Foto / Lukisan & Memori Ruhani

gelasvivid

Jika kita menatap sebuah foto, biasanya akan terlintas beberapa kenangan. Kita menyukai foto karena foto membekukan momen-momen indah. Namun, pada saat yang sama, momen-momen menyedihkan juga kadang ikut terungkap. Foto seperti kunci untuk membuka sebagian kenangan yang tersimpan di dalam peti-peti ingatan.

Foto atau lukisan diri kita, dalam tingkat tertentu, adalah representasi dari diri kita, semacam “bayangan” dari diri kita yang diproyeksikan dalam bidang tertentu. Foto atau lukisan, secara khusus, adalah semacam cara mengawetkan kenangan atau momen-momen, entah itu momen yang istimewa atau yang biasa saja. Karenanya dalam sebuah foto tersimpan banyak bayangan kenangan dari orang yang ada di foto, dan itu bisa apa saja. Orang bisa tersenyum sendiri ketika memandang foto kekasih hatinya karena mengingatkannya pada banyak kenangan indah. Atau, memandang foto ibu kita yang sudah wafat akan membangkitkan banyak memori, mulai dari yang membahagiakan hingga yang paling menyedihkan, mengingatkan kita pada tawanya, suaranya, candanya, ucapan lembutnya dan sebagainya. Ketika engkau memandang foto orang yang paling engkau sayangi, maka engkau akan ingat hal-hal yang disukai oleh orang dalam foto itu, ingat hal-hal yang dicintai oleh orang dalam foto itu, dan pada gilirannya membawamu untuk ikut mengingat kembali apa-apa yang dicintai oleh orang yang ada dalam foto. Tetapi pada saat yang sama akan muncul rasa sedih, haru dan kerinduan, karena momen-momen semacam itu tak bisa engkau jumpai lagi dalam kehidupan saat ini. Semuanya hanya hidup dalam ingatan. Foto dan lukisan wajah seseorang yang kita kenal adalah pengingat tentang hal-hal yang sering kita lupakan karena kesibukan kita sehari-hari

Banyak orang menyimpan foto atau lukisan orang tertentu untuk tujuan yang lebih ukhrawi. Misalnya, para murid tarekat biasa menyimpan atau memasang foto guru atau ulama yang mereka hormati dan cintai. Menyimpan foto atau lukisan dalam hal ini adalah demi tujuan yang lebih halus: untuk melihat sesuatu yang mengingatkan kita pada hal yang lainnya.

Sayyidina Ibn Abbas mengatakan bahwa kanjeng Rasulullah pernah ditanya tentang siapa sahabat Allah itu. Kanjeng Nabi yang mulia menjawab, “Mereka (para sahabat/wali Allah) itu adalah orang-orang yang, saat dilihat, akan menyebabkan orang ingat pada Allah.” Menurut Abdullah ibn Mas’ud, Rasulullah bersabda, “Ada sebagian orang yang menjadi kunci pembuka untuk zikir (mafatih li dzikrillah), sebab ketika mereka dilihat, maka [orang yang melihatnya] akan ingat pada Allah.”

Foto adalah semacam “bayangan daya ruhani” guru-guru kita, yang bisa mengembalikan kita pada ingatan tentang hal-hal yang ruhaniah. Memandang wajah ulama yang saleh dan baik atau guru-guru ruhani adalah seperti memandang bayang-bayang ruhani yang memancar. Representasi fotografis atau lukisan dapat membawa kita kembali mengenang banyak hal, terutama mengingatkan kita bagaimana para ulama dan guru-guru kita berjuang dan beribadah demi Allah semata, dan pada gilirannya, kita pun yang “hanya” memandang akan ikut terseret dalam arus kenangan tentang bagaimana Allah memperlakukan hamba-hamba-Nya yang saleh, tentang bagaimana Allah mencintai dan memulyakan para sahabat atau kekasih-Nya dan, pada akhirnya, membuat kita ingat kepada Allah itu sendiri. Ringkasnya, representasi guru kita menjadi semacam “wasilah” untuk ingat pada Allah. Di masa ketika kita begitu sibuk dengan urusan dunia dan hanya sedikit ingat pada Allah, wasilah semacam ini begitu signifikan dampaknya.

Tetapi mungkin kita bertanya-tanya: “jika demikian, mengapa Rasulullah tidak boleh digambar?” Setidaknya, atau minimal, ada dua jawaban, dari aspek duniawi dan aspek ruhani. Dari sisi duniawi, lukisan  kanjeng Nabi Muhammad Salallaahu ‘Alaihi Wassalam akan sangat berpotensi menyebabkan umat jatuh dalam perangkap berhala baru: Rasul akan menjadi sebentuk ikon, yang berisiko menyebabkan beliau dilecehkan baik secara fisik maupun ajarannya atau bahkan dipuja-puja sebagai titisan Ilahi di dunia, yang bisa menyebabkan orang jatuh pada syirik; Di sisi lain, pada kenyataannya, menyebut nama beliau saja sudah mampu mengingatkan kita pada Allah, dan cara paling aman bagi orang awam untuk mencintai Rasulullah tanpa harus memvisualisasikannya adalah menyebut namanya dalam shalawat. Jika kita membaca shalawat, kita sesungguhnya bersama-sama membaca shalawat dan salam bersama Allah, sebab Allah dan malaikat bershalawat kepada kanjeng Nabi. Dari sisi ruhani, Rasulullah SAW adalah Logos sekaligus dasar eksistensial dari kosmos. Secara simbolik, bayang-bayang cahaya ruhani Rasulullah adalah meliputi dan sangat terang sehingga makhluk lain, sebagai “bagian” dan memuat unsur “gelap,” tak mungkin sepenuhnya membuat representasi dari Rasulullah yang adalah “entitas yang komprehensif yang terangnya serba meliputi” atau dalam konteks filosofisnya disebut “Nur Muhammad.”  Karena beliau ma’shum, maka bahkan representasinya, termasuk representasi fisik, dijaga dengan aman dari kekeliruan, ketercelaan, dan pelecehan. Kita bisa salah menggambarkan bentuk fisik dan wajah Kanjeng Nabi, karena representasi tak pernah bisa persisi seperti aslinya. Maka, setiap upaya merepresentasikan dalam bentuk visual adalah tindakan “membatasi” dan “menyelewengkan” atau “menghijab” persepsi kita tentang Nabi Muhammad dan Nur Muhammad, dan karenanya “menggambarnya” dilarang demi kebaikan dan kelurusan aqidah.

Wa Allahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s