Dari Mujarobat Hingga Filsafat

Food_coffee_432413

Seandainya pertama kali bisa membaca pada awal 1980-an, sementara engkau tinggal di sebuah kota yang miskin, dengan penduduk yang masih lekat pada tradisi mistik, sangat mungkin engkau maklum jika di toko-toko buku kecil yang berada di kios pasar, bercampur-baur dengan berbagai toko yang menjual barang-barang mulai dari jengkol sampai beras dan perangkap tikus, akan mudah ditemukan buku-buku yang dari kacamata orang berpendidikan akan dianggap aneh, atau bahkan absurd, seperti “Kitab Primbon dan Mujarobat.” Apapun anggapan orang, sulit untuk menyangkal bahwa buku ini termasuk golongan buku best-seller pada zaman itu.

Bagi seorang anak SD yang sudah bisa membaca lancar, melihat-lihat toko buku adalah hal yang menggairahkan. Bertemu dengan gagasan baru selain, misalnya, buku pelajaran Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Sosial tingkat SD, membaca ide-ide yang belum pernah didengar, membaca sesuatu yang membangkitkan imajinasi, dan seterusnya, adalah kegembiraan masa kecil yang indah. Bagi anak sepertiku, yang sering mendengar kisah-kisah ajaib tentang dukun, Wali, atau kyai yang mengusir kuntilanak dengan ayat kursi, buku yang berjudul Primbon dan Mujarobat tentu sangat menarik.

Bagaimana tidak menarik jika di bagian yang di masa sekarang boleh dinamakan “endorsement”engkau membaca keterangan semacam ini:  “Primbon dan Mujarobat: peninggalan para leluhur, berisi ilmu kesaktian, menaklukan jin,  ilmu ketabiban, keselamatan, kerezekian, pengasihan dan doa-doa goib.” Dan aku lebih terpesona ketika melihat ada juga gambar rajah atau wafaq – kesannya sangat misterius, atau “sangat eksotik.” Sebagai anak kecil aku berimajinasi, seandainya aku bisa memukul orang dari jarak jauh, akan kukerjain teman-temanku yang bandel; jika aku bisa membuat orang sakit gigi, akan kubuat mereka semua sakit minimal tiga hari tiga malam; jika aku bisa menaklukan jin, tentu ia bisa kusuruh-suruh ini dan itu; jika aku bisa aji pengasihan, tentu bu guru matematika bisa kupelet agar memberiku nilai delapan atau sembilan.

Demikianlah, dengan semangat dendam dan harapan luhur agar lulus SD aku tekun membaca kitab primbon itu, meski tak semuanya aku mengerti. Aku ingat betul betapa senangnya mengetahui ada amalan tarik benda pusaka beserta tata-caranya, meski aku tak pernah mempraktekkannya karena, sejujurnya, aku ngeri jika membayangkan harus berhadapan dengan makhluk goib berwajah rata atau berlumuran lendir dan ingus dari mata, hidung, dan mulutnya, seperti yang dikisahkan orang-orang dewasa untuk menakut-nakuti anak kecil. Aku lebih suka mengamalkan doa yang menurutku cocok, yakni “amalan menambah kepintaran,” agar lekas pintar dengan usaha belajar minimal. Dan aku memang lulus SD, meskipun aku tak yakin betul, apakah kelulusanku akibat dari doa-doa goib yang ditulis di Kitab Primbon itu.

Aku sempat melupakan sejenak Kitab Primbon ini, dan ia menjadi koleksi saja, sebab pada waktu itu aku mulai mengenal komik semacam Tintin, Asterix, Flash Gordon, Trigan hingga cerita stensilan macam Enny Arrow. Hingga datanglah momen penting yang membuatku membuka kembali Kitab Primbon, yakni saat pemerintah mengadakan judi nasional legal, disebut Porkas (yang kemudian menjadi SDSB). Tiap Rabu malam, engkau bisa menyaksikan orang-orang berkumpul di warung-warung, untuk mendengarkan pengumuman nomor undian yang keluar, atau sibuk “memistik angka-angka” agar tembus. Sebagai anak ABG berjiwa kepo, ini tentu tak bisa dilewatkan. Maka Kitab Primbon kembali kubuka-buka dengan seksama. Kucari-cari doa-doa menerawang masa depan, atau mantra agar nomor yang kita pasang tembus dan mendapat hadiah. Apakah berhasil? Ndak sama sekali.

