Sedekah: Pemberian Yang Membebaskan

hd-wallpaper-of-ocean

Jalan terdekat menuju Tuhan adalah melayani [khIdmat] kepada sesama manusia
~ Abu Said ibn Abu al-Khayr ~

Allah mewajibkan kita berbagi, mengeluarkan sebagian harta yang dianugerahkan kepada kita, paling tidak setahun sekali melalui zakat fitrah dan zakat mal. Tetapi Allah menganjurkan kita untuk bersedekah, tanpa  dibatasi waktu.

Memberikan harta kepada orang lain, dalam pengertian ruhani, adalah bagian dari riyadhah, agar kita bisa belajar bagaimana untuk tidak “merasa memiliki” sesuatu yang hakikatnya bukan milik kita. Menyimpan atau “memiliki” banyak harta itu boleh, namun dalam perjalanan  ruhani, yang menjadi persoalan adalah ketika kita “merasa” memiliki itu semua. Dunia dengan segala gemerlapnya adalah “menghijab” atau menabiri pandangan dan pengetahuan kita tentang Ketuhanan. Dikatakan, “dunia itu terkutuk kecuali diisi dengan mengingat-Nya atau berzikir kepada-Nya.” Dalam satu pengertian, hidup mesti ingat kepada Allah, dalam bentuk ibadah, semisal zikir, doa dan sebagainya. Dalam pengertian yang lain, mengingat-Nya berarti juga mengingat sifat-sifat-Nya, terutama mengingat apa alasan Allah menciptakan kita. Jika kita “memiliki” harta tanpa sedikitpun mengingat-Nya, maka pelan-pelan sifat tamak, kikir atau bakhil akan bersemi. Maka dalam konteks ini, mengingat-Nya dalam hal rezeki adalah dengan mengingat bahwa harta yang kita simpan sesungguhnya bukan milik kita. Allah tak pernah salah membagikan rezeki: secara lahiriah, ada orang yang tampak dilebihkan dan ada yang tampak kekurangan. Secara batin, tak ada yang kelebihan dan tak ada yang kekurangan — sebab Allah Maha Tahu dan Maha Adil. Jika kita merasa pembagian itu tidak adil, itu disebabkan ada yang keliru dalam cara pandang atau dalam pengetahuan kita tentang sifat-sifat Allah.

Khusus dalam konteks harta-benda, mengeluarkan harta di jalan Allah adalah salah bentuk dari tindakan mengingat-Nya atau berzikir kepada-Nya: yakni mengingat Allah melalui wasilah harta yang dikaruniakan kepada kita. Jadinya, berzakat dan bersedekah adalah mengingat bahwa Allah telah memberi kita amanah atau kepercayaan untuk membagikannya kepada orang lain yang membutuhkan. Dengan kata lain, karena Allah telah mempercayakan sebagian rezeki yang lebih besar ketimbang pihak lain, maka sudah sepantasnya kita mensyukurinya dengan berbagi kepada orang lain yang membutuhkan. Allah tentu tidak butuh “suap” dari kita — tetapi kitalah yang membutuhkan-Nya. Maka perintah berzakat dan bersedekah adalah bentuk kasih-sayang-Nya agar kita berlatih memahami dua kalimat penting agar kita sampai (wushul) kepada-Nya: la haula wala quwwata illa billahi dan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kalimat la haula wala quwwata illa billahi adalah merealisasikan kesadaran sepenuhnya bahwa kita “kenyang” bukan karena makan tetapi karena Allah yang memberi rezeki kenyang; bahwa kita kaya bukan karena usaha kita melainkan karena Allah memberi kita kemampuan untuk mencari rezeki atas seizin-Nya; bahwa kita bisa hidup karena semata-mata “dihidupkan” dan “diberi rezeki” oleh Allah. Intinya, kita mengembalikan semua urusan kepada Allah. Maka inna lillahi wa inna ilaihi raji’un bukan hanya terjadi saat kita mati — namun terjadi di setiap tarikan nafas kita, dalam setiap detak jantung kita.

