Ikatan yang Membebaskan

Blue-Butterfly-Wallpaper-Desktop-F200
We delight in the beauty of the butterfly,
but rarely admit the changes it has gone through
to achieve that beauty.

Manusia tak bisa langsung mengenal Allah tanpa proses. Adalah benar kita, umat Islam, pertama mengakui-Nya melalui syahadat — dan melalui Rasul-Nya kita mengenal, setidaknya, nama ‘Allah.’ Orang yang bersyahadat berarti mengikatkan diri pada komitmen ajaran kanjeng Rasulullah SAW. Karena itu orang Islam tak bisa seenaknya sendiri mengklaim bisa sampai ke Allah tanpa melalui risalah kanjeng Nabi, sebab Allah-lah, melalui Rasul-Nya yang menetapkan jalan yang bisa sampai kepada-Nya.  Kita tidak tahu benar apa kehendak Allah kecuali melalui petunjuk dan pedoman yang diberikan oleh-Nya. Maka, dalam satu pengertian ruhani, syariat yang mengikat itu sesungguhnya adalah jalan yang membebaskan. Jadinya syariat adalah wajib. Ambil contoh sederhana berikut ini.

Pertama-tama, shalat. Dalam  perspektif tasawuf, manusia, selama berada di ruang dan waktu, dalam dunia keragaman, secara ilusif akan memandang diri sendiri sebagai sesuatu yang   ‘eksis’ secara mandiri di luar   Tuhan, dan Tuhan adalah sesuatu ‘yang lain’ daripada diri kita. Karena itu dalam hal ini seolah-olah ada wujud ‘yang kedua,’ yakni wujud ‘yang lain’ dari Tuhan. Padahal sesungguhnya tak ada ‘yang lain’ di sisi Tuhan, sebab segala sesuatu sudah binasa, karena kita pada hakikatnya adalah ‘adam,’ ketiadaan. Karena itu, selama kita masih dalam ilusi sebagai penyembah yang punya eksistensi mandiri, kita akan memahami Tuhan sebagaimana yang kita pikirkan. Lalu kita akan memandang diri sebagai pihak yang memiliki kekuasaan dan lupa bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap tindakan kita, sebab Allah meliputi segala sesuatu, dan Allah Maha Melihat lagi Maha Mendengar. Tetapi kita sering lupa hal itu. Kita berbuat maksiat karena lupa bahwa Allah sejatinya melihat perbuatan kita; kita berdusta, memfitnah, mencaci-maki, karena kita lupa bahwa Allah Maha Mendengar ucapan kita, baik yang disuarakan maupun yang disimpan dalam hati. Karenanya kita perlu diingatkan tentang ke-Maha-an Allah dalam segala hal melalui zikir, yang dalam aturan minimalnya adalah dalam bentuk shalat lima kali sehari.

Puasa dan zakat adalah latihan pelepasan. Kita diminta untuk pasrah kepada Tuhan semata, bersandar kepada-Nya semata, bukan pada orang lain atau jin-jin penunggu pohon tua. Sebab itu syirik. Tetapi untuk mencapai kepasrahan dalam arti yang sebenarnya butuh proses lama. Karena manusia di dunia ini selalu terikat dengan sesuatu selain Tuhan. Untuk itu diperlukan latihan, atau dalam bahasa sufi riyadhah. Jadi kita diminta berpuasa untuk membangkitkan kesadaran tentang perlunya menahan diri, membatasi diri,  dari mengikuti hawa-nafsu yang mengajak pada kesenangan-kesenangan dunia — mulai dari menahan diri makan, minum, seks hingga ke menahan perilaku yang tak sesuai ajaran kanjeng nabi, hingga menahan diri agar selalu mengikuti adab ruhani, yakni mem-puasa-kan seluruh eksistensi kita: jasmani, jiwa, hati, ruh, agar tidak memperhatikan hal-hal selain Allah.

Kemudian kita diwajibkan untuk zakat. Ini adalah syariat yang tidak boleh ditinggalkan karena merupakan bagian dari proses untuk menyadarkan kita bahwa segala sesuatu adalah bukan milik kita. Orang cenderung menyukai sesuatu yang menyenangkan dan pada taraf tertentu menjadi ‘terikat’ dengannya. Adalah sulit melepaskan keterikatannya, dan karena itulah maka Allah ‘memaksa’ kita membebaskan diri dari belenggu ini.  Dan kita disunahkan untuk bersedekah. Yang lebih dianjurkan oleh Nabi adalah memberikan barang yang kita senangi. Jadi sekali lagi, ini tak lain adalah semacam latihan untuk melepaskan diri dari keterikatan. Mengapa harus memberi? Sebab  semakin banyak memberi, maka kita akan semakin banyak menerima, karena pembalasan di sisi Tuhan jauh lebih baik dan lebih banyak.

Jadi Islam dengan syariatnya secara halus mengajarkan kita untuk pasrah secara bertahap, mengorbankan hal-hal yang membuat kita terikat dengan ‘yang lain,’ menghilangkan ilusi, yakni ‘merasa’ memiliki; padahal segala sesuatu pada hakikatnya  adalah milik Allah. Tetapi Allah Mahatahu bahwa manusia sering ‘ngeyel’ dan hawa-nafsu selalu punya alasan untuk tidak melepaskan ilusi-ilusi ini. Karena itu, Allah berkenan memberi semacam ‘iming-iming’ berbentuk pahala yang berlipat. Pada awalnya mungkin orang mengejar pahala, surga, dan itu tidak masalah karena itu adalah anugerah Allah. Dalam tasawuf, ibadah berorientasi pahala bukan tujuan, tetapi sebagai ‘cara yang perlu’ untuk membawa orang naik ke tingkat berikutnya. Jika orang melazimkan, misalnya, bersedekah, untuk mendapat pahala, maka Allah, dengan rahmat-Nya, akan memberinya anugerah yang banyak yang tak disadarinya, dan jika ia istiqomah, maka anugerah yang lebih baik akan turun, yakni didekatkan kepada-Nya, merasakan manisnya iman. Maka lama-kelamaan orang akan cenderung bersyukur, dan jika ia terus istiqomah dalam ibadahnya, baik itu sedekah, shalat, puasa, zikir dan sebagainya, maka anugerah Allah akan terus turun, menarik jiwanya untuk terus mendekat kepada-Nya, hingga ia tak sempat lagi memikirkan pahala, karena pada momen ini yang dipikirkannya adalah kedekatan dengan Allah. Orang akan mulai berharap ridho-Nya, dan berharap menjadi bagian dari orang-orang yang dicintai-Nya dan mencintai-Nya. Dengan demikian, syariat menjadi pedoman dari banyak cara untuk menjadi hamba , membentuk karakter sebagaimana dikehendaki Allah, menjadi orang-orang yang merealisasikan rahmat dan kasih-sayang. Dengan analogi, menjalani tata-aturan Ilahi adalah seperti usaha ulat yang membelenggu diri dalam kepompong hingga ia berubah menjadi kupu-kupu yang mempesona yang mampu terbang bebas kian-kemari.

Karenanya, Guru kami mengatakan, melalui syariat ini, seolah-olah Allah mencari-cara alasan agar manusia membebaskan diri dari hawa-nafsu, agar bisa masuk surga dan mendekat kepada-Nya. Namun sayangnya kita kebanyakan tidak mau dan lebih suka mencari cara sendiri yang sesuai keinginan nafsu kita. Oleh sebab itu, kanjeng Nabi pernah bersabda, dan ini mengandung makna yang sangat dalam:  ‘setiap mukmin masuk surga, kecuali yang tidak mau.’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s