Syekh Ibn ‘Arabi: Tentang Puasa

lantern-engaging-hd-wallpaper-142945299320

The fast belongs to Allah, so do not be ignorant.
You are merely the place of its manifestation.

Ketika kita berpuasa, meski kita yang melakukannya, namun puasa itu “milik” Allah. Karena itu, menurut Syekh Akbar Ibn ‘Arabi, puasa pada hakikatnya adalah sebentuk “pencegahan dan pengangkatan ke tempat yang lebih tinggi.” Puasa memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan sebagian besar amal ibadah, sebab walaupun Allah memberikan ganjaran kepada pelaku puasa, namun Allah tidak menisbahkan puasa kepada hamba-Nya, melainkan kepada Diri-Nya. Allah mencegah hamba untuk mengklaim ibadah puasa sebagai milik mereka:

“Setiap perbuatan putra Adam miliknya kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberinya ganjaran. Puasa adalah perisai (penjagaan). Ketika salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah berbicara yang buruk; …  Demi Zat yang menguasai jiwa Muhammad, bau mulut orang yang berpuasa lebih sedap bagi Allah dibandingkan bau harum misik. Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan yang di dalamnya [ia] bergembira: ketika ia berbuka puasa, ia gembira; dan ketika ia bertemu Tuhannya, ia bergembira dalam puasanya.”

Syekh al-akbar Ibn ‘Arabi lalu menjelaskan bahwa Allah tidak menyerupai apapun (laysa kamitslihi syai’un), dan karena puasa adalah milik-Nya,  maka puasa adalah ibadah yang unik, tidak ada yang menyerupainya. An-Nasa’i meriwayatkan bahwa Abu Umamah berkata, ”Aku datang ke Rasulullah saw dan berkata, ”Berikan kepadaku sesuatu dapat aku ambil.” Rasulullah SAW berkata, ”Engkau  harus puasa. Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai puasa.” Syekh Ibn ‘Arabi menjelaskan, “karena Nabi menyatakan tak ada yang menyerupai puasa, dan karena tidak ada yang menyerupai-Nya (Allah), maka orang yang berpuasa akan “menemui Tuhan dengan gembira dalam puasa.” Pelaku puasa (dalam pengertian yang hakiki) akan bergembira karena melaksanakan ibadah yang adalah milik-Nya. Allah menebus puasanya pelaku puasa ketika dialihkan kepada Tuhannya, dan ia menemui-Nya dalam keadaan yang tidak seperti lainnya.

Allah berfirman, “Akulah yang memberi ganjaran [bagi orang yang berpuasa],” yang bermakna Allah mengganjar orang yang berpuasa jika puasanya adalah sebenar-benar lillahi ta’ala dan sepenuhnya dikembalikan kepada-Nya, bukan dinisbahkan kepada dirinya sendiri. Orang yang menisbahkan puasa kepada dirinya sendiri adalah mereka yang tidak mendapatkan ganjaran yang dijanjikan Allah ini, namun termasuk kelompok yang oleh Nabi Muhammad SAW dkatakan sebagai mereka “yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga.” Orang seperti ini, meski berpuasa, tidak bisa memutuskan hasrat-hasrat atau keinginannya kepada sesuatu selain Allah.  Bisa jadi orang ini mampu menahan lapar dan dahaga, namun tak mampu menahan dari tindakan memfitnah, membenci, dusta, menyakiti perasaan orang lain, dan berbagai tindakan zalim lainnya – entah itu zalim secara verbal atau secara fisik.

Menurut Syekh Ibn ‘Arabi, karena puasa adalah milik-Nya, maka pada hakikatnya puasa adalah ”tanpa-laku.” Ini bukan dalam makna lahir atau fisik, namun mengacu pada makna ruhani dari ”tanpa laku” – yakni diam, hening. Puasa dalam makna ini hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang,  yakni puasanya kelompok yang oleh Imam al-Ghazali disebut sebagai golongan ”orang khusus dari yang khusus.” Ketika ”haal” (keadaan ruhani) seseorang telah menyatukan ”laku” dengan ”tanpa laku”, yang berarti sudah menisbahkan semua tindakannya kepada Allah, menyatukan tanzih dan tasybih, maka Allah sendirilah yang akan memberi balasan kepada orang yang berpuasa, dan mengekspresikan atau mengejawantahkan Diri-Nya, melalui orang yang berpuasa secara khusus ini: ”… Aku menjadi tangannya yang dengannya dia memegang, penglihatannya yang dengannya dia melihat … dan seterusnya seperti tertera dalam Hadis Qudsi yang masyhur di kalangan sufi.

