Memuji guru, memuja nafsu diri

Fence-Bokeh-HD-Wallpaper

Seorang kawan berkata, “Guru-guru kita yang alim dan arif billah adalah pewaris kanjeng Nabi; mereka meneruskan ikhtiar membantu membangun akhlak karimah untuk semua orang dan menyebarkan prinsip rahmatan lil ‘alamin.”

Namun kadang-kadang upaya mereka dihambat bukan oleh orang-orang jahat, melainkan oleh murid-murid mereka sendiri. Para guru berijtihad dan berusaha lahir-batin, bersiasat begitu teliti dan hati-hati, namun kadangkala murid membanggakan guru dan menerjemahkan ikhtiar guru itu dengan menyertakan ego dan keinginan yang agak berlebihan. Lisan dan tulisan mereka seolah-olah menunjukkan bahwa merekalah murid yang paling berbakti dan karenanya merasa merekalah yang paling sah dan benar menerjemahkan kehendak guru; mereka meminjam nama besar guru demi membanggakan ego diri sebagai murid paling taat, sebagai orang-orang yang paling dekat dengan guru ruhani,  sehingga hanya diri mereka dan golongan yang sepaham dengan merekalah yang merasa paling berhak mendapatkan  berkah dari guru mereka.

Padahal maksud guru-guru ruhani adalah menyebarkan kebaikan dan berkah kepada semua orang tanpa peduli dari golongan mana; namun sebagian murid, dengan cara mereka yang berlebihan, justru terkadang membatasi jangkauan penyebaran itu. Lalu orang lain yang punya rujukan guru berbeda dan belum mengetahui hakikat dari ijtihad para guru ruhani, merasa diremehkan sehingga mereka menjauhi sumber berkah itu, mencurigai guru lain sehingga kehilangan adab sebagai salik.

Dengan kata lain, sebagian murid justru melemahkan kekuatan penyebaran kebajikan dari guru itu dengan cara menanamkan benih-benih prasangka buruk dan memandang rendah kelompok lain, dan seakan-akan ingin memonopoli kemuliaan untuk kelompok mereka sendiri. Sebagaimana ungkapan simbolik: kadang-kadang “Kemuliaan islam ditutupi oleh umatnya sendiri,” demikian pula, kadang-kadang  “Kemuliaan dan keberkahan dari guru ditutupi oleh murid-muridnya sendiri.”

Jadi ingat perkataan kawan : ‘sebaiknya memang tak membeda-bedakan ke mana kita mengaji dan ngalap barokah kepada guru-guru, selama silsilahnya sambung ke kanjeng Nabi.’ Hal paling sulit memang mengendalikan ego yang selalu ingin merasa bahwa diri sendiri dan kelompok kitalah yang paling baik, benar dan mulia. Sumber pertengkaran dan kerusakan sebagian besar memang berawal dari klaim arogan azali: “aku/kami lebih baik daripada engkau/kalian.” Alhasil, lantaran arogansi keimanan ini, sebagian dari orang beriman terjebak dalam muslihat nafs klasik: sebagaimana orang  kadang membesar-besarkan asma Allah sembari membesar-besarkan ego dan hawa-nafsu sendiri, demikian pula sebagian orang memuji dan memuliakan guru demi memuja-muja hawa-nafsu diri

wa Allahu a’lam

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s