Imbang Rasa

Balance

Tuhan tak jarang memberi pertolongan melalui hal-hal yang tak disukai hamba-Nya

Orang akan selalu diuji dengan hal-hal yang tidak nyaman: susah, sakit, tertipu, berbuat salah dan keliru secara tak sadar atau sadar, dan seterusnya, agar orang tak mengklaim bahwa amalnya bisa mengatur-atur Tuhan untuk menuruti keinginannya, agar tidak mengklaim dirinya sudah paling benar sesuai kehendak Tuhan. Agar pikiran mengingat dan memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak diletakkan dalam hati.

Setiap ujian mengugurkan beberapa tumpukan kotoran yang membuat ruang hati penuh sesak dengan prasangka, waham, dan segala macam maksiat, hingga lama-lama kelamaan ruang hati menjadi makin lapang; lalu larik-larik cahaya-cahaya Ilahi yang semula tak bisa masuk karena hati telah penuh-sesak, kini pelan-pelan menyusup dan menyinari hati, menghidupkan kembali hati dan melapangkan dada.

Dalam tasawuf ada dua kondisi yang saling bertentangan, namun silih berganti menerpa jiwa manusia, yang istilah teknisnya adalah bast (kelapangan) dan qabdh (kesempitan, kesesakan). Allah menempatkan hamba-Nya yang berjalan menuju-Nya (salik) dalam kedua keadaan itu silih berganti. Allah menempatkan orang pada situasi sempit agar ia tidak selalu berada dalam situasi lapang, dan menempatkannya dalam situasi lapang agar tidak selalu dalam keadaan sempit. Dia melakukan ini secara terus-menerus sampai hamba-Nya mengetahui bahwa, meskipun Allah menentukan sunnatullah sebab-akibat, namun Dia sendiri tidak bergantung pada sebab. Tuhan berada di luar sistem sebab-akibat.

Qabdh adalah keadaan sesak, di mana suatu waarid (keadaan ruhani) yang bersumber dari asma Jalaal (Kemegahan/Keagungan) dan Kekuasaan menguasai hati, yang menggantikan kegembiraan dan kelapangan jiwa. Sedangkan kondisi bast (kelapangan, keluasan) berasal dari Keindahan (Jamaal) dan Rahmat (Kedermawanan). Salik mengalami kedua kondisi ini. Pada mulanya salik merasakan khauf dan raja atau takut dan harap. Perbedaan antara khauf/raja‘ dengan qabdh/bast adalah, keadaan khauf/raja’ berasal dari refleksi tentang masa depan, sedangkan qabdh/bast bersumber dari konsekuensi dari waaridat (anugerah) yang datang pada momen saat ini, kekinian.

Tujuan dari pemberian dua kondisi ruhani yang bertentangan ini adalah untuk “melatih keseimbangan mental dan hati” dalam arti bahwa salik diharapkan sampai pada titik tengah pusaran kondisi ruhani yang kokoh, yakni tak terguncang oleh kondisi-kondisi yang bertentangan: Setelah mujahadah yang bisa jadi lama dan sulit, seseorang akan sampai pada momen pencapaian puncak di mana lapang dan sesak akan menjadi sama, sebab hamba fokusnya bukan pada wariidaat atau anugerah melainkan pada Pemberi Anugerah.

Dalam kasus pertolongan Allah melalui hal-hal yang tidak disukai ini, yakni melalui hal-hal yang menyesakkan, ada hikmah yang halus. Jika seseorang berada dalam kondisi kelapangan secara lama, maka kondisi ini akan menyebabkan nafs menjadi senang. Ini boleh jadi menjadi pintu masuk nafs yang menipu secara lembut, syahwat yang muncul dalam ibadah, yakni membuat orang merasa senang dan nikmat dalam beribadah sampai pada titik di mana ia menjadi lupa pada tujuan ibadah: ia beribadah demi kesenangan dan kelezatan dalam beribadah, bukan demi mengabdi kepada-Nya. Syekh Al-Wasithi pernah memperingatkan, “Dalam kelezatan ibadah terdapat racun yang mematikan.” Maka kesenangan dalam kelapangan ini akan mereduksi kualitas penghambaan seseorang; semakin lama seseorang berada dalam kondisi lapang, semakin besar bahaya yang mengancam kemurnian ibadahnya. Dalam kondisi kelapangan dan kegembiraan, nafs mungkin menjadi bangkit dan menguat dan membanggakan kondisi-kondisi spiritual yang dicapai seseorang. Jika tidak terkontrol, akan ada bahaya seseorang dijebak secara halus dan samar ke dalam paradigma keiblisan: “aku lebih baik dari dia,” yakni merasa dirinya lebih baik dan merasa lebih alim.

