Mbah Man

manm

Sebatang pohon berdiri sunyi di pekarangan belakang rumahku. Batangnya sudah begitu besar, sehingga bisa dipeluk oleh tiga anak seusia smp bergandengan. di bawahnya menjadi tempat kami bermain setiap sore sepulang sekolah. Ia adalah pohon mangga “tali jiwo,” demikian kata seorang orang tua di sana, Mbah Man. Selama enam tahun kami, anak-anak kampung begitu akrab dengannya: memanjat, gelantungan, bermain sepakbola kecil-kecilan, atau berlatih silat-silatan setiap kali habis nonton film kungfu mandarin di awal 1980-an – yang jika pemainnya tangannya atau kakinya bergerak mengeluarkan jurus akan terdengar suara “wak dezeg, wak dezeg“, meski tak ada yang dipukul. Imajinasi kami membayangkan gerakan tangan itu pasti dilambari tenaga dalam tingkat tinggi. Demikianlah, setiap sabtu sore, di bawah pohon itu akan ramai terdengar suara bersahutan-sahutan dari anak lelaki: wak dezeg, wak dezeg, ciaat, arggh” dan suara anak perempuan bermain bekel.

Mbah Man, lelaki  yang ramah senantiasa rajin setiap subuh menyapu daun-daun mangga yang gugur, dengan telaten dikumpulkan, dipendam dijadikan pupuk, atau terkadang dibakar. Beliau sering duduk menonton kami mengeluarkan jurus-jurus silat ala Chen Lung (sekarang Jacky Chen). Aku masih ingat di wajahnya mulai nampak sedikit kerutan setiap kali beliau duduk sambil menghisap rokok.

Tetapi, belakangan aku, adikku, mulai sakit-sakitan. Dan kata orang pintar, itu karena gangguan penunggu mohon mangga talijiwo. Maka pada suatu pagi, datang beberapa orang membawa gergaji. Pada sore harinya, kami, anak-anak kecil, hanya duduk di dingklik rumahku, menatap sedih, pohon kesayangan kami telah tiada. Hanya tersisa satu pokok batang kayu pendek, setinggi setengah meter – seolah-olah menjadi nisan bagi pohon mangga kesayangan kami. Pelan-pelan suara-suara wak dezeg wak dezeg menghilang selamanya. Bertahun-tahun kemudian, sesudah aku kuliah di Jogja, aku menyempatkan diri menengok rumah lamaku di kota  itu. Ingin bertemu dengan mbah Man sebab ada rindu tergenang yang muncul tiba-tiba, pada suatu senja. Kami bertemu di rumahnya yang  reot: rumah gedhek, genteng yang seadanya dan sebagian retak, dan lantai tanah. Mbah Man sudah sepuh, namun masih sehat.Beliau masih bekerja namun hanya sedikit. Kegiatannya hanya mengangkut sampah berjalan ke sana ke mari setiap sore dengan bertelanjang dada menyunggi tumpukan sampah di kepalanya.

Mbah Man jarang pakai baju lagi sejak 4 tahun terakhir. Kadang hanya memakai kaos sobek-sobek dan rokok terselip dibibirnya saat menyapu dan mengangkuti sampah-sampah. Sore itu aku mentraktirnya segelas kopi dan singkong goreng di warung dekat rumahnya. Bercakap mengenang masa lalu. Aku bertanya kepadanya, mengapa masih rajin membersihkan sampah. Bukankah lebih baik istirahat saja menimang cucu di rumah?  Beliau hanya tersenyum dan aku masih ingat sebagian kata-katanya: “…kulo nggih sampun leren. Niki kulo angkut-angkut larahan namung kersane mboten bosen thengak-thenguk teng nggriya. Teng donya niku kabeh kedah leren. Nek mboten purun, mangke Gusti ingkang mekso. Mpun njenengan titeni mawon, pak Harto mboten dangu maleh bakal dilerenke Gusti mergo mboten purun leren piyambak…” Saat itu tahun 1996 – dan 2 tahun kemudian apa yang diucapkannya terbukti.

Beliau tampaknya tak berubah, ramah, meski sekarang leih keriput, dan bertelanjang dada. Ketika masih asik berbincang, mendadak terdengar suara wanita tua berteriak-teriak keras sekali. Mbah Man langsung bangkit dan pamit, berkata padaku: “Kulo tak nimbali bojo kulo rumiyin nggih,” sambil tersenyum. Lalu kulihat dia mendekati wanita tua berambut putih panjang awut-awutan, telanjang bulat yang sedang berteriak-teriak histeris di jalan, “Bu, ayuk mulih, nganggo klambi disik!”

Perempuan tua itu adalah istrinya … 

 

Advertisements

2 thoughts on “Mbah Man

  1. Endingnya kok menyedihkan ya mbah?…. Sekarang bagaimana kabarnya mbah Man? Bagaimana dengan anak cucunya?

    Like

  2. “…kulo nggih sampun leren. Niki kulo angkut-angkut larahan namung kersane mboten bosen thengak-thenguk teng nggriya. Teng donya niku kabeh kedah leren. Nek mboten purun, mangke Gusti ingkang mekso. Mpun njenengan titeni mawon, pak Harto mboten dangu maleh bakal dilerenke Gusti mergo mboten purun leren piyambak…” —- kata-kata ini efeknya serupa dengan tendangan tanpa bayangan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s