Feeding My Ego

thoughts-ego

Engkau tahu, untuk mempertahankan eksistensi artifisial dan citra sebagai orang intelektual nan cerdas aku perlu sering-sering menghakimi orang lain secara ad hominem; dan bahkan untuk sekadar ikut-ikutan pamer atau narsis pun aku harus bersiasat agar citraku sebagai orang intelek dan bijak tidak ternoda. Misalnya, agar tetap eksis sebagai intelektual, maka untuk sekadar melepas hasrat narsis pun perlu kata-kata yang canggih, semisal begini:

: ‘duduk di mall sembari menikmati es krim bertabur caramel dengan sedikit terburu-buru agar tak keburu meleleh, membuatku berpikir bahwa hidup kita semakin didesak oleh irama ketergesa-gesaan dalam cangkang modernitas yang makin tak tentu arah, ditekan oleh hasrat untuk tak kehilangan sedikitpun kepuasan konsumtif-hedonistik … bla bla bla’,

Abaikanlah bagian refleksinya, sebab poin utamanya adalah aku ingin pamer sedang makan es krim lezat di mall. Ini adalah caraku narsis yang tidak ingin kelihatan pamer secara brutal ala ABG alay.

Aku juga harus menunjukkan diri sebagai pusat alam semesta. Beberapa hal pribadi, yang sebenarnya tidak ada gunanya dikabarkan ke orang lain, harus kukabarkan melalui media sosial. Tentu tidak dengan cara vulgar. Misalnya aku bisa menceritakan  bagaimana aku benar-benar dibutuhkan oleh pihak lain melalui narasi pihak ketiga. Bisa juga dengan cara menceritakan bagaimana aku adalah pribadi yang unggul dengan mengutip kata-kata teman yang memujiku. Agar tidak tampak terlalu pamer, atau agar niatku untuk pamer tidak terlalu mencolok, tentu harus ditambahi dengan kata-kata yang canggih, misalnya

“.. sejak itu temanku bilang kalau aku orangnya unik. Aku ditakdirkan untuk menjadi berbeda dan memiliki kelebihan ini-itu. Tetapi aku sendiri sebenarnya tidak tahu. Itu kata orang sih, entah benar atau tidak.”

Tetapi sekarang aku mulai tergoda untuk memamerkan hal lain: mengabarkan kerendahan hatiku. Jika ada isu dan aku sebenarnya tak paham betul, aku akan menulis analisis sederhana, yang aslinya memang ngawur, agar kelihatan tidak tahu. Tujuanku memang untuk pamer bahwa aku tidak tahu sehingga akan dianggap sebagai orang yang bijak.

Untungnya, aku punya cara untuk menyangkal hasrat narsis ini ketika dikritik, dengan mengatakan: “engkau kok begitu mudah menilai pribadi orang hanya berdasarkan tulisan pendek-pendek di media sosial?” Dan jika aku kelepasan menulis kata-kata yang menghina keras, aku bisa berdalih bahwa itu adalah bentuk satir.

Demikianlah, permainan kata-kata adalah perlu untuk menutupi apa sesungguhnya yang kuinginkan dan kuniatkan di dalam hati. Ini bisa kupakai untuk hal-hal positif dan negatif. Permainan kata-kata adalah caraku untuk mempertahankan pencitraan di dunia media sosial, karena aku tahu bahwa apapun yang kumaksudkan dan kuinginkan di dalam hati dan pikiran, begitu ia diungkapkan dengan kata-kata, akan selalu ada respon yang tak sesuai yang kuinginkan — bisa berupa pujian, guyonan, kecaman, nyinyiran, dukungan, tuduhan, dan seterusnya. Juga, karena hatiku akan cenderung menolak respon yang tidak memenuhi keinginan pribadiku, maka aku butuh respon kata-kata yang bagus, agar tidak kelihatan kalau sedang dongkol dan membuatku dianggap orang yang harus dituruti keinginan diri, agar aku selalu tampak objektif dan berwawasan luas. Ini adalah cara-cara yang kupakai sampai sekarang, agar aku tampak sebagai orang penting. Paling tidak dengan mengabarkan semua hal tentang diriku sendiri melalui permainan kata-kata, aku bisa memberi makan dan melayani hasrat egoku sendiri dengan menjustifikasi secara sepihak bahwa aku memang pusat alam semesta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s