekatku, kupanggil tetapi sepertinya ia tak mendengar. Kupikir aku akan mati kedinginan di situ.

 Saat aku tak kuat lagi menggigil, aku percaya cita-citaku akan terkabul: mati di puncak gunung. Jika engkau tak mampu lagi menggigil, itu tanda jantungmu tak kuat lagi berdetak. Kurebahkan badan, hanya kabut abu-abu kelam yang kulihat. Baiklah, kupasrahkan urusanku pada pemilik ruh ini sembari berharap mudah-mudahan aku mati dengan damai, di sisi edelweis, bunga abadi, yang baru mekar. Tetapi saat aku memejamkan mata sembari memegang dada kiri, yang tak lagi kurasakan berdetak, tiba-tiba ada kehangatan menjalar dari kaki naik hingga ke kepala. Aku tak tahu apakah aku kemudian pingsan atau tidur, sebab saat aku membuka mata kembali, hal pertama yang kusaksikan bukan malaikat atau iblis, tetapi semburat pertama fajar di ufuk timur, serpihan cahaya merah kekuningannya menyapu lautan awan yang mengepung lembahlembah di bawah puncak lawu. Pukul 5 pagi, tepat tanggal ini, 20 tahun lalu, aku masih diberi kesempatan melanjutkan hidup hingga saat ini.

c__data_users_defapps_appdata_internetexplorer_temp_saved-images_24678_378637699173_3200275_n

Advertisements

2 thoughts on “Pertaruhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s