Sebaliknya, karena qabdh (kesempitan) selalu bertentangan dengan nafs, maka kesempitan akan memicu kesadaran seseorang akan kehinaan, ketidakberdayaannya, dan kekurangannya. Dalam kondisi sesak-sempit, hamba akan merasakan benar bahwa Allah Maha Agung, Maha Memaksa, Maha Berkuasa, dan seterusnya. Dalam qabdh, nafs tidak mendapatkan kesenangan sebagaimana dalam kondisi kelapangan. Maka seringkali dalam situasi sempit, dalam hal-hal yang tidak disukai nafs, seseorang akan mendapat pengetahuan, wawasan ruhani baru, yang tidak diperoleh dalam kondisi lapang (bast). Kesempitan membuat orang sadar akan kerendahan dirinya; dan kerendahan hati, pengakuan akan ketidakberdayaan, akan menyebabkan hatinya juga merendah; saat itulah hati akan memperoleh aliran air pengetahuan dan dapat menampungnya. Secara metaforis, hanya tanah yang cekung dan merendah yang bisa menampung air; permukaan yang cembung dan dan meninggi tidak bisa.

Karena itu, Allah Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana akan menolong hamba-Nya yang sedang dalam kondisi kelapangan pada level di ambang bahaya dengan cara memberikan kondisi kesempitan kepadanya untuk menggantikan kondisi lapang tersebut. Dengan demikian secara diam-diam Allah membebaskan hamba-Nya dari kemungkinan terjerembab ke dalam syirik tersembunyi, dalam perangkap nafs yang membajak dan menyelewengkan amal-ibadah seseorang. Dalam kondisi sempit dan susah seseorang akan cenderung kembali berpaling kepada ALlah, bukan kepada dirinya sendiri atau kepada amal ibadahnya — ia merasa lemah, tak berdaya, dan tergantung kepada ALlah, sehingga ia pun kembali ke jalur pengabdian yang benar, yakni ibadah lillahi ta’ala.

Allah berfirman dalam surat al-Baqarah yang intinya janganlah kita terlalu menyukai sesuatu hal sebab barangkali itu buruk bagi kita, dan jangan terlalu membenci sesuatu hal sebab barangkali itu baik buat kita. Salik tidak tahu mana dari dua keadaan (bast dan qabdh) yang lebih baik bagi dirinya. Kedua kondisi ini adalah medan latihan, bukan tujuan sehingga tidak boleh dipakai sebagai penghakiman atas sesuatu atau dipahami dan diinterpretasikan secara subjektif (suka dan tak suka) pada level yang ekstrim atau berlebihan. Memandang kondisi lapang secara berlebihan dapat menyebabkan seseorang mudah takabur dan ujub. Memandang kondisi sempit secara berlebihan dapat menyebabkan seseorang mudah jatuh dalam keluh-kesah dan putus asa. Berlebihan (baik dalam konotasi positif maupun negatif) adalah kondisi melampaui batas, dan dalam firman-Nya, dikatakan bahwa Dia tidak menyukai hamba-Nya yang melampaui batas.

Jika seseorang terus berlatih menerima kondisi bast dan qabdh secara terus-menerus tanpa prasangka buruk, maka ia akan mencapai kondisi istiqamah dan i’tidaal (keseimbangan).

Wa Allahu a’lam 

Advertisements

One thought on “Imbang Rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s