Kereta Senja

13558803_10154231285264174_2501144736983968083_o

BEBERAPA waktu lalu mendadak harus ke Jakarta. Sambil menunggu keberangkatan di stasiun Tugu, kebetulan langit sedang menarik cahayanya maka buru-buru aku potret. Kereta yang lewat itu adalah kereta senja utama yang dulu hampir setiap akhir bulan aku menaikinya, kereta yang kini sudah jauh berbeda situasi dan kondisinya dibanding beberapa tahun lampau.


Pelayanan kereta api sekarang memang lebih bersih, nyaman dan ber-AC. Hanya saja ada banyak hal yang kini tak ada lagi, hal-hal yang pada saat mengalaminya memang menyebalkan, namun ketika diingat-ingat lagi menimbulkan perasaan seperti ada yang hilang.

Pada 1999-2004 sebulan sekali atau terkadang dua kali dalam sebulan aku bolak-balik Jakarta-Yogya dengan kereta senja kelas bisnis atau kelas ekonomi. Pada masa itu aku bisa naik kereta tanpa beli tiket. Biasanya aku menyiapkan uang 10 ribu atau 20 ribu sebanyak dua lembar ( ada dua kali pemeriksaan) untuk diselipkan ke tangan kondektur yang memeriksa karcis . Dengan cara ini aku menghemat sampai 50% uang transportasi kereta. Naik tanpa karcis memang tidak bisa dapat tempat duduk. Untuk itulah aku selalu membawa koran bekas untuk alas tidur di lantai kereta — sering mencari tempat disela-sela kursi bagian paling belakang. Pada musim mudik, penumpang penuh sampai ada yang harus berdiri dari Jakarta sampai Solo karena bahkan untuk jongkok pun tak bisa. Aku pernah merasakan sengsara naik kereta beberapa kali: mulai dari yang terpaksa duduk di depan toilet yang pintunya tak bisa ditutup rapat dan baunya ngudubilah setan hingga harus berdiri dari Jakarta- Cirebon.

Pada masa itu, di hari-hari biasa, gerbong sering seperti pasar tiban. Di stasiun tertentu, kereta kelas bisnis atau ekonomi akan berhenti, menunggu disalip oleh kereta eksekutif. Pada saat itulah masuk rombongan penjual makanan dan minuman. Ada yang keliling membawa termos menjual mie instan — bolak-balik dari gerbong depan sampai belakang di sepanjang perjalanan Purwokerto-Cirebon atau bahkan sampai Bekasi dan sebaliknya. JIka penumpang penuh sesak dan banyak yang duduk di lantai, para penjual santai saja melangkah di depan muka kita. Pantat-pantat penjual snack, minuman, sampai simbok membawa baskom besar berisi nasi pecel, bersliweran di muka kita yang duduk di bawah. Tetapi yang lebih menyebalkan adalah pengamen. Di stasiun-stasiun kecil antara Purwokerto-Cirebon akan banyak pengamen naik, kadang memaksa minta uang. Atau saat kereta berhenti anak-anak kecil di luar menggedor-gedor kaca jendela minta uang. Yang agak aneh adalah saat memasuki stasiun bekasi, selalu ada orang keliling membawa pengharum ruangan – ia menyemprot bawah dan atas tempat duduk kita lalu minta uang. Atau ada anak-anak membawa sapu kecil untuk menyapu sampah di bawah kursi kita, lalu minta uang. Tidak lupa jika ramai selalu ada copet. Kini tidak ada lagi keriuhan penjual asongan dan pengamen di dalam gerbong karena sudah dilarang.

Dari begitu banyak ingatan, setidaknya bagiku ada tiga hal yang paling kuingat pada masa-masa pra-reformasi layanan perkeretaapian itu.

Pertama, setiap kereta dari Jakarta sampai stasiun Wates, akan naik serombongan banci, biasanya 3 atau 4 orang. Aku sampai hapal wajah dan kelakuan mereka karena mereka pasti nongol dari stasiun Wates. Kami biasa menjuluki mereka “Biduan Banci Ewer-Ewer” sebab setiap bernyanyi, liriknya selalu mereka tambahi dengan kata “ewer-ewer”… misalnya: “aku tak mau.. ewer-ewer… kalau ku dimaduuu .. ewer-ewer… ”

Kedua adalah nenek-nenek berbahasa sunda yang sering muncul setelah kereta berhenti di stasiun Bekasi. Nenek ini akan berkhotbah panjang lebar dan mendoakan penumpang dengan bahasa Sunda. lalu minta uang. Biasanya ia akan turun di Jatinegara.

Ketiga, pada masa itu penumpang masih bisa merokok di sambungan gerbong. Sekarang blas ndak boleh. 😔

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s