Anak

child

[Rumah 1]

“Jangan mikirin dosa dulu deh,” terdengar suara lelaki, pelan, sedikit bergetar. Lalu sunyi menyergap. Mentari telah melipat cahayanya, dan malam mulai menurunkan tirai gelapnya ketika lampu minyak di dapur rumah bercat putih itu menyala redup dan bergoyang kecil ditiup angin yang berhembus dari rimbun pepohonan di depan rumah.

Ia duduk di tepi jendela, di kursi berkerangka besi yang kakinya sudah berkarat dan bantalannya sobek di sana-sini, sambil menatap langit gelap. Di sebelahnya duduk menunduk seorang perempuan, istrinya, yang menjaga seorang bayi kecil berusia enam bulan. Di samping bayi itu anak pertamanya yang berusia empat tahun tidur pulas memeluk guling lusuh. Mata perempuan itu sembab oleh air mata. Kadang terdengar isak yang ditahan-tahan.

“Mas yakin…?” tanyanya.
“Hmhh…” lelaki itu mendengus, “habis gimana lagi?”
“Tapi itu pembunuhan mas..” kata istrinya pelan.

Lelaki itu hanya diam, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kuat-kuat, seperti hendak mengeluarkan semua beban di dadanya.

“Ah, jangan mikirin dosa dulu deh,” katanya lagi.

[Rumah 2]

Malam yang sama.

Lampu neon itu seperti membanjiri ruangan itu dengan cahayanya yang putih terang benderang dan menyilaukan mata kalau ditatap langsung sehingga kamar berukuran besar tu seperti tak tersentuh oleh gelap malam di luar yang pekat dan dingin.

“Bagaimana mas…?” terdengar suara perempuan, seperti penuh harap. Ia duduk di kursi empuk, matanya menatap suaminya dengan harap-harap cemas. Suaminya berdiri di bawah siraman cahaya neon sambil memegang secarik kertas kecil berwarna-warni. Setelah memicing-micingkan matanya ke kertas yang diangkatnya tepat di bawah lampu neon, ia mendesah dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Negatif…”

“Oh.. “ perempuan itu tampak kecewa. Matanya sedikit memerah. Suaminya segera mendekatinya dan memeluknya erat. Hening beberapa saat. Lalu terdengar isak kecil.

[Rumah 3]

Malam yang sama.
Rumah besar itu tampak begitu ramai dengan suara-suara canda dan tawa. Rupanya di ruang tengah seluruh anggota keluarga sedang berkumpul. Dua anak bermain playstation, saling beradu lihai memainkan petarungnya. Keduanya tertawa-tawa dan memaki bergantian setiap kali andalannya menghajar lawan atau andalannya kena dihajar lawan. Ibunya duduk dikursi tengah membaca majalah. Suaminya sedang sibuk di depan laptop ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok. Lampu meja mungil berdiri anggun di sebelah kanannya, menyoroti tumpukan kertas-kertas, dan di sebelah kertas itu tergolek asbak dengan rokok di pinggirnya, asapnya meliuk-liuk di bawah sorot lampu meja duduk Sesekali kacamatanya melorot, lalu dibetulkannya dengan ujung jari telunjuk.

Beberapa lama kemudian, di tengah ramainya suara perkelahian dari game itu terdengar suara agak keras dari sang ibu: “Ayo, sudah mainnya! Sudah malam. Sekarang belajar dulu. Besok sekolah!”
“Aaaah. Tanggung nih ma…” kata anak pertama, matanya masih memelototi layar TV dan jari-jari tangannya sibuk pencet-pencet stik getar mesin PS itu. Sang adik mukanya serius sekali, lebih mirip cemberut. Rupanya dari tadi dia kalah terus, dan berusaha membalas.

“Pa, tuh bilangin anak-anak bandelmu!” kata sang ibu sambil menoleh ke suaminya.
Suaminya tersenyum, lalu berdiri menghampiri anak-anaknya.

 “Udah ya.. besok lagi. sekarang belajar sana. Kalau nilainya jelek papa nggak akan belikan CD game yang baru.”

“Huuuuu..” serentak kedua anak itu protes, tapi lalu beranjak pergi ke meja belajar, masih ribut membahas jurus-jurus tokoh andalan mereka.

Ibunya hanya tersenyum, lalu membaca lagi. Suaminya merapikan kabel stik PS yang bersliweran.

