Ajining Diri

blue_thumbtrack_4229__11_-jpg-e1448481297599

Enough is enough | Media sosial itu terkadang seperti perpanjangan dari lisan. Lisan itu kadang-kadang mengungkapkan hal-hal yang tersimpan dalam hati melalui kata-kata. Kata-kata itu mengungkap sekaligus menutupi, dan vice versa. Itulah sebabnya kita bisa menumpahkan kejengkelan kita atau rasa ingin menghina dengan kata-kata yang dibalut dengan berbagai macam dalih atau alasan: demi mengingatkan, demi menasihati, demi apa saja …

Tetapi yang sering kurang disadari adalah kita lupa bahwa maksud baik yang disampaikan via tulisan tidak akan sampai jika diungkapkan dengan kata-kata yang menyakitkan hati — semisal, metode dakwah dengan kebencian, dakwah dengan mengejek atau dakwah dengan fitnah dan dusta. Itu seperti mencampurkan yang haq dengan yang bathil, memberikan air jernih di dalam gelas berisi telek lencung dan tlethong kebo kepada seseorang. Apakah engkau akan meminumnya?

Media sosial memiliki beberapa “tabiat,” salah satunya mampu menggoda seseorang untuk melebih-lebihkan sesuatu. Ini sering kita lihat. Seperti yang kita saksikan dalam beberapa kasus kriminal dan penipuan yang ramai dibicarakan bekalangan ini, sebagian orang mengungkap keburukan atau kesalahan orang lain dengan secara terus-menerus mengunggah posting berisi kata-kata yang mengejek/menghina. Tidak cukup sekali, namun berkali-kali, seolah-olah belum puas jika belum banyak orang yang ikut nimbrung untuk mengejek dan menista.

Tetapi bayangkan begini: Orang yang terbukti bersalah sudah dihukum, atau minimal kena sanksi sosial menanggung rasa malu. Sementara kita terus-menerus memandang rendah dan mengejeknya untuk mempermalukannya di media sosial, yang sama artinya mempermalukannya di muka umum. Ini berarti secara implisit kita merasa kondisi batin kita “lebih baik” dari mereka yang bersalah atau berdosa, seolah-olah yang bersalah itu tak akan pernah berubah. Tetapi apakah tindakan kita mengejek dan mempermalukan terus-menerus di muka umum bukan suatu kesalahan? Lantas, jika di kemudian hari orang itu tobat nasuha dan khusnul khatimah, sementara kita terlanjur menyakiti hatinya dan belum sempat minta maaf, apa yang terjadi dengan amal kita kelak di hari perhitungan? Tidak cukupkah pesan kanjeng Nabi, “berkata baik atau diam” jika kita tidak memahami situasi secara keseluruhan? Pepatah Jawa menyatakan, ajining diri saka lathi: kehormatan diri sering didasarkan pada lidah kita, yakni bagaimana menjaga tutur kata yang benar dan amanah — atau paling tidak mengucapkan kata yang tidak berlebihan dan melampaui batas.

The only difference between the saint and the sinner is that every saint has a past, and every sinner has a future.” – Oscar Wilde

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s