Manusia Merdeka

merdeka

Kalau engkau sesekali berjalan-jalan ke mall, dan bertafakkur di tengah keramaian, sangat mungkin engkau akan melihat hal-hal seperti ini: etalase yang senantiasa baru, lampu-lampu yang meriah, pengunjung yang rapi dan wangi, atau setidaknya berpenampilan segar, tulisan-tulisan promo, SPG   cantik berpakaian ketat atau minim. Tetapi ada satu hal yang kadang engkau lupa perhatikan: tak ada jam dinding di sana. Dan jika kau iseng berjalan dari satu mall ke mall lain, yang engkau jumpai adalah sama dan sebangun suasana dan konteksnya. Dan, bahkan jika kau punya cukup uang untuk keliling dunia, semua suasana dan konteks mall di seluruh dunia adalah sama. Di dalam mall, semua serba baru, dan seolah-olah waktu tak berjalan di sana, hingga kau lupa waktu dan terus berbelanja sampai engkau letih.

Ini adalah “globalization of nothing.” peradaban barat mengekspor “nothingness,” atau kehampaan ke semua penjuru dunia. Mereka mengekspor cangkang peradaban Barat yang relatif kosong dari nilai spiritual. Dan celakanya, kita mengisi cangkang itu dengan nilai-nilai yang sama: hedonisme, fetishisme, konsumerisme. Pelan-pelan kita digiring menjadi pengembara keinginan. Kita berkelana mencari satu produk ke produk lain. Dan mall, supermarket, hingga iklan televisi, terus mengajak kita untuk membeli, memuaskan segala keinginan, segala hal yang sesungguhnya bukan kebutuhan kita. Iklan, dengan caranya sendiri, memanipulasi kesadaran hingga engkau tak bisa lagi membedakan mana “keinginan” dan mana “kebutuhan.” Sirup misalnya, bukanlah kebutuhan asasi, tetapi ia direkayasa, melalui iklan, seolaholah sirup adalah suatu kebutuhan untuk bulan Ramadhan.

Kita hidup ditengah timbunan tawaran konsumtif yang dijejalkan ke dalam kesadaran hampir di setiap detik, terutama sesudah teknologi komunikasi makin canggih dan membongkar setiap sekat geografis dan ruang. Maka, meminjam idiom ayat, “kemanapun wajahmu berpaling, engkau akan melihat wajah iklan.” Jika engkau tak bisa lagi membedakan mana keinginan, mana kebutuhan, maka daya kritis dan intropeksi-diri (muhasabah) akan tumpul. Engkau akan sulit menahan diri, sulit membatasi diri. Padahal, menurut ajaran agama, salah satu kunci untuk mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan yang hakiki adalah kemampuan untuk menahan diri ini.

Agama adalah, salah satunya, mengajak kita menahan diri – dalam arti membatasi keinginan yang sia-sia dan tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Merugikan dalam banyak hal: merugikan nyawa, harta, kehormatan dan perasaan orang lain, merugikan kerukunan dan keharmonisan, merugikan lingkungan dan sebagainya. Bagi umat Muslim, hal-hal semacam itu akan membawa manusia jatuh ke dalam belenggu hawa nafsu yang tak pernah puas. Hawa nafsu dalam diri manusia adalah penjajah yang paling cerdik dan licin. Ia mampu menjajah dan mengurung kita dalam kekuasaannya dengan idiom-idiom kebaikan. Nafs akan mengajak orang agar mencari hal-hal yang menyenangkan dan membebaskan. Dan di sinilah pintu masuknya. Dengan dalih kebebasan, orang bisa melakukan hal-hal yang membatasi dan membelenggu dan merampas kebebasan banyak orang lain yang, pada gilirannya, membuat dirinya sendiri terbelenggu dalam cengkeraman hawa nafsu. Dengan dalih kebebasan, orang jatuh ke dalam penjajahan hawa nafsunya sendiri. Ia menjadi budak dari nafsunya sendiri – ia jatuh dalam kolonialisme nafsu al-amarah bi su’.

Hal semacam ini semakin jelas di era internet. Orang-orang, dengan dalih kebebasan, merasa bebas menulis apa saja: mulai dari cacian sampai fitnah yang paling keji tanpa merasa bersalah. Orang merasa bebas menghina apa saja: mulai dari menghina orang hingga menghina Nabi, ulama, ajaran ilahi, menghina keyakinan orang lain, bahkan menghina Tuhan. Orang semakin tidak peduli untuk memamerkan segala kemewahan di tengah kemiskinan.   Orang tidak peduli pada nilai-nilai keadilan demi mengejar kepentingan diri dan golongannya. Orang merasa merdeka untuk tidak peduli kepada kehormatan orang lain, merasa merdeka untuk tidak peduli pada perasaan orang lain, merasa merdeka untuk tidak peduli pada kerusakan yang ditimbulkan dari fitnah, dusta dan kebencian yang ia sebarkan secara viral — hingga seakan-akan “ke manapun wajahmu berpaling, akan engkau jumpai wajah keserakahan, kebencian dan syahwat yang nyata.”

Bahkan, dengan segala anggapan tentang pentingnya kebebasan, agama yang seharusnya menjadi tuntunan, menjadi bahan bakar yang bagus untuk membakar dan merusak kehidupan. Orang-orang merasa bebas menafsirkan ajaran sesuai keinginannya, menggunakannya untuk bertengkar, melaknat, dan sebagai justifikasi untuk melakukan berbagai bentuk pembunuhan. Kebebasan memaknai agama semaunya ini menjadikan orang bertanya-tanya: jika terhadap sesama orang beriman dan sesama manusia saja tidak bisa menghadirkan rahmat kasih sayang, bagaimana umat agama ini bisa mengejawantahkan kehendak kanjeng Nabi untuk menjadikan Islam sebagai rahmatan lil’alamin?

Kita memang telah merdeka dari satu sisi, dan itu patut kita syukuri sebab itu adalah anugerah dari Allah melalui perjuangan serta pengorbanan para pendahulu kita. Kita tidak bisa mengabaikan jasa mereka, sebab para pahlawan dan pejuang pada masa lalu mengorbankan banyak hal demi mewariskan wadah yang dapat menjadi tempat bagi kita, generasi selanjutnya, untuk meneruskan perjuangan menjadi manusia yang bermartabat, baik di mata bangsa lain maupun di mata Tuhan.

Tetapi, semestinya kita juga ingat bahwa  perjuangan menjadi manusia merdeka tak pernah usai selama orang masih dijajah oleh hawa nafsunya sendiri, dijajah oleh keserakahan pada harta dan kekuasaan, dijajah oleh perasaan benci, iri dan dengki. Ringkasnya, perjuangan akan terus terjadi selama orang masih dijajah oleh hawa nafsu yang menjadikan nilai-nilai kearifan, rahmat, cinta dan kasih sayang semakin tersudut dalam kehidupan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s