Pesugihan & Tumbal Politik

InTheirOwnImage_1366x768

Pada dasarnya pesugihan adalah semacam siasat bertahan hidup, atau tepatnya mengejar hasrat nafsu dan keinginan di dunia, dengan cara-cara yang agak mengerikan. Ada jenis-jenis pesugihan yang masyhur: babi ngepet, kandang bubrah, tuyul, gunung kemukus, gunung srandil, gunung kawi, sate gagak, sumur jolotundo, dan lain-lain. Tetapi meski bervariasi, prinsipnya tetap sama: harus ada yang menjadi tumbal atau pihak yang dikorbankan. Dan tumbal itu bermacam-macam: bisa anak, istri, tetangga, kawan, atau siapa saja — dan pada akhirnya, si pelaku pesugihan itu sendirilah yang menjadi tumbal sesudah umurnya mesti berakhir. Demikianlah, melalui pesugihan, orang bisa kaya atau berkuasa  dengan cara mengorbankan orang lain.

Kini kita bisa melihat persamaannya dengan politik. Politik di Indonesia belakangan ini sebagian mirip pesugihan, meskipun tidak semua begitu. Barangkali ini hanya masalah variasi praktik mistik kuno. Menjadi babi ngepet memang tidak keren. Bertapa di gunung kawi atau srandil itu menyusahkan, berisiko masuk angin kalau tak kuat. Politisi, sebagian besar, adalah perwujudan dari bentuk baru praktik pesugihan.  Sebagian pejabat dan/atau politisi mencari cara untuk memperkaya diri sendiri melalui jabatan atau kekuasaannya. Dan tentu saja, pelaku ‘pesugihan politk’ juga membutuhkan tumbal.  Jadi bayangkan seandainya banyak di antara pejabat dan/atau politisi itu menggunakan pesugihan politik? Yang terjadi barangkali adalah semacam perang pesugihan. Masing-masing politisi dan pejabat memegang kartu kebusukan satu sama lain. Dengan cara itu, mereka bisa saling menahan diri untuk tak saling mengorbankan — kecuali, tentu saja, kondisi memaksanya. Misalnya, jika situasi sangat kritis, pelaku pesugihan yang memiliki modal finansial dan kekuasaan lebih besar akan tak segan-segan mengorbankan pelaku pesugihan lain. Tampaknya, sesekali pelaku pesugihan itu berkoalisi untuk mengeroyok pelaku pesugihan lain, yang kurang licik atau kurang lihai dalam memainkan strategi pesugihannya.

Pesugihan butuh juga tumbal secara rutin. Jika begitu, dalam kasus pesugihan politik, siapa lagi yang mesti dikorbankan? Tak perlu susah menjawabnya. Pertama adalah rakyat jelata yang menjadi tumbal sehari-hari dari para pelaku politik pesugihan.  Semisal engkau korupsi, siapa sesungguhnya yang dikorbankan?

Yang kedua adalah agama. Dalil-dalil atau ayat dari kitab suci dipakai untuk memuji kelompok sendiri sekaligus untuk menghantam pihak lain. Agama jadi tumbal dalam arti agama hanya menjadi batu pijakan atau alat untuk memenuhi ambisi akan harta, tahta dan bahkan wanita. Ringkasnya, ayat-ayat tentang kebaikan diklaim untuk kelompok sendiri, sedangkan ayat tentang keburukan diklaim untuk pihak lawan. Tafsir didasarkan pada kepentingan dan syahwat kekuasaan kelompoknya, agar mereka bisa berkuasa atau paling tidak memenangkan persaingan politik.

Yang ketiga adalah kebenaran.  Demi berebut kekuasaan, orang bisa mengorbankan kebenaran. Fitnah dan dusta hampir menjadi perilaku sehari-hari. Bahkan karena terlalu seringnya dusta dan fitnah itu dijalankan, pelaku fitnah dan dusta sampai tumpul hati nuraninya. Jika satu dusta atau fitnah terbongkar, mereka tidak akan minta maaf. Cukup berkelit dengan cara apa saja, tanpa penyesalan, lalu melakukan fitnah yang lain lagi. Tujuannya adalah menjatuhkan atau mengorbankan lawan (dan juga kawan yang berpotensi menyaingi) demi memperebutkan harta dan tahta. Dampak yang lebih buruk adalah sebagian orang yang bukan politisi atau pejabat, semisal simpatisan atau pendukung, menjadi ikut terseret dalam fitnah dan dusta. Yang lebih cerdas akan memanfaatkannya dengan mencari nafkah dari pekerjaan menyebar fitnah dan dusta (hoax). Bisnis dusta dan fitnah sudah menjadi rahasia umum di kalangan netizen.

