Nyadran

nyadran
Photo by eMbah Sumobagor

Padahal hidup telah mengabarkanmu
Tentang mendekatnya ajalmu. Seperti

: tujuh helai uban yang terserak dirambutmu. Keriput tipis di sela jemarimu.
Sunyinya hatimu kala dunia begitu seru.
Juga daun gugur di halaman rumahmu.

~ embahnyutz

Dan kita kini hidup di dunia yang makin bising, ketika suara hanya sekadar bunyi, ketika keheningan dimaknai kesepian. Di masa lampau orang-orang arif billah menghargai sekaligus mengakrabi keheningan. Hening mereka bukanlah kesunyian atau kesepian. Misalnya, membaca al-Qur’an dengan bersuara, dengan makhraj yang tepat,  adalah sebentuk keheningan bagi mereka yang mengerti. Membaca berarti kalam Ilahi boleh dengan mengeluarkan suara, namun bukan sekadar bunyi. Pembacaan yang benar dan dari hati yang senantiasa hudhur akan melahirkan suara yang menciptakan “keheningan.” Tentu kita sering bagaimana orang bisa menjadi takzim dan penuh perhatian ketika mendengar bacaan al-Qur’an yang disuarakan dengan benar dan indah.

Sekarang kita misalkan begini. Engkau tentu pernah mendengar lagu yang menyebabkan ada sesuatu yang terbit dari hati. Semisal engkau mendengar lagu sendu, barangkali kenanganmu tentang kekasih yang jauh mendadak muncul dan menyeretmu ke dalam mood yang perih. Musik indah ciptaan manusia, yang hanya percikan kecil dari keindahan ‘suara tuhan,’ sudah bisa membangkitkan banyak hal dalam dirimu — sekarang bagaimana jika suara yang indah itu adalah refleksi paripurna dari suara ilahi?  Suara tidak memasukkan sesuatu, tetapi membangkitkan sesuatu yang sudah ada dalam dirimu. Dengan cara yang sama, “suara Tuhan,” yang direpresentasikan oleh ayat suci, jika dibaca dengan benar, akan membangkitkan sisi keruhanianmu yang bersumber langsung dari tiupan nafas ar-Rahman. Maka bacaan kalam Tuhan yang benar itu adalah seperti mengembalikan kita ke inti diri, ketika diri ini mendengar langsung sabda mahamerdu dari Tuhan yang mahaindah: “alastu birabbikum?”

Kenangan ini kadang-kadang membangkitkan kerinduan untuk pulang. Semakin sering kita terkenang, kerinduan akan semakin kuat secara tanpa kita sadari. Perlahan ingatan ini akan membawa kita ingat Tuhan, dan pada gilirannya mendorong kita untuk memperdalam ibadah demi mendekat kepada-Nya.

Tetapi orang sering lupa kematian itu dekat. Karenanya sering lupa pada tujuan hidupnya. Kesibukan dunia membuat orang kurang peduli pada kenangan-kenangan azali semacam itu. Bahkan karena fokusnya pada dunia, ibadahnya pun demi sesuatu yang lain. Misalnya, berzikir agar kaya atau sakti, shalat agar tampak beriman, sedekah agar hartanya berlipat-ganda, dan seterusnya.

Jika demikian halnya, ingatan tentang kematian perlu terus dirawat, agar perlahan-lahan kita ingat kembali tentang tujuan kita yang sesungguhnya. Karena itulah orang-orang arif billah pada masa lalu membuat tradisi nyadran, ziarah kubur, agar orang, minimal setahun sekali, bisa ingat kembali akan kematian, sekaligus ingat akan leluhur dan tauladan kehidupan orang-orang yang telah “pulang” lebih dahulu.

Ziarah kubur membuat orang ingat mati. Suasana kuburan yang cenderung sepi, jika diiringi dengan zikir kematian dan tafakur yang lebih mendalam, akan membawa orang  pada keheningan, pada suara-suara halus dan lembut yang memanggil-manggil diri untuk kembali, meredakan hasrat dan ambisi keduniawian yang  melampaui batas.

Kematian mungkin membuatmu berpikir. Jika kau mati, apa makna harta dan segala hal yang kau anggap berada dalam kekuasaanmu? Dan siapakah yang akan berduka jika engkau mati? Seandainya kau mati esok hari, apakah kematianmu akan mengubah dunia? Sangat mungkin, jika kau mati, penduduk dunia tidak akan peduli – bahkan saudara-saudaramu kelak hanya akan berkabung selama tiga hari, atau empat puluh hari, atau seribu hari, dan kemudian menjalani hidup sebagaimana biasa, tenggelam dalam persoalan masing-masing; dan kau hanya dikenang dalam foto, dalam doa yang kadang setengah hati, dan jika beruntung, dikenang setahun sekali setiap jelang lebaran. Dan dalam hitungan tahun, boleh jadi namamupun akan terkubur dalam lipatan waktu, tanpa seorangpun mengingat namamu. Jika hanya begitu, bukankah kau tak lebih penting ketimbang sehelai daun yang gugur pada senja hari?

Since the day of my birth, my death began its walk. It is walking toward me, without hurrying

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s