Digital Depthlessness

digitally

Memang rada aneh rasanya ketika aku bingung menjelaskan kepada anakku yang lahir di atas tahun 2000, apa itu mesin ketik dengan pita, apa itu video dan kaset dengan pita. Sama bingungnya ketika menjelaskan bagaimana dulu tanpa teknologi delete dan save file, yang mencetak dengan mesin stensilan, mengoreksi dengan tip-ex atau setip, orang bisa menulis dan mau membaca buku-buku tebal bermutu, tetapi di zaman orang bisa mengubah kesalahan tulisan cukup dengan beberapa klik dan save, orang makin jarang menulis buku tebal. Bahkan tak sedikit pula orang enggan mendalami sesuatu. Maunya serba cepat. Sekarang membaca artikel yang panjang saja ada orang yang sudah mengeluh: kepanjangan, katanya.

Membaca berita cukup judulnya saja, tanpa periksa isinya. Mendengar isu begini begitu, langsung marah-marah, padahal hanya isu yang bisa jadi hoax karena sifatnya yang tidak rasional dan tak realistis — namun orang percaya begitu saja dan ngamuk. Sosial media diam-diam bisa melatih orang untuk berpikir dangkal. Orang mengandalkan “frame” yang sudah ada di kepalanya untuk menghakimi sesuatu secara instan. Ribut melulu jadinya. Tetapi itu tak bertahan lama; perhatian lekas beralih ke isu lain yang datang susul-menyusul. Ribut lagi dengan masalah lainnya. Orang mendadak menjadi komentator segala bidang, ahli dan analis segala bidang, menjadi laskar segala tahu dan merasa berkewajiban untuk mengomentari dan mengkritik segala hal yang menurut “frame” mereka yang terbatas sebagai sesuatu yang salah — padahal barangkali itu hanya sekadar ekspresi ketidaksukaan mereka saja. Bahkan orang berlomba menjadi yang pertama dalam mengabarkan hal-hal yang disukai, tidak disukai, dan kontroversial, dengan cara langsung menyebar (share) berita hanya dengan melihat judulnya saja tanpa membaca isinya. Judul berita menjadi dasar untuk menjustifikasi prasangka. Orang juga berlomba-lomba memberi nasihat tanpa diminta dengan meng-copy-paste artikel via Whatsapp (WA). Group-group di WA yang awalnya bertujuan untuk silaturahmi alumni, misalnya, mendadak menjadi mirip “majelis taklim dadakan.” Setiap hari muncul share artikel religi dan motivasi yang panjang-panjang hasil “copasan.”

Dunia lalu seolah-olah menjadi hitam dan putih. Seakan-akan hendak mengatakan “kalau tidak pas menurutku, maka pasti salah.” Sebagian dari semua perbantahan itu bermuara pada satu keinginan: “Mestinya yang begini dan begitu itu harus menurut pendapat dan keinginanku.”

Sekarang bayangkan jika “pendangkalan” ini dibawa ke sikap dan pandangan hidup. Orang lebih suka menghakimi keluar, lalu lupa menengok ke dalam. Di luar dirinya, betapa banyak kesalahan yang dilihat; tetapi berapa banyak kesalahan dalam diri sendiri yang kita lihat? Di mana batas pengetahuan kita untuk tahu diri bahwa banyak hal yang sebenarnya kita tidak tahu, bahwa sebenarnya kita hanya ikut-ikutan, bahwa sebenarnya kita hanya tidak suka lalu membungkus ketidaksukaan kita dengan dalih kritik? Lalu batas antara kritik berbasis argumen yang kokoh dengan sekadar ungkapan ketidaksukaan tanpa dasar argumen yang kokoh menjadi kabur. Marah-marah dan caci maki pun dianggap kritik. Aku agak gelisah dengan pendangkalan-pendangkalan instan. Apalagi ketika pendangkalan ini dibawa ke ranah agama. Berapa banyak orang yang lebih suka mendalami dan menelaah kesalahan orang lain dan situasi ketimbang mendalami dan menelaah kesalahan dan keterbatasan diri sendiri?

Makin banyak orang memiliki apa yang disebut sebagai “smartphone” namun tidak cukup “smart” untuk memanfaatkannya.Kebebasan di Internet dan mudahnya akses informasi membuat seolah-olah dunia dalam genggaman. Padahal yang terjadi adalah makin banyak orang yang justru digenggam oleh dunia melalui smartphone mereka.

Dulu sebagian orang menunduk untuk belajar rendah hati dan merenungi diri secara mendalam; kini smartphone membuat sebagian kecil orang menunduk melihat layar smartphone dan memencet-mencet layar untuk menghakimi orang lain, berbagi provokasi, kebencian, juga hoax dan fitnah. Semoga yang “sebagian kecil” orang ini tidak bertambah banyak menjadi “sebagian besar” orang.

Advertisements

One thought on “Digital Depthlessness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s