Tumbal keempat adalah kasih-sayang dan persaudaraan. Tentu kita tahu bahwa politik-kekuasaan adalah persaingan dan sering saling menjatuhkan. Dalam upaya memenangkan persaingan ini, tidak jarang politisi dan/atau pejabat memanfaatkan pendukungnya untuk menyerang. Mereka sengaja menciptakan provokasi kebencian, membayar orang untuk menyebar kabar burung, dusta, fitnah, dan kebencian.  Lalu entah bagaimana para pendukung mengamini saja provokasi itu dan ramai-ramai saling serang tanpa tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Tentu kita pernah mendengar orang-orang putus tali silaturahimnya hanya karena perbedaan pandangan politik, karena perbedaan dalam hal siapa yang akan didukung.  Kata-kata kasar, prasangka buruk, saling hina, sindiran dengan selubung dalil ayat suci dan perspektif agama, adalah hal yang biasa terjadi. Karena sudah dianggap biasa, maka orang tak lagi menganggap itu sebagai hal yang buruk. Sebagian justru bangga bisa menulis sesuatu yang tampak bagus dan religius yang berisi serangan kepada pribadi seseorang, bukan serangan pada perbuatannya atau kinerjanya. Maka orang menjadi mudah membenci orang lain. Jika ini terus-menerus dipupuk setiap hari, maka orang tak akan lagi melihat sedikitpun kebaikan pada diri orang yang dibencinya. Tidak mengherankan bahwa kini semakin banyak orang berkerumun ramai-ramai untuk memamerkan kebencian, meneriakkan prasangka buruk, dan membanggakan tindakannya yang memecah-belah kerukunan.

Tumbal kelima adalah sikap adab dan kerendahan hati. Adab dikorbankan demi memuaskan hasrat atau keinginannya. Semua orang kini bisa menggunakan segala petuah bijak, kata-kata motivasi dan bahkan ayat-ayat suci untuk mendukung prasangkanya. Semua orang merasa bahwa mereka bisa memperbaiki keadaan.  Kita dapat dengan mudah menjumpai orang yang mengatakan ‘seharusnya begini,’ ‘seharusnya begitu’ – seakan-akan orang berkata, “menurutku, semua persoalan akan beres jika dan hanya jika menuruti pendapatku.” Jika ada yang membantah, maka keluarlah segala debat dari yang paling halus sampai yang paling kasar, bahkan kalau perlu menggunakan dalil ayat suci untuk mencap orang lain sebagai sesat dan pantas dibunuh, demi memenangkan atau mengunggulkan pendapat sendiri, bukan demi mencari titik temu, bukan demi mencari solusi bersama, bukan demi menjaga nilai-nilai kemanusiaan.  Itu juga berarti bahwa ketika kita ikut-ikutan dengan berbekal pengetahuan seadanya dari berita dan asumsi dan kabar-kabar tidak jelas yang dihembus-hembuskan oleh banyak kepentingan, kita sendiri tanpa sadar menjadi pelaku politik pesugihan yang menumbalkan nilai-nilai kemanusiaan.

Pada akhirnya, dalam satu pengertian, kita telah menjadi tumbal politik-kekuasaan. Kita dikorbankan oleh orang-orang yang berebut kekuasaan dengan cara membuat kita ikut mengorbankan banyak hal yang baik demi ambisi kekuasaan dari beberapa orang yang bahkan mungkin tidak kita kenal benar. Kita bisa menyukai, mendukung, membenci, memusuhi atau berprasangka buruk kepada orang-orang yang tidak kita kenal, yang belum tentu memikirkan nasib kita. Kita bersemangat mengajak orang lain ikut larut dalam arus kebencian dan permusuhan.  Kita diperalat sekaligus memperalat untuk  menghalalkan segala cara, diperbudak oleh syahwat politik-kekuasaan. Dan, jika terus-terusan ikut arus seperti ini, perlahan-lahan kita menjadi tumbal dari hawa-nafsu dan syahwat kita sendiri tanpa kita sadari.

Wa Allahu a’lam

Advertisements

3 thoughts on “Pesugihan & Tumbal Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s