Mantra Penthung Bedhug

1-best-art-choice-award-original-abstract-oil-painting-modern-contemporary-house-wall-deco-gallery-emma-lambert

Cucuku sekalian, simbah punya kisah penuh hikmah, kisah tentang keserakahan atau rasa tidak puas. Kisah ini diceritakan oleh Pertapa Kenthir di Gunung Pekok Wingit kepadaku tujuh tahun yang lalu. Duduklah melingkar di sini, dengarkan dengan seksama agar kalian menjadi cucu-cucu yang berkhasiat bagi kehidupan ini.

Alkisah. Hiduplah seorang pertapa sakti berjuluk Mbah Buyut Kenyot Gede Anune, yang punya banyak mantra ajaib. Pada suatu hari yang mendung kelabu, sang pertapa didatangi oleh seorang pria bernama Lik Kupret. Dia memiliki “anu” yang tidak normal, yakni kecil dan pendek, sehingga kadang sering diejek sebagai lelaki bersumbu lilin. Sebenarnya Lik Kupret hendak memodifikasi alat vitalnya itu ke tokoh yang bersemboyan “anumu rezekiku,” yakni Mak Enjrot. Namun Mak Enjrot keburu wafat sebelum Lik Kupret sempat menemuinya. Karena itu, begitu dia mendengar ada pertapa sakti Ki Buyut Kenyot itu, tanpa banyak pikir panjang kali lebar dia segera menemuinya, karena khawatir pertapa tua itu juga keburu wafat.

Setelah mengutarakan permasalahannya, Ki Buyut Kenyot Gede Anune mengelus-elus jenggotnya yang jarang-jarang bagaikan lugut itu. Ki Buyut memejamkan mata, membaca mantra untuk mendapatkan petunjuk dari langit. Tidak berapa lama kemudian Ki Buyut Kenyot membuka matanya, lalu berkata kepada Lik Kupret.

“Begini ananda Kupret. Sejak saat ini, banyaklah berbuat baik dan beramal. Apabila ananda berbuat baik atau beramal kepada orang lain, dan setiap kali orang tersebut mengucapkan terima kasih walau sekali saja , maka ‘Anu’-mu  akan bertambah panjang dan bertambah besar satu milimeter. Tapi mbah pesan, jangan lupa, cepat kasih tahu mbah kalau ukurannya sudah sesuai dengan yang Ananda Kupret inginkan, untuk kucabut mantranya”.

Lalu Ki Buyut meminta Lik Kupret membuka celananya, berdiri di depannya. Kemudian Ki Buyut memejamkan mata sambil komat-kamit, dan dengan gerakan mendadak dia menyentil keras-keras anu-nya Lik Kupret yang  kiwir-kiwir tersebut. Lik Kupret berteriak karena kaget dan sakit. Ki Buyut menenangkannya, sambil berkata lembut, “Jangan khawatir. Mantra sudah masuk ke anu-mu. Segera lakukan amalan yang mbah kasihkan tadi. Jangan lupa terus berdoa. Semoga berhasil.”

Dengan girang hati Lik Kupret kembali ke rumahnya, dan sejak itu ia rajin berbuat baik dan beramal. Temannya yang bernama Paijo sedang tongpes alias bokek, maka diberinya 50,000 rupiah sehingga ia berterima kasih. Srinthil yang sedang menganggur dibantunya mencari pekerjaan sehingga Srinthil berterima kasih kepadanya. Lik Kupret memperhatikan perubahan di anu-nya, dan ternyata benar-benar mantab surantab mantera Ki Buyut Kenyot itu. Pada hari ketujuh, akhirnya Lik Kupret menyadari bahwa ukurannya sudah tampak normal seperti orang-orang pada umumnya. Ia sudah berniat untuk kembali kepada Mbah Kenyot Gede Anune dan minta agar si mbah Buyut mencabut manteranya.

Namun, dasar lelaki, dia berpikir. “Wah tunggu deh sehari lagi, aku mau gedhean dikit lagi, kan asyik kalo bisa nambah barang dua atau tiga mili lagi”. Esok harinya, Lik Kupret berjalan-jalan di pinggir sebuah jalan raya yang sangat ramai dengan kendaraan lalu-lalang.  Dia melihat seorang perempuan tua sekali yang akan menyeberang jalan, maka iapun segera bergegas membantunya. Setelah dibantu sampai ke seberang, si nenek berkata kepada Lik Kupret,  “Terima kasih nak, atas bantuannya…..”

“Wah udah tambah satu mili lagi nih,”  kata Lik Kupret dalam hati. “Kalo gua kasih duit sepuluh ribu boleh jadi si Ibu ini bilang terima kasih sekali lagi, jadi lumayan deh nambah dua mili, habis ini gue langsung minta mbah untuk cabut mantranya,” begitu pikirnya.

Dan perempuan tua itu sangat terkejut dan hampir tidak percaya hari ini dia ketemu dengan orang yang begitu baik hatinya, sudah membantu menyebrang jalan, eh, ditambah lagi dengan kasih duit sepuluh ribu. Maka ia menjadi terharu sekali dan mengucapkan terima kasih kepada Lik Kupret,

 “Nak,  baru kali ini saya ketemu dengan orang yang sebaik Anda, walaupun nenek tidak kenal dengan Anda tapi Anda begitu baik menolong dan mbantu. Nenek ucapkan beribu-ribu terima kasih nak. Sekali lagi beribu-ribu terima kasih ya nak.”

Mendengar dua kali ucapan “beribu-ribu terima kasih itu,” Lik Kupret jadi panik!!! Satu kali saja ucapan terima kasih bisa nambah satu mili. Lah kalo beribu-ribu?  Lik Kupret menjerit karena tiba-tiba celananya tidak mampu lagi menampung anunya yang terus membesar beribu-ribu mili tanpa jelas kapan berhentinya pembesaran itu. Lik Kupret segera lari menuju pertapaan Mbah Kenyot Gede Anune. Dia lari melewati sebuah masjid kampung, di mana orang-orang sedang bingung mencari penthungan bedhug masjid. Ketika mereka melihat Lik Kupret lari dengan tonjolan di sela-sela pahanya, mereka langsung menduga keras bahwa itu adalah penthungan bedhug yang mereka cari. Maka orang-orang kampung itu langsung berteriak: “Maling! Maling  penthungan!! Maling penthungan bedhuuuug !!! Kejaar!”

Lik Kupret semakin terbirit-birit dan terkentut-kentut sambil teriak-teriak minta tolong sama mbah Kenyot Gede Anune, ” Mbaah. Tolong, hilangkan mantranya mbaaah! hilangkaan! Cepat mbaaah!”  Mbah Buyut Kenyot Gede Anune yang sedang uthik-uthik upil kaget mendengar teriakan itu. Akibatnya Mbah Buyut Kenyot menjadi gugup dan sedikit keseleo ketika membaca mantra pencabut ajian pembesaran, dan,

Mak Blash

Hilanglah mantra pembesarannya, dan .sekaligus hilang anunya Lik Kupret.

Advertisements

2 thoughts on “Mantra Penthung Bedhug

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s