Kopi dan Gadis Bermata Biru

kopie

Perjalananku melalui jalan darat Medan – Lhokseumawe mungkin bisa dibilang sebagai perjalanan nyicip kopi, meski tentu saja tidak sepenuhnya hanya minum kopi. Ketika mendarat di Kualanamu, Medan, teman seperjalanan ustadz Anwar bercerita tentang gadis-gadis Aceh cantik bermata biru. Tetapi kami tahu bahwa kecil kemungkinan bisa bertemu mereka sebab perjalanan hanya sampai di Lhokseumawe. Apalagi pasca Tsunami, banyak dari mereka yang tinggal di daerah Lamno hilang diterjang gelombang. Aku hanya bisa berharap siapa tahu ada satu atau dua gadis bermata biru “nyasar” ke Lhokseumawe.

Bagaimanapun sebagian wanita Aceh memang elok dipandang. Ketika menjalankan tugas di IAIN Cot Kala, Langsa dan Universitas Malikus Saleh, Lhokseumawe, aku berjumpa dengan mahasiswi-mahasiswi semacam itu — berkulit putih, hidung mancung dan mata berbinar dengan paras yang menurutku unik. .

Yang lebih menyenangkan adalah ketika kami diajak mampir-mampir ke kedai kopi atau kafe-kafe yang menyediakan kopi yang diseduh dengan gaya lokal. Pada kunjungan pertama di kafe premium di Langsa, kami disuguhi kopi gayo. Yang membuatku heran adalah gelasnya kecil sekali jika dibandingkan dengan gelas atau cangkir yang biasa digunakan di Jawa. Oleh karenanya, begitu mencicipi kopi dan merasakan nikmatnya, aku tak ragu menambah satu gelas lagi. Kopi di sana rata-rata bukan bentuk “kopi tubruk” yang berampas sebagaimana biasa dijumpai di Jawa. Tetapi rasanya memang menggoda — benar-benar taraso di lidah, kata pemandu kami, bang Tabrani.

Percobaan-percobaan selanjutnya sungguh asyik. Sayang aku tak pandai menuangkan bagaimana “rasa” kopi secara verbal. Intinya, enak dan enak banget. Sesudah mampir sejenak di pantai di Lhokseumawe, perjalanan icip-icip kopi ditutup dengan suguhan kopi malam di Medan.

Muncul juga perasaan campur aduk ketika menyusuri kota Lhokseumawe, Peureulak, Tamiang, Langsa dan lain-lain sebab dua kawan yang menemani kami sempat bercerita beberapa fragmen kisah konflik GAM. Sebagian kawasan di sana memang menjadi basis GAM, dan tentu saja banyak darah tumpah di sana. Tetapi sepanjang yang bisa kusaksikan, kota ini tampaknya terus membangun pasca konflik. Di sana-sini bangunan telah bagus, dan kampus-kampus mulai banyak mahasiswanya. Kampus Malikus Saleh yang berada di perbukitan menjadi tampak menarik karena ruang-ruang kuliahnya berbentuk rumah tempat tinggal, lingkungannya asri dengan pepohonan yang rindang. Rupanya kawasan kampus itu adalah hibah lahan perumahan ExxonMobile, seluas 120 hektar.

Sebenarnya ingin memotret beberapa mahasiswi yang kujumpai namun malu rasanya, dan aku juga tak berani memotret orang tanpa seizinnya. Memang belum afdhol jika belum ke Banda Aceh — tetapi mudah-mudahan pasca lebaran rencana ke Banda akan terlaksana. Siapa tahu aku beruntung bisa bertemu dengan gadis cantik bermata biru.

13198587_10154114733394174_7642340952399849901_o

Advertisements

2 thoughts on “Kopi dan Gadis Bermata Biru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s