Jika demikian keadaannya, maka seseorang berarti telah kembali kepada keadaannya yang semula, fitrah – atau dalam ungkapan umum ”aidil fitri,” kembali ke keadaan sebenarnya melalui puasa, yakni kembali kepada keadaan bahwa dirinya bukan apa-apa karena, sebagaimana puasa, manusia adalah milik-Nya.

Karenanya, kewajiban dalam berpuasa secara syariat adalah menahan diri melakukan tindakan-tindakan yang haram maupun halal selama ia berpuasa, dan melakukan tindakan-tindakan ibadah wajib dan sunnah sesuai perintah-Nya, agar terbit kesadaran hakiki tentang ”la haula wa quwwata illa billah,” yakni tidak ada daya dan kekuatan apapun kecuali dari Allah, bahwa meski orang makan, namun sesungguhnya orang kenyang bukan karena makan melainkan karena Allah, bahwa orang beribadah bukan karena dirinya sendiri mampu beribadah melainkan karena diizinkan dan diberi kekuatan oleh Allah, dan seterusnya. Karena itu dalam pengertian ini seseorang melalui ibadah yang ”milik-Nya” kembali kepada-Nya bukan melalui dirinya sendiri tetapi melalui sesuatu yang merupakan milik Allah. Pada gilirannya, karena ia secara ruhani menyerahkan hakikat ibadahnya kembali  kepada Sang Pemilik, maka dirinya ridho untuk dikendalikan dan diatur  oleh Sang Pemilik sehingga ia berhak menyandang amanah sebagai ”khalifah Allah di muka bumi.” Orang yang ridha dengan aturan ilahiah berarti adalah orang yang masuk ke wilayah ketakwaan, sebab takwa berarti “mematuhi perintah dan menjauhi larangan Allah.” Karena itu, orang yang telah sampai pada hakikat justru akan semakin teguh dengan syariat. Tetapi ketaatan pada hukum-hukum Allah ini bukan karena terpaksa atau karena ingin dianggap saleh dan alim dan ingin dihormati, tetapi karena lahir dari kesadaran dan pengenalan (ma’rifatullah), dari rasa malu kepada-Nya, dan rindu kepada-Nya. Mengenai persoalan ini Muhyidin Syekh Ibn ‘Arabi memberikan sebuah kisah indah, kisah yang menggambarkan bagaimana syariat dan hakikat menyatu dan melahirkan malu, ridha, cinta dan rasa syukur dan kesadaran tentang adab, sebagai bagian dari akhlak al-karimah:

Aku pernah mengalami sebuah kejadian. Suatu hari aku sedang bersama Musa ibn Muhammad al-Qabbab di menara Masjidil Haram Makkah di pintu Hazawwara. Saat itu, azan sedang dikumandangkan. Ia mempunyai beberapa makanan yang berbau amat menyengat sehingga tercium oleh hampir semua orang yang ada di sekitarnya. Aku mendengar dalam sebuah hadis Nabi, bahwa para malaikat tidak senang dengan bau menyengat dari bani Adam. Maka itu, adalah dianjurkan jangan masuk mesjid dengan badan atau mulut bau makanan yang menyengat (bawang putih, bawang bombay, pete dan sejenisnya). Malam itu aku berkeinginan menyuruh orang itu mengeluarkan makanan itu dari mesjid demi para malaikat. Namun aku tertidur dan bermimpi berjumpa Allah Yang Mahakuasa. Di dalam mimpi itu, Dia berfirman kepadaku, ”Jangan engkau campuri uusan soal makanan itu. Baunya di sisi-Ku tidak sama seperti baunya di sisimu.” Keesokan paginya ia datang seperti biasanya. Lalu aku menceritakan kepadanya tentang apa yang telah tersingkap [kepadaku]. Setelah mendengar cerita mimpiku, ia menangis dan bersujud kepada Allah karena rasa syukur. Lalu ia berkata kepadaku, ”Syekh, walaupun Allah demikain, adab dengan syariah adalah lebih baik,” dan ia mengeluarkan makanan itu dari mesjid. Semoga Allah merahmatinya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s