UMBELOGI

irung

Ini adalah ilmu tentang umbel. Umbel (bahasa Indonesia: ingus) adalah bahan baku upil. Umbel murni berwarna hijau pupus. Jika ada sepuhan warna lain, bisa dipastikan itu ada zat lain yang mengenai umbel sehingga mengubah warna umbel murni. Umbel umumnya kental, dan tingkat kekentalannya akan menentukan seberapa besar dan cepat upil yang akan terbentuk.

Menurut pengamat umbel, zat ini memiliki paling tidak tiga fungsi utama. Pertama, karena anak kecil sering umbelen, maka umbel menjadi istilah untuk menyebut anak kecil (“anak ingusan”). Dalam konteks ini, umbel secara tidak langsung membuat anak kecil melakukan exercise atau olahraga otot-otot di bagian sekitar hidung dan mulut, yang pada gilirannya memengaruhi kulit wajah. Latihan yang dimaksud adalah ketika umbel hendak merosot ke bawah (ya iyalah ke bawah, kalau ke atas namanya mendaki) biasanya anak akan menyedot kembali ke atas agar tidak dleweran. Tetapi tentu saja gaya gravitasi akan menarik umbel ke bawah lagi; dan si anak harus menyedotnya lagi ke atas. Ini dalam bahasa jawa di sebut “sentrap-sentrup” di mana umbel keluar-masuk hidung secara kontinyu. Jadi sentrap-sentrup menyebabkan umbel kadang nongol kadang ndak, jedhal-jedhul, bagaikan sinyal Internet operator yang kadang ada kadang tiada. Gerakan sedhat-sedhot ini menyebabkan otot-otot wajah melakukan kontraksi dan ekspansi, menarik-narik kulit, sehingga kulit menjadi kencang dan halus. Jadi inilah penyebab mengapa kulit anak kecil cenderung halus dan kencang – itu semua berkat umbel. Ya, umbel adalah anugerah ilahi yang membuat kulit wajah kencang dan halus. Jadi jika anda ingin mengencangkan dan menghaluskan kulit secara alami, usahakan terkena pilek sampai umbelen secara berkala, dan jangan sia-siakan umbel dengan dibuang begitu saja. Manfaatkan!

 Kedua, sebagai mekanisme pertahanan tubuh saat sakit, di mana umbel yang terbentuk merupakan efek dari kerja sistem kekebalan tubuh. Ini sudah termaktub dalam kitab-kitab kesehatan sejak zaman kuno hingga masa kini.

 Dan ketiga, memiliki fungsi sosial dalam pengertian negatif. Berdasarkan studi terhadap 100 pasangan yang suka memutuskan cinta, diketahui bahwa 89% menggunakan umbel sebagai alat memutus cinta secara halus. Metodenya adalah sebagai berikut: ketika sudah bosan dengan pacar, mereka sengaja menyakiti-diri, dengan berupaya agar terkena flu dan pilek. Kemudian mereka akan berlama-lama di tengah polutan atau di kawasan udara yang penuh polusi/debu, untuk mempercepat fermentasi dan pembentukan upil. Setelah upil terbentuk, mereka mengajak pasangannya kencan. Selama kencan mereka sengaja mengutikutik upil dihadapan pacar secara mencolok/demonstratif, dan sesekali menempelkan upil di kursi, meja atau bahkan di lengan sang pacar dengan harapan pacarnya jijik dan memutuskan tali cintanya . Inilah metode pemutusan pacar yang tidak melukai perasaan terlalu dalam, sebab sang pacarlah yang akan memutuskan anda tanpa menyesal – mereka justru merasa menyesal karena telah pacaran dengan anda yang terkesan jorok tiada terperi. Metode pemutusan ini juga menyebabkan mantan pacar anda mudah move-on, mudah melupakan anda. Dengan demikian, anda tidak menyiksa mantan anda dengan kenangan-kenangan tentang diri anda. Namun hati-hati, pikirkan secara mendalam, sebab siapa tahu justru andalah yang menyesal dan susah melupakan mantan anda. Metode ini bagus dilakukan jika dan hanya jika anda memang benar-benar sudah tidak ingin menjalin asmara dengan pacar anda.

 Upil sebagai produk turunan dari umbel juga bisa dijadikan sebagai sarana ibadah dan karenanya mendapatkan pahala. Kita tahu upil harus dibersihkan agar tidak menumpuk di lubang hidung. Kalau hidung kebanyakan upil akan menyebabkan hidung cenderung mekrok atau njendhol, dan itu merusak pemandangan wajah. Dan kita tahu kebersihan adalah bagian dari iman. Jadi membersihkan hidung supaya bersih adalah aktivitas amal soleh sebagai perwujudan dari keimanan kita.

 Hikmah dari kajian tentang umbel ini jelas sekarang: Tuhan menciptakan barang yang aneh, semacam umbel, tentu karena ada gunanya. Sesungguhnya tidak ada yang sia-sia dalam ciptaan ini, jika kita mau berpikir.

 Demikian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s