Point of No Return

water-art-hd-1080p-wallpapers-download

we must ‘die’ to one life before we can enter into another …

Dia memandang dua jalan lurus di depannya. Entah mengapa ia merasa cemas, sangat cemas. Sepanjang hidupnya dia selalu berusaha mencari jalan yang lurus dan normal. Dan kini, apa yang kelihatan di depannya membuatnya tertegun dan entah mengapa ia mulai merasa pusing — kedua jalan itu sama-sama lurus dan kelihatan tidak senormal yang diharapkannya, dan, lebih parah lagi, keduanya berbeda jurusan. Lantas, mana yang mesti ia pilih? Ia sesekali ingin kembali ke belakang; namun saat ini ia tahu sudah tak ada waktu lagi untuk kembali ke belakang. Ia menyadari hanya ada dua pilihan yang tersisa: maju atau berhenti selamanya. Jika ia memutuskan berhenti, ia akan menjadi seonggok mayat tanpa guna. Namun jika terus maju, maka ia harus berubah dan akan berhadapan dengan ribuan ketidakpastian dan kesusahan.

“Any change, even a change for the better, is always accompanied by drawbacks and discomfort. Every new adjustment is a crisis in self-esteem. All changes, even the most longed for, have their melancholy, for what we leave behind us is a part of ourselves. We must die to one life before we can enter into another” — Murakami

Dalam rentang hidup, selalu ada masa di mana kita tak bisa mundur – the point of no return. Saat kita sampai pada titik itu, kita harus menerima kenyataan – sebab seandainya kita mencoba menyangkalnya, itu akan sia-sia. Barangkali ini adalah “takdir” yang memaksa kita untuk terus maju ke arah garis yang sudah ditentukan – mungkin ni adalah bagian dari proses kita yang pada hakikatnya hanya “diperjalankan.”

Sometime FATE is like a small sandstorm that keeps changing directions. You change direction but the sandstrom chases you. You turn again, but the storm adjust. Over and over you play this out. Why? Because this storm isn’t something that blew in from far away. This storm is something INSIDE you. All you can do is give in to it, step right inside the storm, and walk carefully through it. — Murakami

Maka pertanyaannya adalah, bagaimana kita tahu bahwa diri kita telah sampai pada “the point of no return?” —

… dan orang itu masih berdiri di hulu dua jalan lurus yang berbeda arah. Ia tak menginginkan berada pada situasi seperti itu, tetapi seakan-akan ada kekuatan di luar kehendak dirinya yang memaksanya untuk berubah.  Ia harus tentukan dan bersiap menerima konsekuensinya. Ia tahu, ia telah sampai pada titik itu. Ia harus bergerak menyongsong ribuan kemungkinan takdir yang telah disiapkan. Ia takut. Tetapi ia tak punya pilihan. Saat senja semakin mendekat, ia menabahkan hatinya, mulai melangkahkan kaki memilih salah satu jalan, sambil berdoa semoga dirinya baik-baik saja.

Two Roads diverged in a wood and i took the one less travelled by, and that has made all the difference

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s