Pulang Kampung

kampung

Dulu, saat masih kanak-kanak, kita berkumpul tanpa basa-basi sosial. Tetapi kini kita sedikit banyak, terpaksa atau tidak, mengenakan basa-basi sosial sembari mencoba mempertahankan keakraban  yang pernah kita nikmati di masa lampau.  Kenangan tentang keakraban masa silam, ketika diri belum begitu banyak dijejali kepentingan nafsu dan kebutuhan, diam-diam menimbulkan keinginan untuk mewujudkan kembali keakraban itu dalam pertemuan-pertemuan. Kita menyimpan kerinduan pada kebersamaan yang tulus, yang semakin sulit dijumpai di masa kini. Kita selalu merindukan masa-masa itu, dan berusaha mewujudkannya lagi, setidaknya setahun sekali, saat lebaran tiba. Mudik dalam situasi sekarang adalah seperti menziarahi kembali masa lalu yang masih murni, masa-masa ketika beban hidup begitu ringan, masa-masa ketika kita masih punya rumah untuk pulang setelah lelah usai bermain.

Sosok orang tua, kampung halaman, rumah ayah dan ibu, nisan yang berdebu, dan bayang-bayang suka dan duka, yang pernah menjadi bagian dari hidup kita, memiliki daya tarik misterius untuk menyeret kita kembali menjumpainya. Jika kita merantau dan tinggal di tempat yang jauh dari rumah tempat kita dibesarkan, maka  rumah menjadi penyimpan banyak kenangan —   sebagian adalah kenang tentang duka; tentang kasih sayang; tentang tawa dan tangis. ‘Rumah’ mewakili sesuatu yang dekat dengan eksistensi kita, mewakili perasaan seperti kenangan tentang kehangatan dan dekapan kasih sayang seorang ibu. Betapapun semarak dan menyenangkannya hidup kita di luar sana, pada suatu waktu, terutama saat terbit perasaan begitu sunyi dan kecil, begitu letih, kita akan rindu untuk pulang ke ‘rumah’, tempat kita mengistirahatkan seluruh gelombang dan pasang-surut kehidupan yang sering seakan terasa begitu membebani diri.

Karenanya mudik adalah perjalanan batin, yang memanifestasikan dirinya dalam bentuk perjalanan lahiriah pulang ke kampung halaman. Orang rela mengorbankan banyak uang, tenaga dan waktu agar bisa pulang. Terlepas dari bermacam-macam motif orang melakukan perjalanan mudik, kita bisa bertanya: apa kekuatan yang ada di balik keinginan orang-orang untuk mudik atau pulang ke kampung halaman?

Semua orang pada titik tertentu selalu ingin pulang. Orang-orang akan semakin menua dan mereka cenderung lebih memilih istirahat di rumah, menunggu panggilan untuk pulang ke kampung halaman abadi. Karenanya, insting untuk pulang selalu ada pada diri setiap manusia, sebab manusia tinggal dan hidup di dunia ini tak pernah selamanya. Pada suatu saat, manusia bukan hanya mudik ke kampung halaman, tetapi juga mudik ke tempat asal di mana ia diciptakan. Kampung halaman di mana kita berdiri bersama-sama, bercakap dengan Tuhan, bersaksi dan mengakui sepenuh hati bahwa kita adalah hamba-Nya.

Dan semakin senja usia, kerinduan untuk pulang akan semakin pekat — pulang ke hakikat diri kita, entah itu dengan diam-diam atau terang-terangan. Sadar atau tidak, manusia sesungguhnya rindu untuk kembali ke awal penciptaan. Seiring berjalannya waktu, hal-hal yang dulu disukai akan terasa membosankan; kenikmatan inderawi dan lahiriah akan hilang satu per satu; pada momen-momen inilah orang biasanya akan mulai muncul keinginan untuk lebih banyak di rumah, mengistirahatkan badan, pikiran dan jiwa. Kadang-kadang ada bersitan hati dan pikiran, ketika orang mendadak merasa sunyi tanpa alasan, atau merasa damai tanpa sebab, atau sedih begitu saja, tanpa tahu apa pemicunya. Barangkali itu adalah panggilan dari kampung halaman abadi, semacam kerinduan ruh yang mendesak menembus sekat hawa nafsu dan daya kognitif kita,  untuk mengingatkan, tanpa kata-kata, agar orang selalu ingat bahwa mereka akan berjalan pulang, kembali ke pertemuan azali, pertemuan percakapan akrab ruh kita dengan Rabb kita: “alastu birobbikum; bala syahidna.”

Dan kini, pernahkah engkau bertanya, “siapakah yang tak rindu mendengar kembali suara Tuhan di telinganya?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s