Mabuk Agama

prayy

Kadang-kadang kita merasakan semacam ironi ketika melihat sebagian dari orang-orang beriman justru makin surut rasa kasih-sayangnya dan kurang berperikemanusiaan atau berlaku brutal. Mereka ingin masuk surga dengan cara mencaci-maki dan membenci orang beriman lainnya hanya karena berbeda pendapat, berbeda dalam memahami kitab suci, seolah-olah merekalah yang paling memahami makna kitab suci. Mereka percaya bahwa merekalah satu-satunya golongan yang paling sah dan benar dalam memahami kitab suci dan hukum agama, dan tidak memberi ruang sedikitpun untuk kemungkinan bahwa pendapat orang lain adalah benar. Mereka percaya bahwa hidayah dan rahmat Allah sudah final dan hanya berlaku bagi kelompok mereka sendiri. Ini juga berarti mereka yakin bahwa pemahaman mereka sudah setara dengan pemahaman Nabi sehingga pemahaman orang lain yang berbeda dipandang pasti sesat.

Sungguh mengherankan, sekaligus menyedihkan, ketika ajaran yang dimaksudkan untuk memperbaiki akhlak justru menciptakan orang-orang yang mau menang sendiri, senang menghina dan membenci orang lain, merasa diri sebagai orang yang paling benar dan paling pasti masuk surga, dan merasa telah beramal mulia dengan menciptakan kesengsaraan dan sakit hati sekaligus rasa dendam bagi orang lain, dengan cara membunuh atau menyakiti sesama manusia. Mereka merasa sudah paling benar dalam menjalankan dakwah dan syiar ajaran sebagaimana yang mereka pahami meskipun dengan cara dusta, fitnah, dan tipu-muslihat, sembari yakin bahwa Allah Yang Maha Adil pasti meridhai cara-cara seperti itu.

Betapa aneh dan menyedihkan ketika orang yang beriman kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ingin masuk surga dengan menciptakan neraka di dunia sembari berharap, atau bahkan yakin, orang-orang yang dihina-hina dan disesat-sesatkan atau bahkan dibunuhnya akan dimasukkan ke dalam neraka. Seakan-akan mereka mengatakan, “jika engkau ikut pemahaman kami, meski engkau mencaci-maki, menghina, berkata kasar dan menyakiti hati orang lain, korupsi, berbuat tidak adil, menipu, memfitnah, merampas hak hidup orang lain, bahkan bunuh diri sekalipun,  engkau dijamin pasti masuk surga.”

Hal paling sulit memang mengendalikan ego yang selalu ingin merasa bahwa diri sendiri dan kelompok kitalah yang paling baik, benar dan mulia — sumber pertengkaran sebagian besar memang berawal dari klaim, entah sadar atau tidak, bahwa ‘aku/kami lebih baik daripada engkau/kalian,’ yang pernah diucapkan oleh pembangkang Tuhan di masa azali: “ana khoirun minhu.” Karena merasa lebih baik, kita tidak ingin orang lain menjadi lebih dari kita, khawatir kebaikan menurut yang kita pahami ternyata keliru, sehingga kita enggan mendengarkan pendapat dan pemahaman yang lain yang boleh jadi menunjukkan sisi kekeliruan kita sebagai manusia yang tak pernah sempurna kebaikan dirinya. Kita lalu hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengar hingga pada akhirnya kita hanya mau mendengar diri kita sendiri, dan kita merasa hanya kitalah yang paling disayang dan dibenarkan Tuhan. Lalu doa-doa kita menjadi bengis: kita mendoakan orang lain celaka, dilaknat dan masuk neraka. Pada akhirnya karena kita tidak bisa memaksa Tuhan mengabulkan doa, kita lalu bertindak dengan keyakinan dapat memastikan orang lain masuk neraka dengan cara membunuh, atau setidaknya, menyesat-nyesatkan dan mencaci-mereka demi menunjukkan pada orang lain dan meyakinkan diri sendiri bahwa pemahaman dirinyalah yang paling benar. Sungguh aneh memang, mereka menjadi mabuk agama, dalam arti terlalu percaya bahwa dirinya sendiri yang paling suci sehingga lupa bahwa hanya Nabi yang maksum dan hanya 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Bagaimanapun juga, bagi kita yang masih memiliki hati nurani, yang masih percaya bahwa Allah selalu memberi kesempatan orang untuk berbuat baik dan kembali kepada jalan-Nya sebelum Dia sendiri yang mengambil nyawanya, kita tidak boleh menyerah untuk berusaha memperbaiki jiwa (tazkiyatun nafs), berbuat kebaikan (fastabiqul khairat) dan merawat kasih-sayang, walaupun kejahatan dan kekejaman lalu-lalang di hadapan kita. Di tengah-tengah ketidakpastian apakah kita akan benar-benar selamat di akhirat atau tidak, kita semestinya selalu bermujahadah dan berharap Allah berkenan memperbaiki akhlak kita, membersihkan jiwa-jiwa (nafs) kita, menolong kita melahirkan dalam diri kita jiwa-jiwa yang tenang, nafs al-muthmainah. Sebab jiwa-jiwa yang tenang adalah jiwa yang diridhai-Nya, sehingga memunculkan sikap kasih sayang, menghormati sesama manusia, menghormati keadilan, kejujuran dan bersikap rendah hati sebagai hamba yang tidak pernah sempurna; dan jiwa-jiwa yang muthmainnah inilah yang diseru untuk kembali ke surga-Nya dengan ridha dan diridhai.

Wa Allahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s