Bermain

10301201_10152714701699174_7160018914117132916_n

| Generasi yang menghabiskan masa-masa kecil di akhir 70-an sampai setidaknya pertengahan atau akhir 80-an sebagian besar hanya tahu bahwa bermain adalah bermain gembira bersama, mengeksplorasi segala hal tanpa harus iri pada apa yang dimiliki temannya. Gobak sodor, jithungan, benthik, engklek, betengan, pasaran, lompat karet, klayapan di kebon (dengan risiko wadah “2 endog” anak cowok kena tengu), mandi di kali yang masih dalam dan relatif bersih, bedhil-bedhilan dari pelepah pisang, mobil kulit semangka, kejar-kejaran, main layangan, dan sebagainya. Segala sesuatu dimainkan bersama, aktif bersama, berbagi gembira bersama. Yang membuat ceria bukanlah gengsi.  Tentu saja selalu ada pertengkaran, namun itu tidak berlangsung lama. Tak sampai hitungan jam, anak kecil yang bertengkar seakan sudah lupa baru saja bertengkar: mereka asik bermain bersama lagi.

Tetapi sebagian anak perkotaan sekarang bermain dengan melihat apa yang dipunyai teman: sepertinya mereka tak ceria jika mereka tak bisa memiliki “mainan” yang dimiliki temannya: entah itu game di tablet, smartphone, gadget, mobil remote, atau apa saja. Mereka tampak ceria ketika bisa pamer mainannya, bukan karena bisa main bersama. Kebersamaan bagi sebagian anak-anak perkotaan adalah sarana untuk saling memamerkan mainan, gadget, atau, dalam kasus remaja tanggung, memamerkan makanan, selfie wajah, dan sedikit kemewahan mereka ke dunia luas melalui internet. Media sosial memperbesar hasrat ingin memiliki ini. Anak-anak usia SD dan SMP yang masih belum stabil mentalnya menjadi mudah ikut arus. Anak-anak memamerkan hal-hal yang dimilikinya melalui foto-foto yang mereka saling kirim via platform media sosial. 

Jikapun tampak berbagi dengan meminjamkan permainan, itu adalah untuk menunjukkan “hp-ku atau tablet-ku lebih baik dari punyamu, game-ku lebih banyak daripada game-mu di gadget-mu.” Mereka dididik bahwa keceriaan adalah “memiliki”, “punya yang lebih baik”, bisa pamer, bisa mengungguli yang lain dalam hal gengsi dan kepemilikan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s