Path of Hate

ddd17

“Aku beri tahu sedikit rahasia,” kata seseorang yang kutemui di perjalanan beberapa waktu yang lalu.

“Engkau boleh teriak-teriak sambat atau mengeluh pada banyak hal, tetapi jangan sampai benci atau dendam kau tumbuhkan; itu hanya akan melukai perasaanmu dan memburamkan mata hatimu. Engkau boleh saja bikin analisa macam-macam soal berbagai isu. Ketika elit politik sedang menegosiasikan kekuasaan dan pembagian harta, mereka cenderung akan melakukan apa saja: menciptakan kerusuhan, menyusun fitnah, dan lain sebagainya, sambil berharap rakyat memainkan perannya sebagai bidak. Kebencianmu pada salah satu pihak, akan dipakai pihak lain sebagai alat menekan dan untuk meraih tujuan politik dan kekuasaannya. Mereka akan terus berharap engkau mencaci-maki keadaaan, kebijakan, dan seterusnya, sementara mereka diam-diam duduk bersama mencari cara meraih tujuannya. Dan jika sudah ada kesepakatan, mereka akan tenang menikmati hasilnya — sementara mereka terus berkuasa dan meraup kekayaan, engkau akan terus tenggelam dalam rasa benci dan kecewa berkepanjangan. Teriakanmu bagaikan teriakan orang di pinggir jalan raya tempat elit penguasa ngebut berebut kekuasaan.”

Setelah menghisap rokoknya, ia melanjutkan, “Mereka tak terlalu peduli apakah engkau nanti sengsara atau tidak — dan jika engkau sengsara, mereka akan mencoba tampil menjadi pahlawan di matamu, dan memanfaatkan kekagumanmu untuk melanggengkan kekuasaan mereka. JIka kekuasaan dan kepentingan mereka terganggu, mereka akan secara lihai memantikkan api kebencianmu lagi, agar engkau saling caci-maki, fitnah, dan serang satu sama lain, lalu memanfaatkan hal-hal buruk yang engkau semburkan itu sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan politiknya lagi. Kebencian dan caci-makimu, membantu elit-elit untuk mendapatkan kepentingannya — kekuasaan dan harta.”

Yang beliau katakan ada benarnya dan sekarang makin kelihatan salah satu bentuk alat pemantik kebencian itu. Seperti dikatakan seorang filsuf Islam berabad-abad lampau, kita diuji dengan munculnya orang-orang yang mengira bahwa hidayah hanya turun kepada mereka dan golongannya. Bagi kita sekarang situasi menjadi tampak paradoks dan sekaligus ironis: agama yang idealnya untuk membereskan akhlak manusia, menciptakan tatanan yang baik, kini menjadi alat yang ampuh untuk memupuk egoisme dan perpecahan. Yang lebih ajib adalah, bidak-bidak yang dipakai untuk memantik kebencian dan perpecahan ini adalah orang-orang yang berharap ada kebersamaan hidup dan apa yang diistilahkan dengan slogan “ukhuwah.”  Mereka mudah dikelabui oleh ilusi yang diciptakan oleh orang lain, dan terutama oleh ilusinya sendiri yang didasarkan pada pemahamannya yang terbatas.  Mereka menolak kemungkinan perbedaan penafsiran, tak mau memberi ruang atas perbedaan dan keyakinan dan jika diajak berpikir lebih mendalam mereka enggan karena dianggap rumit dan mengada-ada. Mereka enggan terus belajar, membaca dan merenung untuk membuka dan memperluas wawasan.Bukankah sebenarnya peradaban manusia dikembangkan dan dijaga dengan ilmu pengetahuan? Bukankah kitab Qur’an, misalnya, pertama kali meminta pembacanya untuk Iqra’? Bukankah kita memang harus terus membaca dan membaca, terus belajar, demi memperluas wawasan?

Ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk terus belajar ini dikompensasikan oleh mereka dengan sikap mengklaim benar sendiri. JIka klaim ini dibantah, maka timbul amarah. Jika bantahan itu kuat argumennya, kemarahan makin menjadi dan melahirkan sikap membenci. Begitu sikap mudah marah dan mudah benci terus dipelihara, maka perlahan hilanglah penghormatan atas nilai-nilai kemanusiaan, tergerusnya penghormatan atas hak-hak bani adam. Lantas agama yang ajarannya mulia sekadar diperalat untuk memuaskan hasrat kebencian mereka dengan mengaku-aku atau mengklaim bahwa diri mereka dan kelompok yang sepaham dengan merekalah yang paling benar dalam memahami agama. Orang-orang semacam inilah yang barangkali mudah disetir dan dimanfaatkan oleh orang lain, mudah disusupi oleh kepentingan dan agenda politik. Kita tahu, orang yang tingkat benci dan buruk sangkanya sudah begitu berakar akan mudah diprovokasi, bahkan gampang ikut-ikutan marah-marah dan benci atas sesuatu yang sesungguhnya tidak mereka pahami benar. Bahkan mereka berani menggunakan ayat suci untuk ditafsirkan dalam rangka menjustifikasi kebencian mereka.

Betapapun kita dalam kebersamaan, manusia tetap individu yang unik, memiliki pengetahuan, daya intelektual, daya spiritual, keyakinan, harapan dan impian masing-masing yang tak jarang berbeda-beda, dan bahkan terkadang saling bertentangan atau berseberangan, karena kita selalu hidup dalam lingkungan multikultural, multiagama, dan seterusnya. Penyeragaman yang dipaksakan dari luar akan menciptakan bara dalam sekam, yang suatu saat akan meledak — dengan konsekuensi yang, sayangnya, sering tidak kita harapkan, sebab ledakan itu meluncurkan panah-panah kebencian ke segala arah.

Orang yang aku jumpai itu sempat berkata sebelum ia melanjutkan perjalanan, “Banyak orang memilih jalan kebencian. Hati-hatilah dengan orang yang selalu membenci dan selalu berprasangka buruk kepada orang lain, yang tidak mau melihat sedikitpun kebaikan pada diri orang lain dan hanya selalu melihat dan mencari-cari kesalahan. Bersihkan hati dan pikiran dari hal seperti itu. Sudah banyak hal buruk terjadi. Jangan menambahi.”

Advertisements

15 thoughts on “Path of Hate

  1. Setuju dan mudah dicerna tulisannya apabila dibaca dengan hati yang tenang dan jiwa yang bersih dari kebencian, teruskan memberi dan mengingatkan aura aura positif…
    Izin share mas

    Liked by 1 person

  2. Saya suka dan sependapat dengan isi tulisan ini.
    Membaca bukanlah tujuan tapi mengerti dan memahami yang dibaca itulah tujuan saya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s