Orang-orang yang membaktikan hidupnya demi orang lain, termasuk dalam khidmah kepada sesama manusia, adalah orang-orang yang belajar dan berjuang untuk meyakini sepenuh hati sampai bisa merealisasikan tajalli sifat-sifat-Nya, bak sifat Jalal (keagungan) maupun terutama sifat jamal-Nya seperti Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Memberi. Sebab mereka tahu bahwa Allah juga Maha Memaksa. Seberapapun banyak engkau menyimpan harta lalu bakhil, tak sulit bagi Allah untuk mengambilnya — entah itu dengan cara diberi sakit, dirampok, dicuri, atau dengan cara-cara yang lain. Jika kita bakhil, harta akan tetap diambil dan kita tak mendapatkan apa-apa selain penderitaan; jika kita kaya dan mau berderma, maka harta akan tetap diambil namun kita mendapat balasan yang hanya Allah yang tahu wujudnya. Pilihan ada di tangan kita: mau dilepaskan dengan sukarela demi menuruti Kehendak-Nya, atau melepaskannya dengan dipaksa karena menentang Kehendak-Nya? Pengambilan harta, entah kita sukarela atau dengan dipaksa, adalah bentuk Kasih-Sayang-Nya agar kita kembali dari lalai menuju ke ingat kepada-Nya; kembali dari kegelapan menuju cahaya-Nya. Jika orang bersedekah dan kemudian tak sekadar berhenti berharap pada balasan di dunia, tetapi terus direnungkan dan diamalkan dengan berharap pada ridho-Nya, sebagai wujud syukur atas karunia-Nya, maka insya Allah janji-Nya akan datang: “Barangsiapa yang bersyukur maka akan Kutambah kenikmatannya.”

Tetapi kalau kita “merasa” sudah bersedekah namun tak juga “merasakan” realisasi janji-janji-Nya, maka pasti ada yang salah dalam diri kita. Di sinilah intinya: bersedekah adalah proses mujahadah untuk melepaskan hal-hal yang bukan milik kita secara sukarela. Ikhlas tidak datang dengan sendirinya, sebab ikhlas mesti terus dilatih dan diberdayakan. Karenanya, orang mungkin pada awalnya bersedekah dengan berharap imbalan dari Allah; tetapi jika ia terus berusaha istiqamah, maka bi idznillah, orang boleh jadi akan sampai pada kondisi di mana berbagi, bersedekah, membantu orang lain, adalah bentuk amal yang membuat dada dan hatinya lapang, dan menyebabkannya secara psikologis turut berbahagia dan rasa syukurnya bertambah-tambah. Dalam kondisi ini orang semacam itu telah menjadi “sedekah tersendiri.” Hidupnya adalah tajalli dari sifat Maha Pengasih Penyayang, Maha Pemurah, Maha Memberi Rezeki. Maka secara tak sadar ia telah mengalami apa yang dalam tasawuf disebut “berakhlak dengan akhlak Allah.”

Orang-orang yang mengabdikan diri pada sesama manusia adalah orang-orang yang belajar beriman sepenuh hati bahwa Allah adalah Maha Kaya dan Maha Memberi dan, karena itu, merealisasikan atau mengejawantahkan lokus tajalli-Nya di hati mereka. Mereka dengan cara ini sedang berusaha menjadi “khalifah-Nya” dengan cara yang tak mereka sadari sepenuhnya. Orang-orang semacam ini, yang mencintai dan kasih sayang serta membantu orang fakir-miskin, anak yatim, dan kaum tertindas, amat dicintai Rasul dan Allah, sebab Rasul pernah bersabda beliau mencintai fakir miskin dan dekat anak yatim; dan Allah berfirman: “jenguklah Aku dalam diri orang-orang yang sakit, menderita, membutuhkan, kelaparan.” Allah berada di hati hamba-hamba-Nya yang senantiasa membutuhkan-Nya. Jika engkau bersedekah, berarti pada hakikatnya engkau bertamu ke hadirat Allah dan Rasul-Nya, dan bersaksi dan mengaku membutuhkan Allah karena engkau rela melepaskan apa yang menjadi hak Dia. Maka, dalam analisis terakhir, sedekah adalah salah satu bentuk dari realisasi syahadat dalam kehidupan sosial: aku bersaksi: la ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah — meninggalkan menyembah harta sebab hanya Allah yang berhak disembah dan hanya kepada-Nya kita bergantung, serta  meneladani sikap dan sifat utusan-Nya yang “begitu memperhatikan dan sangat kasih dan sayang kepada umat mukmin” — Rasul yang “azizun alaihim maa anittum harisun alaikum bil mu’minina raufu ar-rahiim” (at-Taubah 128).

Maka sedekah adalah pemberian yang membebaskan: membebaskan diri kita dari belenggu ketamakan, keserakahan dan perasaan terikat pada dunia materi, sekaligus membebaskan orang lain, minimal untuk sementara, dari kesulitan yang berkaitan dengan kehidupan dunianya.

Wa Allahu a’lam bi shawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s