Jagongan

kemebul

“Good conversation is as stimulating as black coffee
and just as hard to sleep after.”

Setiap orang butuh teman ngobrol. Tak heran jika socmed selalu ramai karena banyak orang memang senang “jagongan” atau duduk membicarakan banyak hal mulai dari yang sepele, guyon, sampai yang serius. Namun  belakangan ada yang terasa agak aneh:  terkadang kita jumpai orang duduk bersama tetapi hanya sedikit saling bicara, lebih banyak “jagongan” dengan orang yang jauh via gadget.  

Kita sekarang tentu tahu ada banyak “jagongan” di socmed hanya tentang hal-hal politik dan agama yang sebenarnya tidak kita pahami benar, yang menimbulkan pertengkaran — entah disengaja atau tidak. Bahkan ketika kita tidak bermaksud politis sekalipun, boleh jadi komentar kita akan ditafsirkan secara politis atau diseret-seret paksa ke dalam “jagongan” politis yang belakangan semakin penuh dusta, fitnah dan caci-maki. Betapa aneh, dunia socmed menciptakan apa yang disebut “hater” dan “lover” yang membabi-buta, sehingga bahkan tulisan bercanda dianggap serius atau bermuatan politik. Bagi orang-orang seperti itu, yang sering disindir dengan istilah “orang kurang piknik,” segala sesuatu dipandang memiliki kepentingan politis. Sesuatu dianggap bagus dan benar berdasarkan preferensi pribadi: jika engkau menjadi hater terhadap sesuatu (orang, institusi dan sebagainya), maka hal-hal yang berhubungan dengan hal-hal yang engkau benci akan kau anggap dusta, salah, jelek, bodoh dan sederet ungkapan buruk lainnya; sebaliknya, jika engkau menjadi “lover” terhadap sesuatu, maka apapun yang datang dari pihak yang engkau sukai akan engkau puji-puji. Baik dan buruk, salah dan benar, ditentukan berdasarkan apakah sesuatu itu dibenci atau disukai. Dan yang lebih ajaib, seperti dawuh Gus Mus, di socmed, orang bisa membenci atau menyukai orang lain meski tidak saling kenal benar — hanya mengenal via teks yang dituliskan disocmed. 

Dalam keseharianku ada banyak teman njagong, tak jarang begadang sampai subuh ngobrol banyak hal. Jagongan yang menyenangkan bagiku adalah ketika kita, sambil ditemani kopi dan rokok dan camilan seadanya, berbicara akrab tentang hal-hal yang biasa, tentang kisah-kisah kehidupan sehari-hari, tentang kelucuan, atau hal-hal yang berbau keruhanian — bukan jagongan membicarakan politik atau percakapan yang muluk-muluk tentang pertikaian demi kekuasaan atau materi. Dari sekian banyak yang njagong, sebagian benar-benar saling bicara satu sama lain tanpa terganggu dengan gadget. Dan sebagian bisa bicara dari hati ke hati. Momen seperti inilah yang menyenangkan, ketika kita benar-benar bertemu, bukan hanya fisik, tetapi juga bertemu dengan pikiran dan hati, ketika pertemuan adalah keakraban yang hampir menyeluruh. “Jagongan” yang menyenangkan, setidaknya menurutku, adalah pertemuan dan pertemanan yang didasari oleh kepentingan untuk saling berteman akrab, guyub, gembira dan sederhana. Ringkasnya, jagongan untuk “srawung” adalah salah satu dari sekian banyak hal yang membuatku masih merasa punya harapan baik untuk bertahan hidup di dunia yang semakin ribut ini.  

“The art of conversation is the art of hearing as well as of being heard.”
― William Hazlitt

Advertisements

4 thoughts on “Jagongan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s