Sajak Gagal

potlot

Di malam dingin yang sepi sekali, dua kali, tiga kali, aku ingin menulis sajak, atau setidaknya prosa liris, seperti status-status dari orang-orang yang mampu menjadi penyair 24 jam. Sepi adalah momen yang bagus mencari inspirasi, Namun sayang sepi juga membuat orang lebih peka dengan efek kurang bagus — dalam sepi yang sengit ini, aku mendengar rasa lapar memanggil: “haii.. haii… haiii.” Kau tahu, situasi absurd ini bisa menimbulkan halusinasi: Cicak yang sedang menanti nyamuk mendadak tampak seperti lemper. Seorang kawan pernah bercerita ia bahkan melihat kecoa seperti korma. Kupikir matanya setajam elang, bisa melihat persamaan dua macam objek berbeda: kurma itu mengkilat, demikian pula kecoa, meski ia tak pernah mandi. Lantas apakah itu berarti jika engkau ingin tampak mengkilat engkau harus jarang mandi? Ah, sialan, tafakur tentang kecoa ini mengacaukan konsentrasi.

Baiklah, fokus, fokus, fokus! Mari fokus menyusun sajak agar seperti para penyair yang mampu menulis syair dalam hitungan menit, bahkan detik, kapan saja: subuh, pagi, dhuha, siang, sore, senja, maghrib, isya, dan di sepertiga malam. Ini sudah memasuki sepertiga malam. Kupikir, jika kususun sajak sekarang, maka sajakku akan berkah apabila kuuntai dengan semacam doa — sebab  bukankah Tuhan “turun” pada sepertiga malam untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Tetapi aku kok jadi malu jika bersajak tanpa shalat tahajud dulu. Ingin shalat, namun cuaca dingin, airnya dingin. Sebaiknya kubatalkan sajalah. Lain kali kan bisa. Alhamdulillah, aku bisa mendapatkan pembenaran atas rasa malasku ini. Jadi, aku fokus menulis sajak saja.

Jadi aku akan membuat sajak tentang perpisahan yang menyakitkan. Konon hal-hal yang menyedihkan akan lebih menginspirasi puisi. Banyak sajak cinta justru lahir dari rasa patah hati, putus cinta, rindu dendam, dan seterunsya. Tetapi tiba-tiba mengapa yang teringat justru percakapan aneh dari sepasang kekasih dua belas hari lalu:

“Sayangku, mencret itu menyakitkan,” kata pria kepada kekasihnya saat menunggu keberangkatan kereta di stasiun Gambir. Lalu sang pemuda harapan entah siapa itu pamit ke WC umum diiringi tatapan mesra sang pemudi yang lantas menanggapi:

“Selamat ee’ ya, sayang. Maaf aku tak bisa menemanimu di dalam WC. Jangan lupa jongkok yang sempurna ya say, agar tak nylepret. Sebab aku ga bawa tissu.”

“Iya sayang, tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa tabah sendiri menjalani mencret, duduk merenung, menyusun puisi dalam remang toilet sunyi. Tahukah kau sayang, aku selalu memikirkanmu, mengingatmu, di manapun dan kapanpun. Mencret ini tak bisa menghalangiku untuk selalu mengingatmu, sayang.”

“Ah, so sweet …hati-hati di WC sayang, jangan lupa disiram agar baunya tak tersisa. Tetapi kumohon janganlah engkau siram ingatanmu tentangku ya sayang, agar tak luntur sia-sia.”

“Tentu, kekasihku….”

Bagiku ini keindahan yang menyeramkan, sebab bagaimanapun mungkin kemesraan bisa tampak dalam sesuatu yang agak “nggilani” begitu? Tetapi kemesraan di ruang publik macam ini tidak terlalu menyakitkan para jomblo nestapa yang mungkin melihatnya. Aku jadi berpikir tentang hubungan kemesraan dan rasa sakit derita tiada tara di ruang publik jejaring sosial: Tahukah kamu, di setiap dialog mesra di kolom komentar kekasihmu, di setiap cuitanmu di twitter, status facebook, foto mesra di instagram, dan sebagainya, boleh jadi selalu ada orang ke 3, ke 4, ke 5 atau entah ke sekian,  yang membaca dengan hati panas berdarah-darah penuh nestapa lara sendiri meratapi nasib? Jadi, apakah ini berarti kemesraanmu itu terkadang menyakiti orang lain?

Loh, malah ngelantur. Ah sudahlah, aku mengantuk dan malah memikirkan kemesraan dari percakapan mencret tadi. Aku gagal membuat sajak dan prosa liris malam ini |

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s