Pada masa ini aku mulai sadar bahwa ada beberapa bacaan mantra, misalnya “Amalan Memperbanyak Rezeki,” atau “Mantra Penarik Uang Goib,” terdapat beberapa ayat dari kitab suci, al-Qur’an, yang dicampur bahasa Jawa atau bahasa yang tak kumengerti. Dengan keluguan seorang ABG, maka aku membawa kitab primbon ini ke guru mengajiku. Dan tanggapannya sungguh mengejutkan. Pak guru ngaji itu menggulung buku primbon itu, dan “plethak!” begitulah suaranya ketika gulungan buku itu mendarat di kepalaku.  Demikianlah, saat itulah untuk pertama kalinya aku merasakan bagaimana capeknya telinga diceramahi selama berjam-jam sambil menahan malu di depan teman-teman yang mengaji.  Pak guru ngaji menyuruhku membuang atau membakar buku itu, sebuah perintah yang, tentu saja, tidak kulaksanakan.

Bacaan Kho Ping Ho, Wiro Sableng dan Api Di Bukit Menoreh menyeretku pada kegemaran kisah-kisah silat. Pada masa itu sandiwara radio masih populer dan setiap hari aku rajin mendengar kisah-kisah silat ala Indonesia, misalnya kisah Sabuk Inten dan Nagasasra dengan tokoh Mahesa Jenar atau Ki Lowo Ijo.  Seringkali bersama-sama sesama penyuka cerita silat,  pada sore pergi ke tepi sungai, mengumpulkan daun bambu kering dan jerami, menatanya dalam bentuk lingkaran dan dibakar – lalu kami pura-pura berkelahi di tengah lingkaran api, dengan ilmu silat hasil imajinasi masing-masing. Jadi setiap sore kami akan mendiskusikan bacaan cerita silat kami, lalu diteruskan dengan bermain silat-silatan, dengan mulut kami mengeluarkan suara-suara khas film silat jaman dulu: “hiaat, ciaat, wughh wughh, haakdeziggh, deziigghh deziighh…”

Bacaan masa SMA malah ndak terlalu variatif sebab aku masuk jurusan A1 (Fisika) sehingga lebih sering bertemu bacaan buku fisika dan kimia yang 90% tidak kupahami isinya.  Untungnya bisa lulus SMA – mungkin karena gurunya kasihan.

Pada masa kuliah bacaanku makin banyak, mulai dari buku agama sampai buku “kiri,” karena waktu luang lebih banyak. Pada awal-awal kuliah itu buku-buku Pram masih dilarang, sehingga agak susah mendapatkan bukunya. Pada semester 2, sekitar tahun 1992,  ketika mendapat pinjaman “Bumi Manusia” dan Communist Manifesto (saya masih ingat bukunya sudah lusuh bersampul merah) aku serasa menemukan harta karun.  Tetapi sayang aku tidak sempat mengoleksinya (sekarang tulisan-tulisan klasik semacam itu sudah banyak bentuknya dalam file pdf, tinggal download). Banyak bacaan politik, baik itu politik haluan “kanan” maupun “kiri” yang menarik bagi orang yang usianya muda. Semakin bertambah usia bacaannya makin banyak yang berbau agama (terutama mistisisme) , sastra dan filsafat. Pada awal 2000-an, karena sudah bisa membaca bacaan berbahasa Inggris, bacaan yang paling aku sukai adalah novel-novel atau koleksi cerpen dari Eropa Timur, Rusia, Jepang dan karya klasik Barat. Sesudah rezim Orba Runtuh, aku mulai mendalami lagi ajaran agama: membaca beberapa tafsir Qur’an, studi agama, filsafat agama, mistisisme (tasawuf) dan sastra-sastra sufistik atau sastra Timur. Namun tidak semuanya kubaca secara mendalam karena bagaimanapun juga ada hal-hal, termasuk materi bacaan, yang lebih diprioritaskan. Kini aku semakin berkurang kemampuan membaca baik dari segi waktu maupun daya tahan membaca.

Apakah akumulasi semua bacaan yang bermacam-macam itu berguna? Secara subyektif menurutku ya ada gunanya. Paling tidak dengan banyak membaca setidaknya kita mengenal banyak hal, tidak picik, dan tidak mudah terprovokasi — bahkan bisa mendapatkan penghasilan, seperti bisa menjadi editor atau penulis. Semakin banyak yang dibaca, semakin banyak ide yang bisa ditulis. Manfaat lainnya tentu terlalu banyak untuk disebutkan di sini.

Advertisements

One thought on “Dari Mujarobat Hingga Filsafat

  1. Hehehe buku primbon dn tapsir mimpi masuknya kanan apa kiri mbah, A1 skrang udh jd bhs intelijen mbah, maturnuwun bacaane

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s