In Memoriam Mbahyi

flowerr

BEBERAPA hari lalu ning Almas, putri dari Simbah Kakung Ahmad Mustofa Bisri meminta alamat rumah. Saya tak menyangka ketika kemarin datang kiriman dari Rembang buku “Obituary” : Ibu Kekasih. Malam Jumat itu juga saya membacanya sampai selesai, karena memang saya ingin, paling tidak, mengenal lebih jauh almarhumah Ibunyai Fatma dari orang-orang yang dekat dengannya, mengenal sosok yang berita wafatnya mendapat perhatian begitu luas. 

Sesungguhnya saya memang sejak pertama kali berjumpa dengan beliau beberapa bulan silam sudah timbul kesan yang tak lazim. Selama beberapa kali sowan ke Leteh, saya hanya sempat berjumpa dua kali dan mencium tangan beliau sekali, namun kesan yang melekat begitu mendalam tak pernah pupus. Sejujurnya saya tak mengerti apakah ini sekadar “ge-er” atau bukan, namun ketika disapa oleh beliau pada waktu itu, saya merasa seperti sudah lama mengenalnya,Sesudah saya membaca obituari ini saya menyadari sesuatu, mengapa saya merasa nyaman dan tenang ketika bertemu dengan beliau: “Kasih Sayang.”

Setiap kali ingin menulis konsep tentang “ibu,” saya selalu gagal. Selalu ada kisah dibalik segala sesuatu — kisah tentang bagaimana foto-foto kenangan terpampang di dinding; tentang bagaimana ada luka dan duka. Terkadang kisahnya sederhana, membahagiakan, atau terkadang menegangkan dan terkadang membuat hati sedih. Apapun kisah itu, dibalik cerita-cerita selalu terselip kisah tentang ibu kita, sebab dari kisah hidupnyalah lahir kisah tentang diri kita. Atau seperti dikatakan Jeminis, “Di mata anak-anak, ibu selalu seperti malaikat. Ibu bisa tampak sederhana, anggun, menakutkan saat marah, tetapi juga penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Namun apapun keadaannya, selalu terselip cinta dan kasihnya. Aku percaya bahwa cinta dan kasih sayang ibu adalah kekuatan terbesar di alam semesta.”

Saya mengamini itu.

Seusai membaca obituari ini, saya ingin menulis banyak hal namun tak mungkin saya tulis dalam semalam. Hanya sedikit kesan ini yang saya bagikan berdasarkan kesaksian-kesaksian: Aku membayangkan sebuah telaga yang luas dan dalam, dengan permukaan air yang tenang. JIka engkau melemparkan batu ke tengah telaga, permukaannya akan beriak sedikit dan sebentar saja, lalu tenang lagi. Seperti itulah kesabaran dan kasih-sayangnya.

Kehilangan sosok semacam itu tentu menimbulkan kesedihan, terutama bagi orang-orang yang dekat dan menyayangi dan disayanginya. Tetapi pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa bahkan banyak orang yang tidak terlalu kenal dekat dengan beliau juga ikut terlanda oleh kesedihan dan mendoakannya? Bagi saya pribadi, sependek pengetahuan dan pengalaman saya, kesedihan ini adalah kesedihan purba, semacam kesedihan yang lahir dari resonansi kasih sayang dari orang yang penuh kasih. Hanya orang yang watak dan hatinya welas-asih yang mampu menjangkau perasaan terdalam pada banyak manusia yang pada dasarnya diciptakan dengan citra ar-Rahman, Yang Maha Kasih Sayang. Orang yang welas-asih akan selalu, meminjam frase SImbah Kakung, “memanusiakan manusia.” Karena itulah “bahasa cinta” yang tak mengenal kapan dan di mana. Sekali kita berjalan dengan cinta di dalam naungan CInta-Nya, seakan tak ada lagi jarak tersisa, karena Cinta, seperti kata para arifbillah, adalah dasar dari penciptaan semesta, termasuk manusia.

Kita mungkin bersedih karena terutama menangisi diri sendiri, yang “merasa” kehilangan secara fisik dan geografis sebagian dari wujud cinta dan kasih sayang itu walau pada hakikatnya jejak dan warisan cinta dan kasih itu tak pernah pupus. Kita akan mengenang orang-orang yang welas-asih, seperti Bunyai Fatma, karena sosok-sosok semacam itulah yang menghargai manusia sebagai manusia, sebagai sesama hamba-hamba Allah Yang Mahapengasih lagi penyayang. Melalui Bunyai Fatma kita juga bisa memahami bahwa welas-asih tak selalu tampak megah, bisa sederhana namun menampung segala, seperti telaga yang luas dan tenang di mana kita bisa, meminjam frase penyair Sapardi, “berlayar di atasnya sambil memandang harumnya cahaya.”

CInta dan kasih-sayang sesungguhnya selalu bersifat timbal-balik dan saling menguatkan bahkan tanpa dibatasi oleh sekat ruang dan waktu, sebagaimana betapa “tidak logisnya” umat Muslim zaman ini yang mencintai dan menyayangi kanjeng Nabi Muhammad yang tak pernah mereka lihat dan jumpai karena terpisah jarak dan waktu yang begitu lama. Bukankah ini wujud dari rahmatan lil ‘alamin? Jika seseorang hidupnya diabdikan pada garis ajaran ini, ia juga akan melahirkan efek serupa: seperti saya dan banyak orang lain yang ikut merasakan kasih-sayang Bunyai Fatma. Ketika keterbatasan fisiknya diangkat, jejak kasih-sayang beliau pun merembes ke mana-mana: “di sini, sidik jarimu ada di mana-mana. ada di daun pintu. ada di daun jendela. ada di seantero ruang ini. maka alibimu tak bisa diterima. kau tak mungkin di tempat lain.”

Yang tersisa barangkali kenangan-kenangan yang indah. Dan kau tahu, kenangan itu seperti tamu tak diundang. Ia datang mengendap-endap ke dalam pikiran dan hati, menyapa kita tanpa suara tanpa kata. Dengan cara inilah barangkali ruh-ruh yang saling menyayangi dan terpisah menjaga kerinduan, sebab kerinduan semacam ini adalah semacam saluran yang mengalirkan cinta dan kasih sayang dengan orang-orang yang sudah dipanggil pulang oleh Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahapengasih lagi penyayang. Air mata kita menetes dari mata air perasaan cinta —

Setiap manusia harus pulang, karena bukan di sini rumahnya. Kabar lelayu selalu kita terima nyaris setiap hari. Lalu engkau mungkin bertanya-tanya: Seberapa sering kita ingat maut, dan dengan cara apa kita akan mati dan bagaimana kelak kita dikenang baik itu di dunia nyata maupun virtual dan terutama, bagaimana keadaan kita ketika menghadap kepada Rabb pemilik kita? Saya termasuk yang secara subjektif percaya benar bahwa Bunyai pulang dalam naungan kasih-sayang-Nya, juga ridha-Nya.

there’s must be an ending in this life, but in another sense, there’s endless begin.

Maturnuwun kagem Simbah Kakung sekeluarga yang telah berkenan memberikan hadiah obituari yang indah, terutama dengan mengajarkan kepada kami sekeluarga salah satu cara mengaji ayat-ayat Allah. 🙏

Advertisements

One thought on “In Memoriam Mbahyi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s