[Rumah 1]

Malam yang sama.
Istrinya masih duduk berdiam ketika lelaki itu telah menghabiskan sebatang rokok dan mulai menyulut sebatang lagi. Diluar hanya terdengar suara jengkerik dan katak bersahut-sahutan. Bayi itu tiba-tiba menangis. Kakaknya yang memeluk guling terbatuk-batuk. Ibunya segera menggendong bayinya lalu membuka kancing baju atasnya dan dikeluarkan payudara sebelah kanan untuk menyusui bayi itu. Segera saja tangisnya lenyap.

“Mas sudah mantap..?” katanya lagi.
“Ya.. habis gimana lagi…?”
“Tapi ia darah daging kita mas..”

“Benar.. tapi ingat juga kita punya dua darah daging lain yang perlu makan. Coba kau ingat berapa duit bulan ini untuk Riza dan adiknya? Riza sebentar lagi TK, dan kita baru saja keluar duit banyak untuk keperluan adiknya. Mana bensin naik lagi. semua jadi naik. Huh, negara bobrok!” ia tampak sedikit emosi.

“Kamu masih ada sisa uang?” tanya lelaki itu.
“Tinggal sepuluh ribu mas, buat beli lauk besok. Beras tinggal tiga kilo.”
“Waduh.. besok orang itu datang nagih hutang.” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Alasan apa lagi yang harus kusampaikan padanya?” keluhnya kepada dirinya sendiri.
“Bilang saja apa adanya mas.” Kata sang istri yang mendengar ucapannya, masih menyusui.
“Hmmhh. Sudah belasan kali dia datang, Aku jadi nggak enak.”
“Berapa sih hutangnya mas sekarang?”
“Tiga ratus lima puluh ribu. Untuk beli-beli kebutuhan si kecil kemarin itu lho. Belum hutang dari Pak Sasmito – empat ratus ribu”
“Oh…” kata istrinya, lalu diam.
“Payah.. gajian masih setengah bulan lagi. Aku belum bayar listrik sama air. Mesti ngutang ke mana lagi bu?”
“Lho, mau hutang lagi? Terus utang-utang yang kemarin, gimana pak?”
“Habis gimana lagi.. kita hampir kehabisan uang. Gajiku tak cukup untuk kita berempat.” Sergah sang suami. Lalu keduanya diam dan kamar jadi hening.

“Bagaimana kita menggugurkannya?” tanya sang istri tiba-tiba, memecah keheningan.
“Terserah deh. Yang penting gugur.”
“Emm, tapi.. apa mas yakin ini bukan pembunuhan?”
“Ah, jangan mikirin dosa dulu deh.”

Istrinya terdiam. Ia mengelus perutnya yang sudah hamil sebulan lebih. Baru tujuh bulan lalu anak keduanya lahir, kini dia hamil lagi. Kata dokter mungkin ada yang salah dalam penggunaan kontrasepsi. Dan tentu saja keluarga miskin ini bingung sekali.

[Rumah 2]

Masih malam yang sama
Suami istri itu sekarang berbaring di ranjang. Di sebelah sang istri tergeletak boneka bayi perempuan. Matanya hitam dan mulutnya tersenyum.

“Mas, apa perlu kita mengangkat anak. Kata orang tua buat mancing agar aku hamil.”
“Hmmm.” Suaminya hanya mendehem, tak menjawab.
“Mas…?”
“Hmm. tapi…..”
“Tapi apa salahnya kita coba… ayolah mas.” Istrinya berusaha membujuknya. Setelah saling diam sesaat, sang istri lalu bangkit duduk, mengambil boneka itu dan menimang-nimangnya.

Suaminya masih diam. Dia berpikir-pikir. “Apa salahnya?” Ya, apa salahnya, toh kalau pun gagal ia nanti sudah punya anak, walau bukan anak kandung. Itu jauh lebih baik daripada membeli anak di pasar gelap anak. Lagi pula rumahnya tak lagi sepi, ia bisa mendengar tawa dan tangis seorang anak. Ia lalu menengok ke istrinya, berbaring memeluk sebuah boneka. Suaminya merasa seperti ada pisau menusuk dada. Matanya berkaca. Lelaki itu menghisap rokoknya dalam-dalam, dan mengeluarkan asapnya pelan-pelan. Tanpa anak, lelaki itu merasa sepi, kosong, merasa perkawinannya belum utuh; ia betul-betul pingin punya anak; dan ia tak mengerti kenapa ada saja orang mau menggugurkan kandungan

* * *

Di luar, malam yang sama, sebuah motor berhenti di sebelah pohon beringin dekat taman. Angin bertiup pelan. Sehelai daun gugur berayun turun masuk ke sebuah kardus lusuh yang ditinggalkan begitu saja di bawah pohon oleh pengendara sepeda motor itu. Lalu, dari dalam kardus, terdengar tangisan bayi memecah kesunyian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s